Percikan Iman, 09.06.2007 (Membelanjakan Harta di Jalan Allah)


Bahasan Surat Al-Baqarah ayat 261 – 271  

Ayat 261 yang artinya : „Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta bendanya di jalan Allah adalah laksana menanam sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir tumbuh seratus biji.“ Dari pangkal ayat dijelaskan bahwa membelanjakan harta di jalan Allah tidaklah merugikan melainkan sangat menguntungkan, karena „Allah melipatgandakan (ganjaran) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas kurnianya (Waasi’) lagi maha Mengetahui (´Aliim).“

Yang dapat mengenal dan menyadari hal ini tentu saja orang yang beriman, Sedangkan orang yang mementingkan diri sendiri dan diperbudak harta akan merasa berat membelanjakan hartanya di jalan Allah, padahal Allah akan melipatgandakan hartanya kepada siapa yang dikehendakiNya, yaitu orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah dengan ikhlas, bukan riya dan bukan karena terpaksa. Maka orang ini akan menerima keuntungan dunia dan akhirat secara berlipat ganda. Membelanjakan harta di jalan Allah (fiisabiilillaah) bukan hanya dalam bentuk zakat, sedekah atau mengisi kotak amal saja, melainkan semua yang dikeluarkan dengan tujuan baik dan berdasarkan karena Allah semata (lillaahita’ala).

Ayat 262 yang artinya : “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.“

Dalam ayat ini dijelaskan tentang adab sopan santun dalam membelanjakan harta di jalan Allah, yaitu tidak mengungkit-ngungkit  dan tidak menyakiti perasaan si penerima. Dan bagi yang melakukannya dengan tulus hati maka Allah memberikan jaminan yaitu akan terhindar dari rasa khawatir akan miskin karena Allah senantiasa melipatgandakan apa yang diberikannya dan tidak akan merasa sedih karena kekurangan atau kehilangan dan hatinya senantiasa lapang dan fikirannya terbuka.

Ayat 263 yang artinya :„Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyatun.“

Disini ditekankan bahwa budi bahasa, perkataan yang baik, yang patut, yang sopan, yang mengobati hati akan lebih berkesan ke dalam hati daripada pemberian yang disertai dengan perkataan yang menyakitkan yang juga menyebabkan gugurnya pahala kita.

Ayat 264 yang artinya :„Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.“

Kembali diingatkan bahwa janganlah kita menggugurkan pahala-pahala yang diperoleh hanya karena mengungkit dan menyakiti hati si penerima sedekah. Selain itu pemberian yang diiringi oleh rasa riya/pamer semata hanya akan membuat kita mengingkari nilai kebaikan kita sendiri. Sebagaimana perumpamaan tanah/debu yang berada di atas batu licin yang hanya bisa singgah saja dan tidak bisa merekat/berakar pada batu licin tersebut, karena begitu terkena air maka akan disapu habis. Begitulah perumpamaan pahala yang habis akibat mengungkit/menyakiti hati maupun riya dalam beramal. Bagi orang tersebut bukan pahala yang didapat dari Allah melainkan hanya pujian manusia saja.

Ayat 265 yang artinya :„Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.“

Orang yang membelanjakan hartanya dengan ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah semata karena sadar bahwa harta itu hanya titipan dari Allah untuk menyalurkan kepada hamba Allah yang membutuhkannya. Setiap memberi maka semakin terbuka fikirannya dan tidak pernah merasa bahwa dengan banyak memberi dia menjadi rugi. Oleh karena itu apabila diumpamakan sebagai kebun maka Allah yang Maha Melihat akan memelihara kebun jiwa kita senantiasa subur.

Ayat 266 yang artinya :„Apakah ada salah seorang diantaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.“

Dalam ayat ini Allah menghendaki amal baik kita jangan berhenti sampai kita saja. Anak-anak kita juga harus diajarkan apa yang terbaik, sehingga apabila kita seperti apa yang tercantum dalam ayat 265 di atas anak keturunan kita juga harus mendapatkan pengertian dan pemahaman yang sama, sehingga taman/kebun yang kita miliki sebagaimana perumpamaan pada ayat sebelumnya betul-betul menjadi tambah luas, tambah subur dan tambah bagus, dan tidak hancur pada saat kita sudah meninggal. Dengan demikian kenikmatan kita akan dirasakan dan diteruskan oleh keturunan kita.

Ayat 267 yang artinya :„Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambil melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.“

Inti ayat ini adalah apabila kita memberi, berilah yang terbaik jangan memberi yang bagi kita sendiri juga sudah tidak menyukainya. Kalau kita benar-benar menggantungkan kepada Allah pada saat memberi infaq, Allah yang Maha Kaya tidak akan pernah membuat kita miskin dan akan mulia di mata Allah dan manusia.

Ayat 268 yang artinya :„Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunianya) lagi Maha Mengetahui.“

Ayat ini menunjukkan perjuangan batin orang yang berinfaq dengan berbagai bisikan. Tetapi bagi orang yang beriman tentu akan cepat sadar sehingga tidak mengikuti bisikannya dan ini akan menaikkan derajat keimanan kita.

Ayat 269 yang artinya :„Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang.orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).“

Hikmah adalah kekayaan yang paling tinggi yang diberikan Allah kepada hambaNya. Bagi orang yang mendapatkan hikmah, maka dia telah mendapatkan seluruh yang ada di dunia ini dan dalam kondisi apapun dia akan selalu tenang dan senang sehingga terhindar dari segala penyakit hati. Apabila disakiti orang maka cepat introspeksi diri dan apabila mendapat kesenangan senantiasa bersyukur. Orang yang menyakiti orang lain akan mendapatkan beban dosa sebesar rasa sakit orang yang disakitinya dan orang ini termasuk orang yang tidak mendapatkan hikmah yang dapat menyengsarakan hamba Allah yang lain.

Ayat 270 yang artinya :„Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya.“

Setiap pembelanjaan kita baik yang dikeluarkan secara ikhlas atau tidak maupun janji-janji kita kepada Allah baik yang dipenuhi maupun tidak, semua itu diketahui Allah dan tidak ada yang dapat menolong dari siksa Allah SWT.

Ayat 271 yang artinya :„Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan  jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.“

Menampakkan sedekah dengan maksud supaya menarik derma dari yang lain itu baik tapi hal ini dikhawatirkan akan menjadi riya karena batasnya yang sangat tipis. Oleh karena itu lebih baik apabila disembunyikan sehingga akan terhindar dari riya.

Tambahan Materi :

  1. Mengenai SMS/email berantai baik tentang Asmaul Husna, ayat-ayat Qur’an atau hal lainnya yang isinya mengingatkan kita kepada Allah, selama pesan itu baik bisa kita sampaikan kepada teman yang lain dengan niat untuk meneruskan pesan baik tersebut, tetapi bukan karena merasa terancam oleh adanya tambahan di belakang pesan tersebut yang nadanya seperti menakuti/mengancam kita dengan kata-kata yang tidak benar.Ada hadist yang mengatakan : „Jagalah/peliharalah Allah, Allah akan memeliharamu. Jagalah/peliharalah Allah, Allah akan selalu berada dimanapun kamu membutuhkan.“Adapun cara menjaga Allah yaitu dengan melakukan semampu kita apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan semampu kita apa yang dilarangNya.
  2. Di akhirat nanti ada orang yang bangkrut, yaitu orang yang asalnya mempunyai banyak pahala, banyak perbuatan baiknya tapi dia juga menyakitkan hati orang lain. Pada saat di hisab (perhitungan kepada Allah dan sesama manusia), hisab terhadap sesama manusia selama masih terikat dengan dosa dan kesalahan terhadap orang lain, maka itu tidak akan terhapus bahkan Rasul SAW bersabda „Orang yang mati syahid betul-betul berjuang di jalan Allah /mati terbunuh karena membela agama Allah, dosanya diampuni kecuali hutangnya.“Oleh karena itu kita harus hati-hati jangan sampai menyakiti orang lain, karena akan mengurangi pahala dan amal perbuatan baik kita. Apabila kita khilaf dan menyinggung perasaan orang lain cepatlah minta maaf kepada yang bersangkutan dan jangan mengulanginya lagi.

Hari Sabtu, 9 Juni 2007

Pk. 12:00 – 17:00

Zollstrasse 77, Neuhausen (keluarga Dotzler)

Penyampai Materi : Desrial Anwar (bang Aal)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!