Percikan Iman, 16.09.2007 (Bahasan surat Al-Baqarah 183 – 186)


Bahasan surat Al-Baqarah ayat 183 – 186
Ayat-ayat ini sering didengar terutama setiap kita memasuki bulan Ramadhan, karena keempat ayat tersebut berkenaan dengan pelaksanaan ibadah puasa yang dijalankan di bulan Ramadhan.

Ayat 183 :
Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu kutiba ’alaikumush-shiyaam….
Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu untuk berpuasa….
kamaa kutiba ’alal-laziina min qablikum la’allakum tattaquun.
sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.

Ayat 184 :
Ayyaamam ma’duudaat
yaitu dalam beberapa hari yang tertentu, yaitu di bulan Ramadhan
fa man kaana minkum mariidhan au ’alaa safarin fa ’iddatum min ayyaamin ukhar
bagi orang-orang yang sakit atau yang dalam perjalanan tidak mampu berpuasa (lalu ia berbuka), maka wajiblah digantikannya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu di hari-hari yang lain
wa ’alal-ladziina yutiquunahuu fidyatun ta ’aamu miskin
bagi yang sama sekali tidak mampu menjalankan puasa, maka kewajibannya adalah membayar fidyah yaitu memberi makan seorang yang miskin. Yang terbilang tidak mampu menjalankan ibadah puasa ini misalnya, yang menderita diabetes, orang yang sakit atau orang yang sudah uzur/tua.
fa man tatawwa’a khairan fa huwa khairul lah,
barang siapa yang dengan kerelaan hati menghendaki pahala tambahan, sesungguhnya pahala tambahan itu lebih baik baginya. Misalnya ibu hamil/yang sedang menyusui, mengganti puasanya tidak hanya dengan fidyah tetapi disaat ia sudah selesai menyusui atau selesai masa nifasnya ingin membayar puasa yang ditinggalkannya di hari lain.
Dalam mazhab Safi’i diwajibkan bagi orang yang sudah membayar fidyah tetap harus membayar puasa yang ditinggalkannya di bulan Ramadhan di hari yang lain.
wa an tasuumuu khairul lakum in kuntum ta’lamuun.
Sesungguhnya membayar dengan puasa itu lebih baik, jika engkau mengetahui. Karena fidyah walaupun sudah melepaskan kewajiban seseorang yang tidak mampu berpuasa tetapi membayar dengan puasa itu lebih baik nilainya.
Manfaat yang diperoleh dari ibadah puasa adalah meningkatkan ketaqwaan yaitu selalu merasa Allah bersama dan memperhatikannya dan melatih mengendalikan diri serta meningkatkan kesabaran, sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW : “Ash-shiyaamu nishfu shabri“ yang artinya „puasa itu adalah sebagian dari sabar.“

Ayat 185 :
Syahru ramadhaanal-ladzii unzila fiihil Qur’aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaan,
Bulan Ramadhan, bulan dimana diturunkan pada saat itu Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan hal-hal yang detail dan pembeda mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal mana yang haram, mana yang hak dan mana yang batil.
fa man syahida minkumusy-syahra fal yasumh,
barang siapa yang menyaksikan bulan Ramadhan ini, hendaklah mereka berpuasa
wa man kaana mariidan au ’alaa safarin fa ’iddatum min ayyaamin ukhar,
dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan tidak mampu berpuasa (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.
Apabila dipertanyakan apakah yang lebih utama bagi seseorang yang dalam perjalanan, berpuasa atau berbuka?
Iman Malik dan Imam Syafi’i menilai bahwa berpuasa lebih utama dan lebih baik bagi yang mampu, tetapi sebagian besar ulama bermazhab Maliki dan Syafi’i menilai bahwa hal ini sebaiknya diserahkan kepada masing-masing pribadi, dalam arti apa pun pilihannya, maka itulah yang lebih baik dan utama. Pendapat ini dikuatkan oleh sebuah riwayat dari Imam Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik yang menyatakan bahwa: „Kami berada dalam perjalanan di bulan Ramadhan, ada yang berpuasa dan ada pula yang tidak berpuasa. Nabi tidak mencela yang berpuasa, dan tidak juga (mereka) yang tidak berpuasa.“
yuriidullaahu bikumul yusra wa laa yuriidu bikumul ’usr,
Allah menginginkan kemudahan bagimu bukan kesusahan – oleh karena itu dalam berpuasa Rasul mengatakan : „Umatku itu selalu dalam keadaan sehat dan berkah, kalau dalam berpuasa itu mereka mengakhirkan sahurnya dan menyegerakan buka puasanya.“
wa litukmilul ’iddata wa li tukabbirullaaha ’alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (bilangan bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Maksud mencukupkan bilangan dalam ayat ini adalah Allah menghendaki agar jumlah hari di bulan Ramadhan itu disempurnakan, apabila hitungan Sa’ban 30 hari maka Ramadhannya 29 hari, apabila Sa’bannya 29 hari maka Ramadhannya 30 hari, jadi terlepas dari orang yang puasanya lebih dulu atau belakangan satu hari seharusnya Idul Fitrinya sama. Demikian juga apabila tertinggal puasa karena sakit atau karena musafir, maka sempurnakanlah jumlah puasanya di hari lain.
Syukurilah Allah, karena berkat taufiq dan hidayahNya manusia dapat membuktikan bahwa manusia adalah insan yang berakal dan berbudi, dapat mengendalikan diri dan nafsu, syahwat perut dan syahwat faraj (sex).

Ayat 186 :
Wa idzaa sa alaka ’ibaadii ‘annii fa innii qarib
Apabila ada hamba-hambaKu bertanya kepadamu Muhammad tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat sekali
ujiibu da’watad-daa’i idzaa da’aani fal yastajiibuu lii wal yu’minuu bii la’allahum yarsyuduun.
Aku akan mengabulkan setiap permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Dengan adanya kesempatan besar ini, maka pergunakanlah kesempatan ini sebaik mungkin memohonlah kepada Allah minimal setiap selesai shalat. Apabila seorang hamba Allah sudah berdo’a tetapi masih belum dikabulkan, mungkin masih ada yang kurang misalnya keimanan atau keta’atannya kepada Allah SWT atau Allah memiliki rencana lain yang lebih baik baginya.

TAMBAHAN MATERI
Zakat tidak hanya berkaitan dengan kehidupan akhirat (merupakan tabungan di akhirat yang belum kelihatan) tetapi juga dengan kehidupan di dunia (membantu kehidupan sosial sesama).
Wajibnya zakat adalah 2,5% dari penghasilan netto / penghasilan setelah dikurangi dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Ada juga yang menghitung 2,5% dari penghasilan bruto itu kembali kepada masing-masing, karena manfaatnya pun akan dirasakan kembali oleh masing-masing. Sesuai janji Allah bahwa barang siapa besar melakukan usaha untuk dunia maka besar pula hasilnya yang dapat dirasakan langsung di dunia ini sedangkan bagi mereka yang besar melakukan usaha untuk akhirat maka besar juga hasilnya hanya belum bisa dirasakan langsung saat ini. Hamba Allah yang bahagia adalah yang berusaha keras untuk keduanya. Barang siapa yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, memperbanyak ibadah-ibadah, sesungguhnya nilai-nilai itu untuk dirinya sendiri.
Surat At-Talaaq ayat 2“……barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya.”

Hari Minggu, 16 September 2007
Pukul : 18:00 – selesai
Buchhorn 23, 9320 Frasnach (kediaman Daniel & Novi Bont)
Pemberi Materi : bpk. Desrial Anwar (bang Aal)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!