Percikan Iman, 31.10.2009 (Kriteria sukses dunia dan akhirat)


Dirangkum oleh Dian Frey

Sukses seseorang di dunia dapat kita lihat, tetapi sukses seseorang di akhirat tidak dapat kita lihat.Seperti yang tercantum pada  Al Baqarah ayat 1 – 5 yang berbunyi :

Alif Lam Mim

Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqin

Alladziina yu’minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mim maa razaqnyyhum yunfiquun

Wal ladziina yu’minuuny bi maa unzila ilaika wa maa unzila min qablika wa bil aakhirati hum yuuqinuun

Ulaa-ika ‘alaa hudam mir rabbihim wa ulaa-ika humul muflihuun.

(Ayat-ayat ini yang sering dibaca pada awal Ramadan atau pada waktu tahlilan setelah membaca Yasin)

Dari kelima ayat ini dapat diketahui kiat sukses. Orang yang suskses menurut Al Quran adalah – dari surat Al Baqarah ayat 3:

Pertama, Alladziina yu’minuuna bil ghaibi – orang yang percaya kepada yang ghaib. Hal-hal yang ghaib adalah hal yang tidak bisa dirasakan oleh panca-indera manusia yang hanya dapat diketahui dari Al Quran dan Sunnah Nabi. Percaya kepada hal yang ghaib:

Pertama, Percaya kepada Allah SWT Sang Pencipta

Kedua, Percaya kepada Malaikat

Ketiga, Percaya kepada Hari Kiamat

Keempat, Percaya kepada Takdir

Orang yang percaya kepada hal yang ghaib ini sudah maju selangkah kedepan untuk menjadi orang sukses di Akhirat.

Kedua, Dan orang yang sukses itu adalah orang yang mendirikan sholat, ..wa yuqiimuunash shalah..

Tidak ada artinya jika seseorang telah berhasil dengan pekerjaannya, memiliki segala kemewahan akan tetapi tidak shalat. Seperti difirmankan dalah Al Quran, Allah SWT bersabda, ‘Dirikanlah Shalat untuk mengingatku, akina shalata lil dzikri.’ Kalau seseorang sudah yakin bahwa Allah sumber segalanya yang memberikan rejeki dan segalanya, maka dia harus berterima kasih kepada Allah SWT yang Memberi. Salah satu cara yang paling tinggi berterima kasih adalah dengan Shalat.

Ketiga, Kemudian disabdakan: .. wa mim maa razaqnaahum yunfiquun. Dan orang-orang yang meng-infaq-kan sebagian rejeki atau hartanya.

Seperti diketahui bahwa Allah SWT menciptakan nabi Adam AS untuk menjadikan Kalifah diatas bumi, yang artinya Membina kehidupan di dunia  . Dalam Al Baqarah ayat 30:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku menjadikan seorang Khalifah (Nabi Adam A.S.) dimuka bumi”. Mereka (Para Malaikat) berkata,”Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) dimuka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau….”

(Ket. Red.: Hal ini sejalan dengan pendapat ahli Antropologi yang menyebutkan bahwa di dunia sudah terdapat manusia sejak satu miliun tahun yang lalu walaupun bentuknya masih belum tegak sepenuhnya dan kemampuan berbahasanya belum berkembang sempurna. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tengkorak manusia dan tulang belulang yang tersebar di beberapa tempat yang diperkirakan berumur seperempat sampai satu miliun tahun.dari M. Rifqy Zulkarnaen,Mukjizat Para Rasul) * Perbedaan manusia dan primata, kesamaan manusia dan babi

Jadi manusia yang mengemban kewajiban untuk beribadah, menjadi Khalifah yang artinya Membina Kehidupan di Dunia sesuai dengan kehendak Allah SWT adalah Nabi Adam A.S. Tujuan Allah menciptakan kita manusia sebagai Khalifah salah satunya adalah tolong-menolong, jangan seperti yang ditakutkan para malaikat dimana manusia saling memakan sesamanya saling menjatuhkan membunuh dan sebagainya. Tetapi itulah yang terjadi sekarang itu semua terjadi karena pertama tidak percaya kepada hal yang ghaib- empat hal yang telah disebut diatas. Karena empat hal inilah yang akan mengarahkan manusia menjadi baik. Jadi jika seseorang percaya kepada Allah, pada saat rejeki seret dia akan meminta kepadaNya untuk diberikan rejeki dan tidak meminta kepada dukun, peramal dan sebagainya. Jika seseorang yakin bahwa Allah yang Maha Menentukan segalanya, maka ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang dikehendaki dia tidak akan mengeluh walaupun ditimpa dengan cobaan beruntun.

Orang yang percaya kepada Malaikat seperti malaikat Raqib wa Atid – Raqib adalah yang mengamati/muraqabah dan Atid yang mencatat semua yang baik dan buruk. Seorang yang yakin bahwa ada malaikat yang memantau dan mencatat walaupun dia sendirian tidak akan berani melakukan tindakan yang tidak dikehendaki Allah SWT.

Di depan orang dia baik, dibelakang orang dia mencaci. Orang yang demikian adalah orang yang tidak percaya kepada yang ghaib.

Jadi selama kita masih hidup yakinlah kepada malaikat Raqib dan Atid yang selalu memantau dan mencatat semua perbuatan kita. Saat kita yakin sepenuhnya bahwa ada yang selalu mengamati dan mencatat selama hidup kita maka  kita akan selalu berhati-hati, seperti halnya jika masuk kesebuah supermarket yang selalu dipantau terus-menerus dengan cermin, cctv, video camera setiap gerak-gerik kita.

Percaya kepada hari Kiamat – Hari Pembalasan

Ingatlah kepada sebuah Hadits yang berbunyi “Attadruuna mal muflis..” Tahukah kamu siapa itu orang yang bangkrut? Orang yang bangkrut adalah bukan orang yang tidak memiliki uang atau kehabisan harta akan tetapi orang yang banyak amal ibadahnya di dunia tetapi juga suka menyakiti orang lain. Seseorang yang banyak beribadah, berzakat, berulang kali pergi haji dan umrah;akan tetapi disisi lain tanpa sadar suka memfitnah dengan menceritakan hal tentang orang lain yang belum tentu benar, dengki dan iri terhadap orang lain. Perasaan dengki mengikis amal ibadah di dunia. Hadits Nabi, “Iyya kummuwal hasad fa innaal hasad yakulul hasanat kama takulun naarul  hathab. – Hati-hatilah dengan perasaan dengki karena itu akan mengikis amal ibadah kamu seperti halnya api memakan kayu”. Suatu hari dalam sebuah majelis Nabi Muhammad sedang duduk dengan para sahabat beliau berkata,”Siap-siap ada ahli Surga yang masuk” Ketika hamba Allah itu masuk, kemudian Ibnu Abbas bertanya mengapa telah tiga hari berturut-turut orang ini dijuluki Ahli Surga oleh Rasul. Akhirnya Ibnu Abbas minta ijin kepada hamba  Allah itu untuk tinggal dirumahnya selama tiga hari. Akan tetapi ia tidak menemukan hal yang luar biasa dari orang tersebut kecuali menjalankan ibadah seperti biasa. Di hari terakhir beliau bertanya mengapa hamba Allah itu di cap Ahli Surga oleh Rasul. Dia menjawab, “Aku berbakti kepada orang tua dan aku tidak pernah menyimpan dengki di hati.”

Pengertian kata iri dan dengki dijelaskan di dalam bahasa Arab dalam satu kata saja ‘hasad’ . Iri, tingkatnya masih lebih rendah contohnya jika seseorang memiliki rumah yang mewah, sedangkan Dengki tingkatnya lebih tinggi dari Iri, jika seseorang iri kepada orang lain yang memiliki jabatan yang lebih bagus kemudian dia berusaha menjatuhkan kedudukan orang tersebut timbullah sikut-sikutan. Doa didalam surat  Al Falaq ayat 5:minsyari hasidin idza hasad – aku berlindung kepadaMu ya Allah dari orang yang dengki kepadaku.

Jadi percaya kepada hari Kiamat juga penting demi sukses di dunia dan akhirat. Jika orang percaya pada hari Pembalasan setelah mati, maka dia akan selalu berusaha beramal saleh dan meninggalkan yang dosa. Suatu kejadian seseorang setelah minum anggur kemudian pergi shalat dia mengatakan ‘biar balancelah’ Padahal kita tidak tahu seberapa pahalanya dan seberapa besar dosanya. Belum tentu shalat kita diterima oleh Allah. Para Imam besar seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Syafi’i hanya dapat menyusun Rukun Shalat dan syarat sahnya shalat, mereka tidak bisa menjamin diterimanya shalat seseorang. Wallahu alam, jadi jangan pernah merasa bahwa shalat kita diterima oleh Allah SWT. Sedang para Imam besar saja berkata “aku belum yakin apakah di Akhirat nanti kakiku berada di surga atau di neraka”. Itulah para Imam besar yang selalu melakukan amal kebajikan dan menghindari dosa-dosa mereka belum yakin dimana kakinya di Akhirat nanti berada. Jadi janganlah kita sebagai manusia biasa langsung mengklaim apa yang kita lakukan langsung diterima Allah SWT.

Percaya kepada Takdir.

Masalah takdir kita tidak bisa percaya begitu saja. Hal yang ghaib ini hanya bisa didapati melalui sumber yang akurat yaitu Alquran dan Hadits, karena masalah takdir ini tidak bisa dicerna oleh panca indera manusia. Melalui beberapa ayat dapat dilihat,

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati-kullu nafsin dzaikatul maut””

“Barang siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan kedalam surga sesungguhnya dialah orang yang beruntung, sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah kenikmatan sementara”

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati, Kami akan mencoba kau dengan hal-hal yang engkau sukai dan hal-hal yang tidak engkau sukai.”

Itulah janji Allah, jika kita yakin bahwa kita akan dicobai dengan hal-hal yang kita sukai dan tidak kita sukai maka konsep Percaya kepada Takdir sudah dipahami dan kita tidak akan mengeluh jika suatu saat kita dicoba oleh Allah dengan berkata seperti “mengapa ini terjadi pada diri saya”.

Tujuannya dilihat disurat Al Mulk (67:2): Alladzi khalaqal mauta wal hayaata li yabluwakum ayyukum ahsanu ´amala… – Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya… ” Jadi ketika Allah menciptakan kehidupan di dunia  adanya kehidupan dan kematian tujuannya satu adalah agar kita bertambah pahala. Orang yang sukses di akhirat  percaya kepada hal yang ghaib yakin dengan janji Allah percaya kepada takdir Quran dan Hadits maka ia tidak akan pernah mengeluh kepada Allah SWT. Nabi bersabda “ ‘ajabban li amril mukmin – sungguh menakjubkan sekali orang yang beriman” Yang dimaksud beriman adalah beriman kepada empat hal yang disebutkan diatas. Setiap takdir yang ditentukan Allah hasilnya pahala. Setiap ditimpa musibah dia bersabar, saat diberi rejeki diberi kenikmatan dia bersyukur. Dia berbagi rejeki menolong orang lain sebagai ungkapan rasa syukurnya, maka ia mendapat pahala dari Allah.

Dalam berdoa, dia telah berdoa terus menerus siang malam hingga keningnya hitam karena kebanyakan bersujud tapi masih belum dikabulkan juga oleh Allah malah dia mengeluh mengapa doanya belum terwujud juga. Jika seseorang telah bosan berdoa dari pada mengeluh lebih baik berhenti berdoa. Seperti dikatakan sebuah Hadits,”Innallaha laa ya maluu hattaa tamaluu – Allah tidak akan bosan mendengar doamu sampai engkau sendiri yang bosan berdoa kepadaNya”.Jadi jika hendak berdoa janganlah pernah bosan untuk berdoa walau dalam keadaan apapun terserah dengan hasil yang seperti apa. Karena yang dinilai oleh Allah adalah usaha dari kita berdoa. Seseorang yang pembosan dalam berdoa, jika belum dikabulkan dia mengeluh kurang apa dia dalam berdoa, jika telah dikabulkan maka dia berhenti berdoa. Lain jika seseorang yang suka berdoa, setelah satu doanya dikabulkan maka dia akan berdoa lagi untuk hajat yang lain. Dalam surat Al baqarah (2:186): Wa idzaa saalaka ‘ibaadi ‘annii fa innii qariibun ujiibu da’watad daa’i idzaa…. – Dan apabila ada hambaKu yang bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, jawablah, sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa kepadaKu dan beriman kepadaKu supaya mereka memperoleh petunjuk.

Bahaya ghibah, adalah jika si A bercerita kepada B tentang C. Si B yang tadinya tidak kenal dengan C kemudian berjumpa dengan C langsung memiliki prasangka mengenai si C. Disini hati si B sudah terkotori dan hati yang terkotori itu sudah menjadi dosa.

Dalam surat Dhuhaa (93:3):Ma wadda’aka rabbuka wa maa qalaa..- Tuhanmu tidak akan pernah menelantarkan kamu. Yakinlah akan janji Allah ini. Kalau kita yakin akan janji Allah ini maka kita tidak akan ditelantarkan. Hanya saja harus dilihat mana yalng lebih banyak dikerjakan apakah pekerjaan dunia dengan hasil dunia atau pekerjaan akhirat dengan hasil akhirat. Yang adanya malah pekerjaan akhirat mengharapkan dunia. Jadi dia giat shalat Dhuha mengharapkan datangnya rejeki tetapi tidak dapat juga karena kurang usaha dunianya. Boleh shalat Dhuha tapi niatkan untuk mendapatkan ganjaran di akhirat. Kebanyakan orang berpikir untuk apa bershalat, karena disinipun (Swiss) orang non Muslim tidak shalat mereka kaya-kaya. Karena mereka melihat shalat itu tidak membawa manfaat materi, tidak bisa memberi rumah besar, mobil mewah dst.

Dalam konsep Islam seperti didalam surat Dhuha ayat 3 tersebut diatas bahwa Allah tidak akan menelantarkan kamu. Setiap usaha yang kamu lakukan pasti ada ganjarannya. Bedanya shalat itu usaha untuk akhirat bukan sebagai patokan untuk menjadi kaya atau sukses di dunia. Jadi usaha dunia ganjarannya dunia, usaha akhirat ganjarannya akhirat. Jadi orang ingin sukses dunia dan akhirat banyak usaha dunianya maupun akhirat.

Kata Rasulullah bahwa pahala seorang isteri ada dua, karena dia bekerja untuk Tuhannya untuk tuannya (suaminya). Sebagai tanda orang beriman adalah dengan mendirikan shalat, berinfaq/zakat.

Al Baqarah ayat 4: Wal ladziina yu’minuuna bi maa unzila ilaika wa maa unzila min qablika wa bil aakhirati hum yuuqinuun-dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan  (Al Quran) kepadamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan sebelummu (Taurat, Zabur dan Injil) serta mereka yakin akan adanya akhirat. Tidak sempurna iman seorang Muslim jika tidak beriman kepada ajaran nabi Isa A.S., nabi Musa A.S., Ibrahim A.S. dan nabi-nabi sebelumnya. Dimaksud iman kepada kita suci yang lain yang diturunkan oleh Allah sebelum diubah oleh manusia.

Inti ajaran yang diberikan kepada nabi Ibrahim A.S. yang selalu kita ucapkan di awal shalat kita: Inna shalati wanusuki wa mah yahya wa ma maati lillahi robbil alamin. Laa syarika lahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin”- Sesungguhnya shalatku,  ibadahku, hidupku, matiku adalah milik Allah SWT….      Inilah inti ajaran agama Islam yang diajarkan kepada nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang lain. Jadi jika ada orang tua yang sakit , diri atau anak yang sakit atau ada yang meninggal janganlah terlalu bersedih. Sedih adalah wajar hal yang manusiawi. Sedangkan Rasul saja ketika anaknya Ibrahim meninggal beliau menangis, tetapi kita tidak boleh meratap dan mengeluh seperti “mengapa dia , mengapa tidak aku saja yang mati..” Lebih baik mendoakan seperti “Ya Allah berikanlah yang terbaik jika kehidupan itu baik buat dia hidupkanlah, jika kematian itu baik buat dia matikanlah” Karena tujuan Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian adalah mengumpulkan pahala. Hidup panjang tapi selalu berdosa juga tidak ada gunanya. Konsep manusia hidup di dunia adalah untuk bersenang-senang sedangkan konsep dalam Al Quran tertulis di surat Al Mulk ayat 2: …Liyaabluwakum…..- Siapa diantara kamu yang paling banyak amalnya.

Dalam sebuah Hadits Rasul berdoa: “Ya Allah perbaikilah agama kami karena agama itulah pegangan hidup kami. Ya Allah perbaikilah kehidupan kami di dunia, karena di dunia itulah kami hidup untuk mendapatkan pahala. Ya Allah perbaikilah kehidupan kami di akhirat, karena ke akhiratlah kami akan kembali. Jadikanlah kehidupan itu sumber kebaikan bagi kami. Jadikanlah kematian itu istirahat kami dari berbuat kejahatan”. Kalau kita sudah memiliki keyakinan seperti ini, kita tidak perlu mengharapkan hidup panjang. Boleh hidup panjang jika yakin bisa terus berbuat amal, tapi kalau tidak, lebih baik mati walaupun Rasul mengharamkan seorang Muslim minta mati. Jadi jangankan suntik mati, doa minta mati saja diharamkan. Jika seseorang sakit seberat itu penderitaannya seberat itu juga dosanya dihapuskan karena sakit atau musibah itu penghapus dosa. Doa minta mati itu dilarang, minta panjang umurpun tidak boleh. Seseorang yang berumur panjang tetapi pikun atau sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, juga tidak membawa manfaat.

Sebuah doa yang baik (dari Hadits shahih) dibacakan pada ulang tahun seperti, “Allahumma inna nas aluka salamatan fid diin wa aafiyyatan fil jasad waasiyatan fil ail wa barakatan fil rizk wa taubatan qaublal maut wa rahmatan naidal maut wa marghfiatan ba’dalmaut.Allahumma hauwin alaina fi wa jannatan minanaar wal afwa indal hisaab - Ya Allah kemohon kepadamu selamat agama, badan yang sehat bertambah ilmu, berkah rizkinya bisa taubat sebelum mati mendapat rahmat kasih sayang saat mati mendapat ampunan setelah mati. Ya Allah mudahkanlah kamu dalam menjalankan sakratul maut dan selamat dari api neraka dan mendapat ampunan saat dihitung.

Kalau agama tidak selamat keyakinan kita jadi salah, seperti menteror non Muslim, tambah umur tetapi ilmunya tetap saja padahal Rasullah bersabda, uthlubil ‚ilma minal mahdi illal lahad - tuntutla ilmu dari ayunan sampai ke liang kubur. Tidak perlu banyak akan tetapi berkah rejekinya, Alhamdulillah kalau juga banyak rejekinya. Tapi kalau banyak rejekinya tapi tidak berkah rugilah, banyak barang tidak dipakai lalu dibuang lalu bali yang baru. Dapat bertaubat sebelum mati, kasih sayang waktu mati, diselamtkan dari api neraka. Karena setiap orang yang mengatakan “Laa ilah ha ilallah” pasti masuk surga tetapi belum tentu terhindar dari api neraka.

Al Baqarah ayat 5: Ulla-ika ‘alaa hudam mir rabbihim wa ulaa-ika humul muflihuun-Mereka itulah orang yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

*Perbedaan manusia dengan primata persamaan manusia dan babi

Melalui penelitian para ilmuwan ternyata DNA kera, gorilla yang bentuknya paling mirip dengan manusia ternyata sangat jauh berbeda. Yang paling dekat DNAnya dengan manusia justru hewan babi 98% dari phisiologinya seperti jantung, hati, ginjal, kulit, dan dagingnya paling mirip bentuknya dengan manusia. Karena itulah rahasianya kenapa kita dilarang makan babi karena itu seperti manusia makan manusia Wallahualam, karena itu mungkin hikmahnya Allah mengharamkan babi.

Penyampai materi : Bpk. Desrial Anwar
Tempat : Freizeitanlage, Kanzleistrasse, Kanzleistrasse 24, 8405 Winterthur

Previous Articles

Percikan Iman, 30.05.2009 (Sabar dan tawakal)


Percikan Iman, 29.03.2009 (Rahmatal lil ‘aalamiin)


Undangan Percikan Iman 26 September 2009


Puasa 17 Jam di Rusia


Tambahan Materi Tata Cara Pengurusan Jenazah


Undangan Percikan Iman, 30.05.2009


Percikan Iman, 23.11.2008 (Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah)


Percikan Iman, 24 Agustus 2008 (Iman, Islam, Ihsan)


Percikan Iman, 21 September 2008; Taskiyatun nafs (Pensucian Jiwa)


Selamat datang di situs Pengajian Indonesia di Swiss

Situs ini dirancang untuk menyambung silaturahmi antara grup-grup pengajian masyarakat Indonesia di Swiss.