PERCIKAN IMAN, 27.04.2008 Bahasan : Shalat
Surat Al-Mu’minuun ayat 1-11 mempunyai pengertian yang sama dengan yang terkandung pada surat Al-Baqarah ayat 1-5 yang mengupas bahwa kriteria orang-orang yang sukses berdasarkan pandangan Islam adalah yang bertaqwa/beriman kepada Allah. Adapun kriteria orang bertaqwa yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 1-5, adalah :
- yang beriman kepada yang ghaib
- yang mendirikan shalat
- yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT
- yang beriman kepada Al-Qur’an
- yakin kepada adanya kehidupan akhirat
Dan kriteria orang bertaqwa yang disebutkan dalam surat Al-mu’minuun ayat 1-11, adalah :
- yang khusyu dalam shalatnya
- yang dapat menghindarkan dirinya dari hal-hal yang tidak berguna
dilakukan/dibicarakan
- yang menunaikan zakat
- yang menjaga kemaluannya, kecuali kepada istri-istri/hamba sahayanya
- yang bisa menjaga amanah dan menepati janjinya
- yang memelihara shalatnya
Kriteria yang akan dibahas pada kesempatan ini adalah kriteria shalat. Shalat dalam agama Islam mempunyai arti yang sangat penting, karena sebesar apapun amal perbuatan, zakat, sosial, toleransi yang bagus tetapi apabila tidak memelihara dan tidak khusyu dalam shalatnya maka dia tidak akan mendapatkan nantinya.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist : “yang pertama kali diperhitungkan oleh Allah adalah shalatnya, kalau shalatnya benar maka akan dianggap benarlah semua perbuatannya tetapi apabila shalatnya tidak benar maka dia tidak akan mendapatkan semua yang sudah dilakukannya”. Oleh karena itu kriteria orang bertaqwa itu diawali dengan kriteria khusyu dan diakhiri dengan memelihara shalat.
Pendapat ulama mengemukakan bahwa ibadah shalat ada syarat sah dan rukunnya, supaya ibadah shalat kita diterima Allah SWT, maka tidak hanya dengan pemenuhan syarat dan rukunnya saja tetapi juga mengacu kepada Rasulullah SAW yaitu dalam melaksanakannya harus tenang, apabila ruku maka ruku-lah sehingga posisi rukunya sempurna dan tenang, apabila i’tidal maka kembalikanlah tulang-tulang itu kepada posisinya sampai dalam posisi yang tenang, begitu juga dalam sujud.
Sesungguhnya gerakan-gerakan shalat memiliki nilai meditasi yang tinggi asalkan dikerjakan dengan benar dan sungguh-sungguh, jangan shalat dilakukan terburu-buru atau dirasa sebagai beban atau hanya dilaksanakan sekedar melaksanakan/menggugurkan kewajiban saja, karena akan menghasilkan ibadah yang asal-asalan dan tidak dikerjakan dengan sebaik mungkin.
Agar shalat kita diterima maka dimulai dengan niat (terlepas dari yang dilafalkan ataupun tidak) yang penting shalat yang dilakukan searah dengan niat sampai kepada makna setiap gerakan sehingga ibadah shalat ini benar-benar menjaga hubungan kita dengan Allah dan bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja.
Ulama fiqih mengatakan bahwa pada dasarnya gerakan shalat itu merupakan perbuatan yang Allah wahyukan langsung melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW.
Saat ini ahli yoga mulai meneliti bahwa ternyata gerakan-gerakan shalat itu dapat dilakukan tidak hanya oleh orang-orang muda tetapi juga oleh orang yang sudah tua dalam kondisi sehat dan bisa menjadikan aliran darah lancar asalkan dalam setiap gerakan harus dilakukan menarik dan memhembuskan nafas.
Riwayat Nabi dalam melaksanakan shalat tidak pernah terburu-buru bahkan antara shalat wajib dan sunnah itu seperti makan utama dengan makan dessert, artinya ada jeda waktu. Dalam setiap pelaksanaan ibadah, syetan selalu mempunyai kepentingan untuk membuat manusia lengah kepada Allah SWT sehingga menggugurkan ibadah kita. Karena dengan kelengahannya itu manusia bisa lupa dan dapat melakukan perbuatan apapun yang dilarang oleh Allah SWT. Salah satu bentuk kelengahan ini adalah seseorang yang bisa menjaga shalatnya akan tetapi dia tetap melakukan hal-hal yang dilarang Allah SWT, artinya dia mampu menjaga shalat akan tapi masih lengah/tidak khusyu dalam melaksanakannya.
Dalam surat Al-Maa’uun (107) ayat 4-6 yang artinya :“Celakalah orang yang shalat, apabila dia lalai dalam shalatnya dan dia ria dalam shalatnya”.
Dalam dialog nabi Muhammad SAW dengan iblis,
Nabi SAW bertanya : bagaimana engkau menemukan orang yang shalat?
Iblis menjawab : badanku seperti dipotong-potong.
Oleh karena itu iblis terus berusaha agar yang shalat itu lupa/lengah dalam shalatnya, apakah tiba-tiba ingat sesuatu atau lupa raka’at atau lupa dalam do’a-do’anya, karena dengan kelengahan itu iblis merasa tidak terpotong-potong lagi. Usaha kita untuk menghindari usaha iblis tersebut adalah menjalankan shalat dengan ketenangan sambil menarik dan menghembuskan nafas disetiap gerakan sambil membaca do’a dan fikirkan maknanya dan rasakan kehadiran Allah, insya Allah kekhusyuan itu akan kita dapatkan.
Shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah sebagai sumber inspirasi, sumber kekuatan, karena pada zaman itu Rasul menghadapi kesulitan dalam berjuang dalam menegakkan Islam, menghadapi orang-orang musyrik dan melunakkan orang-orang yang berniat jahat kepada Islam. Beliau meminta kepada Allah dalam menghadapi hal-hal dalam kehidupannya. Begitupun seharusnya kita, dalam kehidupan sehari-hari harus senantiasa beribadah kepada Allah SWT secara berkesinambungan dan tidak hanya pada saat menghadapi masalah saja. Memang menjaga dan khusyu dalam shalat itu berat oleh karena itu mintalah pertolongan kepada Allah sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 45, yang artinya :“Mintalah pertolongan kepada Allah melalui sabar dan shalat, sesungguhnya sabar dan shalat itu berat kecuali bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Selama kita berusaha untuk dapat meraih kesabaran dan kekhusyuan shalat maka usaha kitapun merupakan jihad, dan selama kita berjihad maka Allah akan senantiasa memberikan petunjuknya. Jadi pengertian jihad itu luas sekali, kita menjaga keutuhan shalat, berbakti kepada suami itupun merupakan bagian daripada jihad, selama kita berusaha untuk kebaikan tentunya kita akan selalu menemui kekurangan, tapi ketahuilah bahwa Allah tidak akan membebani suatu jiwa melainkan jiwa itu mampu memikulnya.
TANYA JAWAB :
Tanya :
Bagaimana shalat kita apabila pada saat sujud dalam shalat, anak kita menaiki punggung kita, atau tiduran di depan kita?
Jawab :
Hal itu tidak membatalkan shalat kita, bahkan Rasulullah SAW pernah shalat sambil menggendong cucunya. Kekhusyuan insya Allah akan tetap terjaga selama kita yakin ada yang memantau kita atau merasakan adanya kehadiran Allah SWT. Sebagaimana riwayat pada waktu Jibril datang kepada Rasullullah SAW yang sedang berkumpul dengan sahabat, bertanya tentang 3 hal, yaitu :
- Rukun Iman yang terdiri dari 6 hal.
- Rukun Islam yang terdiri dari 5 hal.
- Ihsan, yaitu penyempurnaan dari seluruh Iman dan Islam kita.
Seharusnya kita dalam melakukan segala sesuatu baik rukun Iman maupun Islam, yakinlah bahwa Allah SWT melihat kita, sehingga kita melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
Tanya :
Upaya apa yang harus dilakukan agar kita tidak terlambat dalam menjalankan shalat Subuh ?
Jawab :
Kita bisa melakukan do’a sebelum tidur baik juga apabila kita meminta kepada Allah agar pada saat waktu subuh kita kembali diberi umur untuk dapat menjalankan shalat subuh pada waktunya, tetapi inti yang paling penting adalah bahwa saat mau dan bangun tidur kita tetap terpaut dengan Allah SWT. Apabila sebelum tidur dibaca 3 kali surat Al-Ikhlas yang intinya sepertiga Al-Qur’an sehingga bagi yang membaca 3 kali sama seperti membaca hatam Al-Qur’an kemudian Al-Falaq dan An-Naas yang intinya meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syetan baik berupa manusia maupun jin dan ayat kursi menunjukkan bagaimana hebatnya kekuasaan Allah yang bisa menjaga kesinambungan dan keharmonisan langit dan bumi, apalagi hanya untuk menjaga kita, insya Allah kita akan selalu terpaut dengan Allah SWT. Dalam keseharian kita harus senantiasa terpaut dengan Allah agar kita dapat memanfaatkan waktu dan tidak menjadi orang yang merugi sebagaimana isi surat Al-Asr yang menyatakan : “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali :
- orang-orang yang beriman
- yang mengerjakan amal shaleh
- yang saling menasehati dalam kebenaran
- yang sabar“.
Tanya :
Bagaimana kalau dalam shalat lupa jumlah rakaat yang sudah dijalankan?
Jawab :
Ada pendapat ulama yang menyatakan bahwa keyakinan tidak bisa dikalahkan oleh keraguan, misalnya kita bimbang apakah sudah 2 atau 3 rakaat, yang lebih yakin adalah yang 2 rakaat maka kukuhkan yang 2 rakaat tersebut sehingga kita tinggal melaksanakan sisa rakaatnya dan tutup shalat dengan sujud sahwi. Adapun bacaan dalam sujud sahwi adalah :
“Subhaana mal laa ya naamu wa laa yas huu” yang artinya “maha suci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa”
Tanya :
Apa boleh bacaan shalat dilafalkan dalam bahasa Indonesia?
Jawab :
Sebenarnya bacaan dalam shalat itu tidak banyak, artinya kita bisa mempelajarinya sehingga dalam melakukan shalat bacaannya dilafalkan dalam bahasa arab.
Tanya :
Apabila dalam shalat rakaat kedua lupa tidak melakukan tasyahud awal (langsung berdiri lagi), begitu kita ingat apakah kita harus turun untuk tasyahud awal atau melanjutkan rakaat shalat?
Jawab :
Dalam kondisi seperti ini dilihat posisi kita lebih mendekati ke posisi duduk atau ke posisi berdiri, apabila lebih dekat ke posisi duduk maka kita bisa melakukan tasyahud awal, tetapi apabila lebih dekat ke berdiri maka dilanjutkan ke rakaat berikutnya, tetapi ditutup dengan sujud sahwi.
Tanya :
Bagaimana posisi tangan setelah kita membaca takbir dalam shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW?
Jawab :
Dalam hal ini ada beberapa tafsiran, apabila dilihat dari bahasa arabnya yang mempunyai arti bahwa tangan diletakkan di atas pusar. Tetapi dari pengertian tersebut ada yang mengartikan posisi tangan dilipat tepat mengenai pusar dan ada yang mengartikan di atas pusarnya (tidak mengenai pusar). Sebenarnya bagaimanapun posisinya tidak mengganggu shalat karena posisi tersebut tidak termasuk rukun maupun syarat sahnya shalat.
Tanya :
Pada saat tasyahud apakah jari telunjuk cukup diposisikan menunjuk saja atau harus digerak-gerakkan juga ?
Jawab :
Itu semua berdasarkan pada hadist yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW menunjukkan jarinya dan menggerakkannya, tetapi tidak ada penjelasan yang lebih spesifik. Karena Islam yang disebarkan di Indonesia, Malaysia, Brunei dan sekitarnya adalah mazhab Syafi’i yang berpendapat bahwa dalam shalat tidak boleh bergerak dalam 1 gerakan lebih dari 3 kali sehingga dibatasi hanya dengan mengerakkan jari ke posisi menunjuk saja. Sementara imam-imam yang lain menunjukkan dan menggerak-gerakkan jarinya, bagaimana gerakannya asal tidak mengganggu kekhusyuan dalam shalat, hal itu tidak menjadi masalah.
Tanya :
Apakah dalam melaksanakan shalat wajib di dalamnya ada kesempatan juga untuk berdo’a yang lain selain bacaan shalat ?
Jawab :
Arti shalat secara etimologis adalah do’a. Pada dasarnya bacaan dalam shalat adalah pujian kepada Allah SWT, kecuali bacaan pada saat duduk diantara dua sujud yang merupakan do’a untuk diri kita dan surat-surat Al-Qur’an yang merupakan pesan-pesan dari Allah. Sebenarnya dalam setiap gerakan shalat kita bisa berdo’a hanya pandangan saya pribadi lebih condong kepada melakukan shalat dengan bacaan shalat yang telah diajarkan tanpa diselipkan do’a yang lain.
Rasul pernah mengatakan bahwa posisi yang paling dekat dengan Allah SWT adalah waktu sujud, kemudian Abu Khurairah menambahkan : maka perbanyaklah do’a. Atas dasar tambahan inilah ada orang-orang yang menyelipkan do’a diluar bacaan shalatnya.
Tanya :
Apa dasar dilakukannya Qunut dalam shalat, karena ada yang melakukannya dan ada juga yang tidak?
Jawab :
Surat Ali-Imraan ayat 128 Allah turunkan pada saat perang Al Ahjab dimana kekuatan kaum muslimin sangat kecil dibanding dengan kekuatan kaum ahjab (tentara gabungan yahudi), sehingga Rasulullah SAW membaca do’a Qunut yang diantara isinya “Ya Allah hancurkanlah barisan mereka, pecahkan persatuan mereka dan seterusnya” lalu Allah menegur nabi Muhammad dengan ayat ini. Sejak itu Rasulullah SAW tidak pernah membaca do’a qunut dalam shalatnya, juga dalam shalat subuh. Sehingga atas dasar ini orang-orang tidak membaca do’a qunut dalam shalat, sedangkan yang masih membaca do’a qunut, berpendapat bahwa isi do’a qunut yang dibacanya sekarang lain dengan do’a yang dibaca Rasul dalam perang Ahjab dulu, dan tidak mengusik kehancuran orang lain.
Tanya :
Apabila kita bangun tidur kesiangan, apakah kita bisa melakukan shalat subuh walaupun matahari sudah terbit?
Jawab :
Ada hadist yang mengatakan “barang siapa yang ketinggalan shalat karena tertidur, maka hendaknya dia shalat saat dia ingat/sadar”. Hadist ini cukup jelas, tetapi kejadian seperti ini jangan dibiasakan.
Hari Minggu, 27 April 2008
Waktu : pk. 12:00 – selesai
Tempat : Niederbürerstrasse 2, 9245 Oberbüren (kel. Syarief)
Penyampai materi : Bpk. Desrial Anwar


