Percikan Iman, 24.06.2007 (Bahasan Adh-Dhuhaa, At-Takaatsur, ’Abasa)
Bahasan Adh-Dhuhaa (Waktu dhuha)
Shalat Dhuha ini biasanya dikaitkan dengan permohonan rejeki kepada Allah SWT dan waktunya pada saat manusia berusaha untuk mencari rejeki.
Ayat 1 : Wadhdhuhaa.“Demi waktu dhuha“.
Ayat 2 : Wallaili idzaa sajaa.“dan saat malam mulai menutup/gelap“.
Waktu normal bagi manusia untuk bekerja/mencari rejeki adalah mulai dari matahari menyengat kulit sampai menjelang malam hari, melewati waktu itu sudah tidak sehat lagi untuk mencari nafkah. Di ayat lain Allah mengatakan bahwa „Kami jadikan malam itu tempat istirahat, kami jadikan siang tempat berusaha“. Oleh karena itu orang yang ingin meminta rejeki kepada Allah SWT, carilah pada waktu mulai adh dhuha sampai allaili idzaa sajaa.
Ayat 3 : Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa.“Tuhanmu tidak pernah sekali-kali menelantarkanmu dan membiarkanmu.“
Adanya orang yang miskin atau yang kaya, itu semuanya merupakan cobaan, merupakan taqdir. Karena sesungguhnya bagi yang miskin seharusnya mendapat hak dari yang kaya, bagi yang kaya berkewajiban untuk berbagi kepada yang miskin. Apabila kedua belah pihak sadar, maka akan terjalin hubungan yang harmonis bukannya ketimpangan yang ada seperti saat ini.
Ayat 4 : Walal aakhiratu khairullaka minal uulaa. „Tapi ingatlah kehidupan akhirat itu lebih baik dari kehidupan yang pertama (kehidupan di dunia)“.
Apabila manusia menyadari bahwa manusia hidup 2 kali bisa 3 kali dan mati 2 kali, maka mereka akan memanfaatkan kehidupan pertama di dunia ini yang sangat singkat, karena pada kehidupan pertama inilah kita dapat menambah perbuatan baik kita sebagai bekal kehidupan berikutnya.
Ayat 5 : Walasaufa yu’tiika rabbuka fatardhaa. „Tuhanmu akan memberikan sesuatu kepadamu yang engkau suka/ridha“.
Allah itu akan memberikan sesuatu sesuai dengan usaha kita. Apabila kita berusaha hanya untuk keduniaan, maka kita hanya akan mendapatkan dunia saja dan apabila kita berusaha untuk akhirat maka kita akan mendapatkan akhiratnya. Jangan dinilai terbalik apa yang dikerjakan untuk akhirat dinilai dengan keuntungan dunia.
Ayat 6 : Alam yajidka yatiiman fa aawaa.“Tidakkah Dia menemukanmu dalam keadaan yatim, lalu Dia melindungimu?“
Kita semua pada dasarnya bukan milik orang tua kita, melainkan milik Allah SWT. Begitupun anak-anak kita hanya merupakan titipan saja, oleh karena itu setiap ada yang meninggal kita mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun. Konsep sukses dalam Islam adalah bukan menjadi dokter, direktur, insinyur dll melainkan kesuksesan di akhirat kelak. Perantara Allah yang melindungi anak-anak manusia adalah orang tua kita, oleh karena itu kita diwajibkan untuk menghormati dan berbakti kepada mereka. Apabila orang tua sudah tidak sayang kepada anaknya walaupun ini jarang terjadi atau anak tidak menghormati orang tua (hal ini banyak terjadi), maka kehidupan di dunia sudah tidak bahagia.
Ayat 7 : Wawajadaka dhaalan fahadaa. „Dan Dia menemukanmu dalam keadaan sesat, lalu Dia beri petunjuk“.
Ayat 8 : Wawajadaka ’aa ilan fa agnaa. „Dan didapatiNya engkau dalam keadaan miskin, lalu diberikan kekayaan“.
Awalnya kita tidak memiliki apa-apa, kemudian kita dibekali pendidikan oleh orang tua lalu melalui pekerjaan yang diperoleh/melalui suami kita diberi Allah kekayaan yang merupakan titipan. Oleh karena itu kekayaan yang merupakan titipan Allah itu seyogianya dibelanjakan secara benar di jalan Allah.
Ayat 9 : Fa ammal yatiima falaa taqhar. „Makanya jangan sekali-kali menelantarkan anak yatim“.
Kepada anak yatim hendaklah kita tanamkan rasa kasih sayang, perlindungan dan jangan bersikap keras dan jangan memandang hina mereka.
Ayat 10 : Wa ammassaa ila falaa tanhar.“Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya“.
Apabila ada orang datang meminta pertolongan atau bantuan jangan disambut dengan sifat angkuh dan menghardik.
Ayat 11 : Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddist. „Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah menyebut-nyebut (dengan bersyukur)“.
Syukurilah nikmat Allah yang telah engkau terima, dengan mengungkapkannya dan di dermakan. Mengungkapkan nikmat itu misalnya : mengajak orang lain untuk merasakan kenikmatan Allah yang diberikan kepada kita. Apabila kita ingin memiliki pakaian atau barang yang bagus sebagai ungkapan atas nikmat Allah, hal ini tidak dilarang selama tidak ada unsur riya atau sombong. Tetapi bagi orang yang riya/sombong sesuai hadist Rasulullah SAW „tidak akan masuk syurga orang yang ada sekecil biji sawi kesombongan dalam hatinya“. Sombong itu adalah menolak kebenaran, meremehkan orang lain.
Bahasan surat At-Takaatsur (Bermegah-megahan)
Ayat 1 : Alhaakumut takaatsur. „Harta yang melimpah ruah itu pasti akan mencelakakan kamu“.
Dengan kemegahan harta benda orang bisa menjadi terperdaya, lalai akan perintah Allah dan lupa terhadap hubungan dengan Allah pencipta seluruh alam. Dalam ayat lain Allah mengatakan bahwa sesungguhnya semua makhluk yang bernyawa akan mati dan Kami menguji manusia dengan dua ujian yaitu ujian yang bagus-bagus (misalnya kenikmatan, kekayaan, kecantikan, kesehatan dll) dan dengan keburukan-keburukan (misalnya kemiskinan, wajah yang buruk dll.)
Ayat 2 : Hattaa zurtumul maqaabir. „Sampai kamu masuk ke dalam kubur“.
Banyak orang yang selama kehidupan di dunia disibukkan dengan harta, dengan pangkat, jabatan sehingga menggunakan umur secara sia-sia dan melupakan Allah yang merupakan sumber dari segala kehidupan.
Ayat 3 : Kallaa saufa ta’lamuun. „Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)“.
Janganlah memburu harta yang melimpah, pangkat yang tinggi, jabatan yang tinggi dan segala kenikmatan lainnya karena hal itu bukanlah perbuatan benar yang akan membawa selamat. Kelak akan diketahui sendiri akibat perbuatan seperti itu tidak ada faedahnya.
Ayat 4 : Tsumma kallaa saufa ta’lamuun. „kemudian janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui“.
Kemudian ditekankan lagi larangan untuk bermegah-megahan dengan harta dunia yang hanya percuma saja, dan di akhirat tidak akan menolong.
Ayat 5 : Kallaa lau ta’lamuuna ’ilmal yaqiin. „Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin“.
Diulang lagi bahwa janganlah memburu-buru harta, dan seandainya kamu mengetahui dengan yakin dan mendengar petunjuk yang dibawakan oleh Rasulullah SAW…lanjut ke ayat 6
Ayat 6 : Latarawunnal jahiim. „Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahanam“.
Bila tatkala hidup ini dipelajari ajaran Muhammad SAW dengan seksama, dengan iman dan percaya, niscaya akan terlihat neraka itu sebagai ganjaran bagi orang-orang yang ingkar.
Ayat 7 : Tsumma latarawunnahaa ’ainal yaqiin. „Dan kamu nanti akan melihatnya dengan penglihatan yang yakin“.
Nanti akan datang masa dimana orang-orang dapat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dahsyatnya api neraka.
Ayat 8 : Tsumma latus alunna yauma idzin ’aninna’iin. „Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia ini)“.
Atas semua kenikmatan yang didapat pasti akan datang pertanyaan bertubi-tubi mulai dari apa yang diperbuat dengan kenikmatan itu?, dari mana diperolehnya?, apakah halal atau haram?, dll.
Hubungan/korelasi antara surat Adh-Dhuha dengan At-Takaatsur adalah :
Ad-Dhuha mengajarkan kita bahwa kenikmatan di dunia ini bersifat sementara, kehidupan di akhirat lebih baik tetapi Allah tidak pernah menelantarkan kita, Allah akan memberikan sesuatu sesuai dengan usaha kita dan apabila memperoleh kenikmatan harus berbagi dengan yang lain karena kenikmatan itu akan ditanyakan oleh Allah SWT sesuai surat At-Takaatsur.
Bahasan surat ’Abasa (Bermuka masam) : 33 – 42
Ayat 33 : Faidzaa jaa a tish shaakhkhah. „Apabila nanti datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua)“.
Saat datang hari kiamat dan ditiupnya sangkakala yang kedua kali yaitu saat manusia dibangkitkan kembali…. lanjut ke ayat 2. Sangkakala akan ditiup 3 kali : pertama semua makhluk hidup mati, kedua semua yang mati bangkit, yang ketiga semua makhluk hidup berkumpul di satu tempat yang disebut padang mahsyar.
Ayat 34 : yauma yafirrul mar u min akhiih. „pada hari ketika manusia lari dari saudaranya”.
Demikian hebatnya hari itu (hari kiamat) sehingga semua manusia lari dari saudaranya.
Ayat 35 : Waummihii wa abiih.“dari ibu dan bapaknya“.
Juga mereka melarikan diri dari ibu dan bapaknya.
Ayat 36 : Washaahibatihii wabaniih. „dan dari istri dan anak-anaknya“.
Dan mereka lari dari istri dan anak-anaknya.
Ayat 37 : Likulli umri imminhum yaumaidzin Sya’nuy yughniih. „Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya“.
Dari ayat sebelumnya yaitu 34-36 mengandung arti sedekat apapun hubungan kita dengan manusia lainnya tetapi pada hari kiamat tidak akan saling mengingat lagi karena masing-masing menghadapi perkaranya sendiri-sendiri.
Ayat 38 : Wujuuhuy yaumaidzinm musfirah. „Banyak muka pada hari itu berseri-seri“.
Ayat 39 : Dhaahikatum mustabsyirah. „tertawa dan gembira ria“.
Ayat-38 & 39 menyatakan bahwa pada hari itu akan terlihat wajah yang berseri-seri yang bersinar terang, tersenyum lebar, bersuka cita.
Ayat 40 : Wawujuuhuy yaumaidzin ’alaihaa ghabarah. „dan banyak pula muka pada hari itu tertutup debu“.
Ayat 41 : Tarhaquhaa qatarah. „dan ditutup lagi oleh kegelapan“.
Juga pada hari itu dalam ayat 40 & 41 disebutkan bahwa banyak pula wajah yang muram, suram, yang menunduk karena malu.
Ayat 42 : Ulaaika humul kafaratul fajarah. „Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka“.
Orang-orang itu adalah orang-orang yang ingkar, yang berbuat keji/dosa dan salah menempuh jalan.
Dari bahasan di atas tercermin bahwa semua yang kita miliki sekarang bukanlah prioritas kita, yang menjadi prioritas kita adalah diri kita sendiri. Apabila kita mengetahui nanti akan terjadi keadaan seperti itu, maka kita tidak akan terikat/tergantung oleh siapapun yang ada disekeliling kita saat ini. Boleh kita mencintai anak/istri/suami/orang tua dll. tetapi jangan keterlaluan karena nantinya kita akan menghadap kepada Allah SWT dengan mempertanggung jawabkan perbuatan masing-masing terlepas dari urusan orang lain.
Tanya Jawab :
Tanya :
Apakah termasuk dalam kesombongan apabila dalam suatu debat kita menyatakan sesuatu hal yang kita yakin akan kebenarannya ?
Jawab :
Apabila seseorang merasa benar sendiri itu sudah termasuk dalam kesombongan. Sedangkan dalam berdebat menyampaikan kebenaran kita harus pandai-pandai dalam menyampaikannya dan menggunakan cara terbaik, jangan sampai orang lari dari kebenaran hanya karena kita salah menyampaikan. Dan yang harus dicontoh adalah Imam Safi’i yang mengatakan bahwa „Dalam berdebat kebenaran itu ada pada dia atau pada saya“. Jadi yang dicari bukan menang berdebat tetapi kebenaran, sehingga kita tidak akan terjerumus dalam kesombongan.
Tanya :
Apa ada kaitan antara surat At-Taubah ayat 109 dengan kejadian WTC ?
Jawab :
Hal itu tidak benar, orang-orang hanya mengkait-kaitkan saja. Karena segala sesuatu bisa saja dikait-kaitkan untuk membuat suatu opini tetapi tidak berarti menunjukkan kebenarannya. Isi dari At-Taubah 109 itu terkait dengan 2 ayat sebelumnya yang membahas tentang pendirian mesjid yang ditujukan untuk memecah belah orang muslim dan menutupi kemunafikan orang yang tidak menjalankan shalat.
Tanya :
Bagaimana caranya kita mensyukuri nikmat Allah dengan memberi/menolong orang lain (anak yatim) tetapi terhindar dari anggapan sombong ?
Jawab :
Dalam salah satu hadist utama yaitu Innamal ’amalu binniyat segala sesuatu itu dinilai Allah berdasarkan niatnya. Jadi selama kita mensyukuri nikmat dengan membantu/mengayomi anak yatim itu didasari niat ikhlas dan hanya karena Allah SWT, janganlah kita dengar tanggapan orang-orang yang tidak benar karena Allah maha mengetahui. Dan janganlah sekali-kali mengungkit apa yang sudah kita berikan karena itu akan menjadi sia-sia sebagaimana disebutkan dalam Al-Baqarah : 264.
Tanya :
Banyak orang yang membicarakan dengan polos tentang harta yang dimilikinya, tetapi apabila kita singgung/membicarakan cara kepemilikannya yang tidak lazim langsung kepada si pemilik, apa itu bisa dibenarkan ?
Jawab :
Terlepas dari niat dan tujuan orang yang membicarakan harta-hartanya itu, tetapi apabila kita membalas kata-katanya dengan hal yang menyakitkan itu tidak dibenarkan. Kita harus ingat bahwa lidah yang kita miliki akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Oleh karena itu jagalah lidah kita dan pergunakan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat dan yang baik. Kiat yang utama pada saat kita disakiti orang lain adalah dengan berzikir, istighfar, karena orang yang menghina kita pada dasarnya menghina Allah yang telah menciptakan kita dan orang yang menghina itulah yang akan merugi (Al-Kautsar:3). Tanggapan terbaik menghadapi orang-orang seperti itu adalah dengan berdiam, sebagaimana pepatah arab yang mengatakan „Bila ada orang yang tidak mengerti membicarakan tentang kamu maka jawaban yang terbaik adalah diam“. Dalam Al-Hujuraat:12 disebutkan bahwa kaum yang menghina belum tentu lebih baik dari kaum yang dihina. Apabila kita membalas hinaan orang yang menghina kita maka nilai kita sama dengan orang yang menghina kita. Panutan kita Rasulullah SAW memiliki suri tauladan yang patut kita contoh. Beliau tidak pernah membalas hinaan dengan hinaan, bahkan saat Rasul dilempar kotoran oleh orang Yahudi, beliau membalasnya dengan kebaikan hingga orang tersebut menyadari bahwa Rasul bukanlah manusia biasa dan pada saat itu orang tersebut masuk Islam.
Tanya :
Apa benar dalam Al-Qur’an ada pernyataan bahwa kaum Yahudi tidak diterima oleh semua agama, seolah-olah setiap orang harus membenci kaum yahudi ?
Jawab :
Dalam Al-Qur’an tidak ada pernyataan bahwa kita harus membenci kaum Yahudi. Ada ayat tentang kaum Yahudi misalnya yang artinya „Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepada kamu sampai kamu mengikuti agama/perbuatan mereka yang menghilangkan identitas kamu sebagai muslim“. Jadi kita tidak dituntut untuk membenci orang Yahudi tetapi dalam surat Al-Baqarah yang paling banyak membahas tentang Bani Israil, Allah mengungkapkan bagaimana sulitnya mereka diatur & bagaimana mereka tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan, hal ini tidak berarti bahwa kita harus membenci kaum Yahudi tetapi kita harus berhati-hati, karena perilaku mereka yang mengingkari dan menentang Allah. Kita tidak dilarang oleh Allah untuk berlaku baik terhadap orang non muslim sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Mumtahanah : 8.
Hari Minggu, 24 Juni 2007
Pukul : 11:30 – selesai
Kanalweg 24, 4800 Zofingen (kediaman Sari & Edwin Spichtig)
Pemberi Materi : bpk. Desrial Anwar (bang Aal)


