Resume pengajian An-Nuur, 07.07.2007
Bismillah Rahman Rahim
Pertemuan kali ini membahas lanjutan surat Yunus yaitu dari ayat 26 sampai dengan ayat 61.
Ayat 26:
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal didalamnya.
“Tambahan” disini menurut sebagian ulama ialah melihat Allah.
Didalam surat Ad Dhuha ayat ke-3 Allah bersabda: “Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu dan tiada pula benci kepadamu”. Ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w terhenti untuk sementara, orang-orang musyrik berkata bahwa Tuhannya Muhammad telah meninggalkannya dan benci kepadanya, maka turunlah ayat untuk membantah perkataan orang-orang musyrik tersebut.
Ada sebuah cerita yang sangat menarik yaitu pembicaraan antara tukang pangkas dan pelanggan. Tukang pangkas mengatakan kepada pelanggannya bahwa Tuhan itu tidak ada karena menurutnya kalau Tuhan itu benar ada maka tak akan ada lagi orang miskin, pelanggannya meninggalkan tempat pangkas tersebut dan lantas bertemu dengan seorang yang gondrong, kemudian dia kembali ketempat pangkas tadi dan berkata kepada tukang pangkas bahwa tukang pangkas itu tidak ada karena masih juga ada orang yang berambut gondrong.
Kalau ingin melihat Allah itu sangatlah sulit karena jangankan kita nabi Musa a.s pun tak sanggup melihat Allah. Dikatakan dalam surat Al-Ghasiyyah ayat 8:”Nanti dihari pembalasan ada wajah yang berseri-seri dan nanti ada wajah yang murung”
Wajah yang berseri-seri yaitu wajah orang-orang yang beruntung dan menghuni syurga dan dapat bertemu dengan Allah, sedangkan wajah yang murung yaitu wajah orang-orang yang bersedih yaitu orang-orang yang durhaka terhadap Allah s.w.t.
Ayat 28:
(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan): ’’Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu’’. Lalu kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: ’’Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami’’.
Yaitu semua yang mereka jadikan Tuhan (pohon,batu,uang,dll) akan berbicara bahwa mereka tidak pernah mau dijadikan Tuhan, seperti juga sabda Allah yang tercantum dalam surat Al-Maa-Idah ayat 116 yaitu:
Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu berkata kepada manusia: ‘‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: ‘‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau mengetahui perkara yang ghaib-ghaib‘‘.
Ayat 29:
Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami).
Ayat 37:
Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah: akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
Ayat 40:
Diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an, dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ayat 41:
Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: ’’Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan’’.
Ayat42:
Dan diantara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti.
Maksudnya adalah: mereka pada lahirnya memperhatikan apa yang dibaca oleh Rasulullah dan apa yang diajarkannya, sedangkan hati mereka tidak menerimanya.
Ayat 49:
Katakanlah: ’’Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, Melainkan apa yang dikendaki Allah.’’ Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).
Yang dimaksud dengan ajal, ialah masa keruntuhannya.
Inilah yang harus selalu diucapkan dan dipahami oleh orang-orang muslim bahwa semua yang ada dan terjadi padanya adalah dengan kehendak Allah, tidaklah seseorang memiliki rezeki yang berlimpah atau kesehatan dll melainkan dengan kehendak Allah, karena itu berhati-hatilah dengan sedekah atau apapun yang kita berikan kepada orang lain, jangan sampai kita mengungkit-ungkit pemberian kita karena merasa bahwa semua itu adalah milik kita dan orang lain itu tidak akan baik nasibnya kalau bukan karena pertolongan kita karena kita tidak akan mampu menolong orang lain tersebut tanpa kehendak dari Allah.
Hidup ini adalah seperti roda, yaitu kadang dibawah,kadang diatas dan ini sudah sering kita dengar, tapi apakah kita betul-betul memahami artinya?
Ayat 57:
“ Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh dari penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Petunjuk tersebut adalah Al-Qur’an.
Ayat 61:
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) dibumi ataupun dilangit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Segala perbuatan kita (manusia) tidak lepas dari pengawasan Allah.
Tanya – Jawab:
Pertanyaan 1: Bagaimana dengan sms atau email yang berisi ancaman akan kemarahan Allah apabila sms atau email tersebut tidak diteruskan?
Jawab: Pesan tersebut tidak harus disebarkan karena ancaman Allah disini tidaklah beralasan
Pertanyaan 2: Bagaimana hukumnya kalau anak tidak pernah menaikkan haji orang tuanya?
Jawab: Yang wajib haji terlebih dahulu adalah dirinya, lalu orang tuanya, menaikkan haji orang tua itu sangatlah baik tapi apabila dirinya sendiri sudah menunaikan haji apabila dianya mampu baik harta, kesehatan,dll syarat untuk berhaji.
Pertanyaan 3: Bagaimana caranya membayar nazar yang terlupa?
Jawab: Nazar harus tetap dilaksanakan ketika kembali teringat dan harus melaksanakan salah satu syarat berikut ini:
- Memberi makan kepada 10 orang miskin atau,
- Memberi pakaian kepada 10 orang miskin (tidak harus baru)
- Puasa 3 hari (tidak harus berturut-turut)


