Percikan Iman, 27.05.2007 (Tujuan Hidup dan Cara Menjaga Kestabilannya)
Tema : Tujuan Hidup dan Cara Menjaga Kestabilannya
Tujuan hidup kita seperti yang Allah katakan : „Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku“ Dari pengertian tersebut bahwa 24 jam/hari yang Allah berikan kepada kita maka 24 jam itulah seharusnya kita beribadah. Tetapi apabila kita bandingkan dengan kewajiban shalat 5 waktu yang hanya memakan waktu ± 25 menit, sangatlah tidak berimbang.
Ibadah dalam pandangan Islam ada 2 macam, yaitu :
1. Ibadah Makhdah
yaitu ibadah-ibadah ritual yang tidak boleh ditambah dan dikurangi yang datangnya dari Allah melalui Rasulnya Muhammad SAW.
Contoh : Shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, zakat fitrah & maal bagi yang mampu, haji
2. Ibadah Lain
Contoh ibadah lain dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan : „Menyingkirkan duri dari jalanan itu merupakan shadaqah“
Apabila bertemu dengan saudaramu, temanmu dengan wajah yang ceria itu juga merupakan ibadah, bersikap jujur, baik terhadap orang lain, memaafkan orang lain, berbakti kepada orang tua, menjaga kebersihan dll.
Dari waktu 24 jam/hari yang kita peroleh dari Allah, didalamnya harus kita gunakan untuk ibadah Makhdah dan sisanya adalah untuk ibadah lainnya. Dengan demikian kita dapat mengaplikasikan tujuan hidup kita seperti yang ditetapkan Allah.
Seharusnya setiap hari mulai bangun tidur sampai kita menjelang tidur kembali, senantiasa berupaya untuk berfikir dimulai dengan apa yang akan dilakukan sampai apa yang telah kita lakukan, sehingga kita menjalani hidup yang Allah berikan ini tidak akan sia-sia.
Unsur-unsur agar kita kembali mengingat dan menjalani hidup dengan penuh keimanan :
1) Mu’ahadah yaitu mengingat perjanjian kita dengan Allah.
Dalam perjalanan hidupnya, manusia mengalami hidup 2 kali bisa 3 kali dan mati 2 kali.
Mati pertama kali : berdasarkan surat Ali Imran : 26-27 bahwa kita pada dasarnya sebelum dilahirkan oleh orang tua kita, berada dalam alam ruh. Di alam ini kita tidak sadar dan saat itu Allah bertanya dan mengambil janji kepada kita semua. Kata Allah „Alastu birabbikum“ yang artinya „bukankah Aku ini Tuhanmu?“ lantas jawaban kita „Qalu bala“ yang artinya „ya Engkau adalah Tuhan kami“. Itulah perjanjian kita dengan Allah.
Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa setelah kematian pertama, kita mengalami hidup yang pertama yaitu kehidupan di dunia ini.
Dalam kehidupan ini Allah membekali manusia 2 unsur, yaitu :
a. Akal, unsur ini sama persis dengan akal yang dimiliki oleh malaikat
b. Nafsu, unsur ini sama persis dengan nafsu yang dimiliki oleh jin.
Kedua unsur ini tidak dimiliki oleh makhluk Allah lainnya kecuali manusia. Oleh karena itu manusia yang lebih menggunakan akal daripada nafsunya maka manusia itu lebih mulia daripada malaikat, sedangkan manusia yang lebih menggunakan nafsunya maka manusia itu lebih hina daripada hewan.
Saat iman kita lemah ingatlah bahwa kita pernah berjanji kepada Allah, sehingga akan membangkitkan kembali keimanan kita
2) Muhasabah artinya introspeksi / selalu melihat diri kita sendiri
Saat melihat kekurangan orang lain cepat melihat diri kita sendiri. Lebih baik memperbaiki/ menyempurnakan diri kita sendiri daripada menceritakan kekurangan orang lain. Apabila kita melakukan hal itu maka akan kita rasakan manfaat muhasabah yaitu kita tidak akan menjadi duri dalam masyarakat dan kita akan selalu memperbaiki & mawas diri terhadap perbuatan-perbuatan buruk. Umar bin Khatab pernah mengatakan „Hitunglah/introspeksilah dirimu sendiri sebelum engkau dinilai oleh Allah“.
Berkaitan dengan konteks itu, selama kita menjalani kehidupan pertama di dunia ini merupakan kesempatan untuk menambah pahala dan mengurangi perbuatan dosa.
Kematian kedua adalah pada saat manusia meninggal dunia, bersamaan dengan ini mulailah kehidupan kedua yang merupakan transit sebelum kita menerima ganjaran dari amal perbuatan kita di kehidupan pertama.
Perbedaan antara kehidupan pertama dan kedua adalah dalam kehidupan pertama kita bisa mengubah amal perbuatan kita tetapi pada kehidupan kedua sudah tidak bisa mengubah lagi.
Kehidupan ketiga itu ada hanya bagi orang-orang yang shaleh yang mempunyai banyak amalan baik dan akan hidup kekal di surga. Sedangkan bagi orang yang tidak memiliki amalan shaleh maka tidak akan mengalami hidup ketiga dan mereka itu tidak hidup dan tidak mati di dalam api neraka.
3) Mu’aqabah artinya memberikan hukuman pada diri sendiri untuk meningkatkan keimanan atas kelalaian diri.
Hukuman yang dilakukan hanya untuk perbuatan yang bersifat mubah yaitu yang diperbolehkan dalam agama tidak boleh untuk perbuatan yang diharamkan agama.
Contoh yang mubah :
Kita merasa shalat wajib dilaksanakan pada akhir waktu, maka hukumlah diri dengan meningkatkan shalat sunat atau memperbanyak infaq.
Contoh yang haram :
Tanpa sengaja kita terminum minuman yang mengandung alkohol, kemudian kita menghukum diri untuk tidak makan & minum dalam satu tahun.
4) Mujahadah artinya berjuang / mengoptimalisasikan kemampuan diri.
Setelah perang Badar ada sahabat yang bertanya kepada Rasul : „Ya Rasul apakah ada perang yang lebih hebat dari perang Badar?“ Rasul menjawab „ada“ apa itu yan Rasul tanya sahabat lagi „Jihad melawan hawa nafsu“ jawab Rasul.
Perang melawan hawa nafsu itu sangat berat karena musuhnya adalah diri kita sendiri. Sebagai akibat apabila kita kalah melawan hawa nafsu sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Araaf ayat 179 : „Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Ke-empat hal tersebut di atas harus kita ingat dan jaga sehingga keimanan kita dalam keadaan apapun bisa tetap stabil.
Tanya – Jawab :
Tanya : Bagaimana menjaga keimanan tetap stabil, supaya kita bisa memberi contoh kepada suami ?
Jawab : Cara menjaga kestabilan beribadah yaitu dengan :
a) Mu’ahadah yaitu perjanjian dengan Allah yang harus kita tepati
b) Mujahadah yaitu berjuang memerangi hawa nafsu
Tanya : Bagaimana menerangkan tentang larangan memakan babi kepada anak kita yang masih kecil?
Jawab : Untuk saat ini cukup disampaikan bahwa babi itu tidak sehat karena makan dan cara hidupnya juga tidak sehat.
Tambahan Materi
Banyak produk yang ternyata mengandung unsur yang berasal dari babi, misalnya : Gelatine, kosmetik dll. Apabila ada bahan atau unsur dari yang diharamkan agama terambil/termakan kita karena tidak tahu maka ketidaktahuan kita dimaafkan, tetapi ke depannya kita harus lebih hati-hati.Mengenai hewan yang haram itu najis atau tidak, pendapat ulama berbeda-beda. Artinya ada yang menyatakan bahwa menggunakan pakaian atau tas yang bahannya berasal dari hewan yang diharamkan itu tidak apa-apa, tapi ada juga yang menyatakan najis atau bahkan sama haram seperti mengkonsumsinya. Begitu pula halnya dengan Khamar. Khamar ini tidak hanya sebatas Anggur, Wein atau Bier tetapi segala macam bentuk yang membuat otak kita tertutup atau tidak dapat berfikir dengan baik itu diharamkan termasuk di dalamnya ganja, morfin dll.
Mengenai parfum beralkohol, itu kasusnya sama dengan menggunakan pakaian atau asesoris yang terbuat dari hewan yang diharamkan, ulama berbeda pendapat, mana yang lebih benar wallahu’alam. Pernah ada yang bertanya kepada Rasul „Ya Rasul apa itu pahala dan apa itu dosa?“ Rasul hanya menjawab tentang dosa „Dosa adalah perbuatan yang engkau ragu-ragu melakukannya dan perbuatannya itu tidak mau diketahui oleh orang lain“ Sehingga perbuatan diluar definisi dosa adalah pahala.
Berdasarkan konteks di atas, apabila kita ragu-ragu terhadap sesuatu yang diperselisihkan lebih baik kita tinggalkan.
Tanya : Seperti kita ketahui bahwa memakan darah itu haram, tapi bagaimana kalau digunakan untuk obat?
Jawab : Masalah darah untuk obat kalau kita bertanya kepada orang yang ahlinya belum ada yang dapat menyatakan bahwa darah yang langsung bisa dijadikan obat, karena unsur yang terdapat dalam darah itu tidak sehat.
Tanya : Bagaimana apabila kita setelah berwudhu menggunakan parfum beralkohol mengingat bahwa wangi-wangian itu sunnah ?
Jawab : Tentang alkohol ini apabila dikonsumsi dan menyebabkan otak kita tertutup/tidak dapat berfikir dengan baik maka itu diharamkan tapi apabila tidak berakibat seperti itu, maka diperbolehkan, hanya belum semua ulama sepakat tentang ini.Betul mengenai wangi-wangian itu sunnah, hanya hal ini ditujukan khususnya kepada kaum laki-laki. Pada dasarnya Islam itu tidak mempersulit hanya kita harus iqra, memahami dan menyelami lebih dalam.
Tanya : Kenapa Allah menghalalkan perceraian ?
Jawab : Karena pada saat menciptakan manusia laki-laki dan perempuan Allah mengetahui bahwa ada watak-watak yang tidak dapat disatukan, sehingga apabila dipaksakan untuk bersatu maka untuk pasangan tersebut akan merasakan neraka di dunia, oleh karena itu perceraian itu dihalalkan tetapi merupakan perbuatan yang paling dibenci Allah. Dalam masalah ini Allah memberi batas-batas juga cara-cara menanggulanginya dan perceraian merupakan penyelesaian yang terakhir.
Tanya : Bagaimana memotivasi/menjaga keutuhan keluarga apabila kondisi pekerjaan suami mengharuskan berpisah dengan keluarga ?
Jawab : Kalau memang kita mempunyai tujuan yang baik, apalagi dalam menjalani pilihan yang kita dapatkan melalui shalat istikharah, insya Allah itu merupakan pilihan terbaik bagi kita menurut Allah sehingga dalam menjalaninyapun keluarga kita akan selalu terjaga.
Tanya : Bagaimana kita menyikapi mertua (non muslim) yang karena tidak menyetujui keputusan suami untuk bekerja jauh dari keluarga lalu memutuskan hubungan kekeluargaan ?
Jawab : Seperti yang terdapat dalam ayat Allah, bahwa kita harus berbakti kepada orang tua, atas dasar ini kita tetap mengambil pendapat dari mertua kita tentunya dengan mengetahui apa dasar dan alasannya.
Tanya : Terdapat dalam Al-Qur’an surat apa yang mendasari bahwa seseorang harus mengoptimalkan usahanya untuk kehidupan di dunia dan di akhirat ?
Jawab : Dalam surat Al-Qhashash : 77 yang artinya „Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.“
Hari Minggu, 27 Mei 2007
Pk. 11:30 – 16:30
Roosstrasse 52a, Regensdorf (keluarga Zollinger)
Penyampai Materi : Desrial Anwar (bang Aal)




Ass.WrWb,
membaca artikel2 yg ada, seakan memuaskan dahaga sy yang haus ttg islam,smoga sy bisa kembali meningkatkan keimanan n keislamam sy, krn itu sy menyambut baik akn hadirnya site ini, smoga Allah SWT melipat gandakan pahala kpada rekan2 smua yg ats sgala usaha n upaya mewujudkan site ini. Wass.