Percikan Iman, 12.08.2007 (Bahasan surat Yunus ayat 98-109)


Bahasan Surat Yunus ayat 98 – 109

Ayat 98 :
Seandainya penduduk suatu tempat/kota/bangsa/negara (Qaryah) beriman kepada Allah SWT, maka Allah akan memberikan manfaat dan nikmat yang banyak berdasarkan keimanannya itu sepanjang mereka hidup dan setelah mereka mati. Janji Allah dalam ayat ini, barang siapa beriman kepadaNya dengan sebenar-benarnya maka Allah akan menghilangkan segala kesulitan hidup dan memberikan ketenangan hidup. Ayat ini menyinggung umat nabi Yunus yang tidak mau beriman, sampai akhirnya nabi Yunus meninggalkan kaumnya dan berkata „apabila kalian tidak mau beriman maka akan datang azab Allah“. Pesan surat ini adalah Allah mengajak manusia untuk beriman kepadaNya.

Ayat 99 :
Kalau Allah menghendaki, maka semua manusia itu beriman kepadaNya dan tidak ada seorangpun yang membantah, tetapi apabila itu terjadi berarti bahwa manusia tidak memiliki kemerdekaan akal dalam memilih hal yang baik dan yang buruk sehingga tidak berfungsi lagi akal & nafsunya. Selain itu berarti juga bahwa Allah melanggar janjiNya dengan iblis yang akan terus berusaha membelokkan jalan manusia dan Allah telah mengijinkan karena Allah tahu bahwa hamba-hambaNya yang muklis tidak akan bisa dibelokkan.

Akal dan nafsu yang diberikan Allah kepada manusia harus di arahkan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah SWT, oleh karena itu manusia yang lebih menggunakan akal dari pada nafsunya maka orang tersebut lebih mulia dari pada malaikat, karena malaikat tidak memiliki nafsu, sedangkan manusia yang lebih mengikuti nafsu dari pada akalnya maka orang itu lebih hina dari hewan karena hewan tidak memiliki akal.

Pesan yang disampaikan ayat ini janganlah kita berputus asa dalam mengajak orang ke jalan kebaikan. Mengajak orang untuk beriman tidak dapat dipaksakan, karena hal ini datang dari hati. Yang bisa kita lakukan adalah tetap berusaha mengajak ke jalan kebaikan dan selebihnya kita kembalikan lagi kepada Allah SWT.

Ayat 100 :
Tidak ada satu jiwapun akan beriman kecuali hanya dengan izin Allah, oleh karena itu  senantiasa mintalah kepadaNya agar kita dan keturunan kita menjadi orang yang shaleh yang beriman hanya kepada Allah SWT. Selain itu sesuai ayat sebelumnya manusia harus berikhtiar dalam hal saling mengingatkan dan menasihati dalam kebaikan dan tetap bersabar. Datangnya izin Allah itu berkaitan erat dengan kekotoran batin pada manusia yang tidak mempergunakan akalnya, oleh karena itu jelaslah bahwa dengan akal itulah manusia dapat meningkatkan keimanannya. Sedemikian pentingnya fungsi akal sehingga Allah berfirman bahwa Allah akan memberikan azab kepada orang yang tidak menggunakan akalnya dan murka terhadap manusia yang sudah mengetahui kebenaran tetapi tetap melanggar.

Ayat 101 :
Semestinyalah manusia tidak hanya memperhatikan diri sendiri saja tetapi harus memperhatikan apa yang ada di langit dan di bumi, mulai dari melihat dan mendengar kemudian merenung atas semua ciptaan Allah yang ada. Adanya kesatuan langit dan bumi, pergeseran musim, berkaitannya kehidupan di dunia dengan turunnya hujan, sangkut paut hidup antar sesama manusia di bumi ini, dengan merenung/berfikir/menggunakan akal akan hal-hal tersebut maka akan sampai kepada kesadaran bahwa kita tidaklah berdiri sendiri di alam ini, melainkan bahwa semua ini ada penciptanya. Dengan demikian kita akan mengenal Allah melalui ciptaanNya.

Apabila kita perhatikan dan renungkan lebih jauh penyebab terjadinya perubahan keseimbangan alam saat ini, itu tidak lain karena salah satu ciptaan Allah tidak mematuhi perintah Allah sehingga alam ini tidak harmonis lagi. Artinya apabila terjadi musibah atau ketidaksinambungan alam janganlah kita hanya mengeluh tetapi kita harus lebih melihat penyebabnya yang menurut Allah karena hilangnya iman, yang merupakan inti atau awal segala sesuatu. Bagi orang yang tidak beriman, tanda-tanda kekuasaan Allah, peringatan, ancaman tidaklah akan bermanfaat, karena mereka tidak menggunakan akal sebagaimana mestinya. Tetapi bagi orang yang beriman jangankan tanda-tanda kekuasaan Allah, peringatan dan ancaman, keimanannya itu akan membuat dirinya stabil dan dimana saja akan merasa ada yang mengawasi yang menjadikan dirinya selalu menjaga ucapan, sikap dan perilakunya.

Ayat 102 :
Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak beriman dimana mereka menjalani kesehariannya hanya dengan rutinitas saja, tetapi orang yang beriman akan mengisi hari-hari dengan mengevaluasi manfaat apa yang sudah dilakukannya dalam kesehariannya sehingga dari hari ke hari selalu ada peningkatan dan menghasilkan nilai positif yang senantiasa membawa perubahan ke arah semakin baik. Oleh karena itu aktivitas keseharian harus diimbangi dengan menggunakan akal fikiran dan keimanan sehingga kita tidak terjebak dalam rutinitas yang mengakibatkan akal kita mati.

Ayat 103 :
Dalam ayat ini Allah berfirman bahwa Allah mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman. Apabila kita kilas balik, sejak jaman nabi-nabi terdahulu sudah terbukti bahwa kaum yang tidak beriman dan tidak mengikuti rasulnya maka kaum-kaum tersebut dimusnahkan oleh Allah, sedangkan yang beriman dan mengikuti nabinya maka mereka termasuk golongan yang selamat, artinya bahwa kebenaran itu suatu saat akan muncul, mempertahankan yang batil sama artinya dengan menunda-nunda kekalahan karena semua keingkaran & kekufuran akan binasa.

Ayat 104 :
Surat ini merupakan seruan kepada seluruh manusia untuk beriman hanya kepada Allah SWT yang akan mewafatkan manusia. Oleh karena itu agar termasuk golongan yang selamat maka kita harus  mematuhi segala perintah dan menjauhi segala laranganNya.

Ayat 105 :
Menyambung surat sebelumnya bahwa hendaknya manusia itu menghadapkan wajahnya kepada agama yang Hanif (yang berada di tengah-tengah tidak condong ke kiri atau ke kanan) sesuai dengan do’a iftitah yang selalu dibaca pada saat shalat. Artinya manusia harus menjaga keseimbangan aktifitas keduniaan dan keakhiratan. Dan yang terpenting adalah jangan menjadi orang yang musyrik (menyekutukan Allah). Banyak sekali hal-hal yang bisa menjadikan manusia berbuat syirik dan menjadi musyrik misalnya, uang, benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan, jabatan, dll. Sesungguhnya manusia itu bisa mengetahui dari hati kecilnya apakah dirinya condong ke keduniaan atau ke keakhiratan.

Ayat 106 :
Berkaitan dengan ayat sebelumnya, disini dihimbau agar manusia tidak memohon / menyembah kepada hal-hal yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudharat, karena hal ini hanya akan menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang zalim.

Ayat 107 :
Jika Allah sudah menetapkan suatu musibah kepada manusia maka tidak ada yang bisa merubahnya selain daripada Allah sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan/manfaat kepada manusia maka itupun tidak ada yang dapat merubahnya selain Dia. Bagi manusia musibah dan kemuliaan dari Allah, keduanya merupakan cobaan. Dan Allah mengharapkan keduanya mempunyai nilai positif, hanya kebanyakan manusia gagal pada saat dicoba dengan kemuliaan/kenikmatan. Seyogyanya dalam kondisi apapun kita harus selalu bersyukur. Dan Allah akan selalu membuka pintu selebar-lebarnya bagi manusia yang bertaubat kepadaNya.

Ayat 108 :
Disini terdapat seruan kepada seluruh manusia untuk mempergunakan akalnya agar menerima kebenaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan kebenaran itu pula yang diturunkan kepada Nabi-Nabi sebelumnya, karena kebenaran itu hanya satu. Tidak ada pertentangan dalam ajaran para Nabi, yang ada adalah ulah manusia yang telah menambah atau mengurangi perintah-perintah Allah. Sesungguhnya bagi manusia yang sudah menerima dan menjalankan kebenaran, maka manfaatnya hanyalah diperuntukkan bagi dirinya sendiri, begitupun bagi orang yang tidak mau menerima dan menjalankan kebenaran maka kesesatannya itu hanyalah bagi dirinya sendiri. Itu semua merupakan pilihan manusia itu sendiri.

Ayat 109 :
Allah memerintahkan agar wahyu yang diturunkan dipatuhi dan hendaklah bersabar hingga sampai pada kematian dan Allah akan menentukan hukum dan Allah adalah hakim yang sebaik-baiknya.

TANYA JAWAB :

Tanya :
Apabila kita melihat kondisi negara kita yang belakangan ini banyak sekali ditimpa bencana, ada yang mengatakan bahwa itu merupakan azab, tetapi bila dibandingkan dengan negara Swiss yang relatif tenang dan melimpah kenikmatan padahal perilaku manusianya terutama terhadap Allah kalau kita lihat sangatlah jauh dengan orang-orang di Indonesia. Mohon penjelasannya!

Jawab :
Ada perkataan baik dari imam Ali yang diucapkan 1400 tahun yang lalu bahwa „Sesungguhnya suatu negeri tidak akan mendapatkan bencana kecuali apabila pemimpin negeri tersebut mengajak kebaikan untuk kepentingan diri sendiri.

“Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi untuk kepentingan khalayak ramai bukan kepentingan pribadi. Kalau kita simak kondisi negara kita saat ini adalah para pemimpinnya dengan sangat disayangkan mengajak orang lain berbuat baik tidak dengan benar-benar, melainkan ada kepentingan pribadi yaitu untuk karier dirinya ditambah dengan sifat korup dan tidak memperhatikan hajat hidup orang banyak, sehingga membuat seluruh negeri terancam dan hal itu pula yang menjadikan penyebab utama banyaknya bencana alam di negeri kita.

Sementara di Swiss sejauh yang kita ketahui apabila pemimpinnya diprotes rakyatnya mereka selalu memperbaiki, bersikap terbuka, jujur dan memperhatikan kepentingan orang banyak. Banyak juga orang yang melakukan hal-hal yang tidak baik tetapi mereka itu hanya sebatas individu yang tidak memegang keputusan untuk kemakmuran suatu negera. Sementara dalam hal ini yang sangat berperan dalam memakmurkan suatu negeri itu adalah pemimpinnya. Yang dapat kita lakukan disini adalah berdo’a semoga Indonesia menjadi lebih baik dan harus ada sinkronisasi antara Ulama dilihat dari sisi sesuai dengan perintah Allah/tidaknya dengan Umara’ dari sisi bagaimana memikirkan kemakmuran rakyat. Dan memilih pemimpin yang jujur, terbuka dan memikirkan kemakmuran rakyat melalui jalan istikharah.

Tanya :
Melihat pemberitaan di Aceh, dimana laki-laki & perempuan yang berdua-duaan di taman lalu dihukum cambuk. Bagaimana hukum yang sebenarnya dalam Islam ?

Jawab :
Berdasarkan informasi orang Aceh sebenarnya yang digembar-gemborkan penerapan syari’ah oleh mantan GAM itu adalah tidak real, yang ada itu adalah agama yang dipolitisir, teriakkannya menegakkan agama Islam akan tetapi tujuannya adalah politik.

Yang terjadi di Aceh saat ini adalah penyalahgunaan, seharusnya apabila kedapatan pasangan berdua-duaan di tempat gelap dan belum jelas zina/tidaknya, seharusnya ditegur dulu dan dipisahkan bukannya langsung di cambuk.

Konteks sebenarnya dalam Islam, bagi orang yang berzina dan belum pernah menikah maka hukumannya itu dicambuk 100 kali tetapi tidak boleh melukai (tidak boleh keluar darah) hanya untuk rasa sakit. Dan hukuman ini baru bisa dijatuhkan apabila ada saksi 4 (empat) orang laki-laki atau 8 (delapan) orang perempuan dan semuanya harus orang yang adil, bukan orang yang suka berbohong atau suka bercanda. Banyak orang mengatakan bahwa Islam itu keras sekali, hal ini karena ketidaktahuan mereka. Mereka hanya tahu bahwa hukum zina adalah cambuk, tanpa melihat uraian atau rincian lebih lanjut. Karena apabila kita menelaah tentang syarat dan jumlah bagi saksi, itu bukanlah hal yang mudah.

Dalam surat An-Nuur ayat 6 – 9, disebutkan bahwa : Bagi seorang suami yang menuduh istrinya melakukan zina tetapi tidak mempunyai saksi maka sang suami harus bersumpah di depan hakim dengan nama Allah sebanyak 4 kali dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar. Dan sumpah yang kelima bahwa dia akan dihukum Allah jika dia berdusta. Dan apabila sang istri berani melakukan hal yang sama yaitu di depan hakim dan umum bersumpah dengan nama Allah sebanyak 4 kali dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar. Dan sumpah yang kelima bahwa dia akan dihukum Allah jika dia berdusta. Maka sang istri tidak akan dihukum rajam.
Tetapi salah satu dari mereka ada yang bersalah/berdusta maka salah satu dari mereka akan dihukum oleh Allah SWT.

Tanya :
Bagaimana kalau kita menggunakan gelang / kalung yang katanya dapat menyembuhkan stress atau penyakit lainnya, apakah itu juga termasuk syirik ?

Jawab :
Kalau cincin/gelang/kalung yang disisipi sesuatu yang memberikan keyakinan tertentu kepada yang menggunakannya, itu merupakan perbuatan syirik dan mengarahkan kita kepada musyrik. Sedangkan gelang/kalung tertentu yang dijual di apotik yang sudah diteliti atau mengandung magnet yang dapat melancarkan darah dan yang menggunakannya tidak mempunyai keyakinan tertentu melainkan hanya seperti mengkonsumsi obat, itu tidak apa-apa. Tapi kalau batu-batuan/gelang/ kalung lainnya yang tidak diteliti lebih dulu tapi dikomersilkan dapat menyembuhkan suatu penyakit, ini batasan syirik dan tidaknya sangat tipis. Wallahu’alam.

Tanya :
Bagaimana kalau laki-laki menggunakan emas ?

Jawab :
Dari Abu Musa, disampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda : „Dihalalkan emas dan sutera bagi perempuan-perempuan dari umatku; dan diharamkannya atas laki-laki dari ummatku“ – Riwayat Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi mengesahkannya.

Dan Umar menuturkan bahwa : Aku mendengar Nabi Saw bersabda : „Janganlah kamu memakai sutera, karena sesungguhnya barangsiapa memakainya didunia maka ia tidak akan memakainya diakhirat.“ – Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim.

Adapun memakai cincin perak untuk laki-laki dihalalkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana tersebut dalam hadist riwayat Bukhari, bahwa Rasulullah sendiri memakai cicin perak, yang kemudian cincin itu pindah ke tangan Abubakar, kemudian pindah ke tangan Umar dan terakhir pindah ke tangan Usman sehingga akhirnya jatuh ke sumur Aris (di Quba’).

Hari Minggu, 12 Agustus 2007
Pukul : 12:00 – selesai
Büelstrasse 5, 9200 Gossau (kediaman Hanni & Andy Müller)
Pemberi materi : bpk Desrial Anwar (bang Aal)

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Salamualaiku, I am so happy to have found this site and would like to know more about Pengajian.
I was born in Singapore so I can speak malay. My writing however is bad from lack of practice.

I would be keen to attend a pengajian, even though I am not Indonesian.
Would this be possible?

Thanks for your answer