Percikan Iman, 25.05.2008 (Iman, Tawaqal dan Taqwa)
Dirangkum Oleh : Ismed & Idah Zulkarnayn
Iman seseorang dapat naik dan turun. Jika imannya naik, ia selalu tergerak melakukan yang baik.
Ciri orang beriman:
1. Jika ia didengarkan nama Allah, hatinya bergetar
2. Jika ia dibacakan ayat-ayat Allah, imannya bertambah
3. Ia hanya bertawakal kepada Allah
Q.S. Al Anfaal / 8:2
Sesungguhnya orang-orang yang beriman[1] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[2] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
[1] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[2] Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
Apa arti tawakal?
Tawakal secara bahasa, artinya menggantungkan, menyerahkan diri kepada Allah.
Contohnya: seseorang yang diadili dalam suatu pengadilan dan tidak mempunyai pengetahuan hukum untuk membela dirinya kemudian menyerahkan urusan pembelaan kepada seorang pengacara yang dirasa mampu untuk membela di pengadilan.
Posisi seorang mukmin selayaknya menggantungkan segala sesuatu kepada Allah SWT. Salah satu Asmaul Husna, Al Wakiil artinya tempat bergantung. Para nabi, syuhada, shalihin dan siddiq adalah orang yang bertawakal, bergantung kepada Allah karena Allah mengetahui hal yang terbaik.
Q.S. Ali ‘Imran / 3:173 (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia[3] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.[3] Maksudnya: orang Quraisy.
Bahasan Q.S. Ali ‘Imran /3:173: Konteks ayat ini saat sahabat nabi dalam perang Al Ahzab. Saat itu orang Quarisy menjadi provokator dan menyatakan bahwa pasukan Nabi sudah terkepung maka takutlah kepada mereka dan pulanglah. Para sahabat Nabi menjawab, “Qaaluu hasbunallahu wa ni’mal wakiil”, cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Karena Allah sebagai wakil yang terbaik, pengacara, penentu yang terbaik kemana nasib kami Allah sudah menentukan yang terbaik.
Dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari, para ibu yang berada di luar negeri tanpa ada bantuan asisten rumah dalam menghadapi suami, anak, rumah tangga kadang kala merasa kesal, lelah. Kebiasaan yang ada adalah mengadu kepada teman. Teman dapat memberi solusi agar menjadi baik ataupun sebaliknya (runyam). Tetapi apabila para ibu bertawakal, hal terbaik yang dilakukan adalah berserah diri kepada Allah dan yakin bahwa ini kondisi terbaik yang diberikan oleh Allah.
Contoh lainnya: seorang bayi dalam kandungan ibu mendapat makanan dari tali pusar sang ibu. Setelah ia lahir, tali pusar dipotong lalu bayi mulai belajar untuk menyusu. Bayi tersebut menangis karena merasa tidak nyaman atas perubahan kondisi. Setelah usianya mencapai dua tahun, bayi tersebut mulai merasa tak nyaman lagi, kesal, nangis karena disapih dan harus belajar makan. Bila dicermati, proses di atas membawa manfaat besar, sejak asupan dari tali pusar hingga air susu ibu tidak mencukupi kebutuhan anak usia dua tahun. Untuk itu ia perlu asupan tambahan makanan dari luar dan ini merupakan proses belajar dan berkembang.
Perubahan yang terjadi dan dialami oleh kita dari kondisi yang nyaman ke kondisi tidak menyenangkan sebaiknya dihadapi dengan tawakal dan mencari hikmah dari setiap kejadian.
Mati, dalam konsep Islam, demi memperjuangkan agama disebut mati syahid. Menang dalam memperjuangkan agama Islam, ia mendapat kemuliaan. Pepatah bahasa Arab: Hiduplah dalam keadaan mulia bisa mempertahankan agama Allah. Jika tidak bisa, matilah secara syahid karena membela agama.
Q.S. Ath Thalaaq / 65:2 apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.
Bahasan Q.S. Ath Thalaaq / 65:2;
Konsep, ciri-ciri bertakwa:
1. Senantiasa memberi infak dalam keadaan mudah maupun susah
2. Bisa menahan amarah
3. Suka memaafkan orang lain
4. Jika melakukan suatu kesalahan, ia ingat Allah dan segera minta ampunan Allah
Dalam surat At Talaq, Allah berjanji akan memberi jalan keluar kepada manusia dari setiap kesulitan. Untuk menjadi orang yang bertakwa ikutilah ke empat konsep diatas.
Q.S. Ath Thalaaq / 65:3 dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Bahasan Q.S. Ath Thalaaq / 65:3;Rejeki yang tidak diduga-duga dalam arti keseluruhan, pemasukan dan pengeluaran. Memanfaatkan penghasilan maksimal adalah bagian dari rejeki. Sebesar apa yang engkau usahakan sebesar itu juga ganjaran yang akan kita terima. Allah sudah cukup baginya, artinya: seseorang tidak perlu bermanis muka, berbuat baik untuk mendapat pujian manusia tapi semua perbuatan baiknya tersebut dia serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Perihal takdir.
Golongan qodariyah, mereka mengatakan, seorang hamba mempunyai kehendak, kemauan dan keinginan tanpa ada campur tangan kehendak dan kekuasaan Allah. Manusia itu sendirilah yang menciptakan perbuatan tersebut.Golongan jabariyah, mereka mengatakan, seorang hamba terpaksa (dikendalikan) dalam perbuatan dan tindakannya, manusia tidak memiliki kehendak dan kemampuan. Semua sudah ditentukan oleh Allah SWT.
Ahlul sunnah wal jama’ah (mengikuti sunnah Rasul dan pendapat jamaah kebanyakan orang yang mendukung pendapat Rasul dan para sahabat). Rumusan takdir sudah ditentukan oleh Allah tapi ada campur tangan manusia yang membuatnya terjadi.
Contoh, kehadiran peserta di pengajian.
Menurut pandangan qodariyah, ia bisa hadir karena ada kehendak pribadi peserta.
Menurut pandangan jabariyah, Allah yang menentukan ia bisa menghadiri pengajian.
Menurut pandangan Ahlul sunnah wal jama’ah, peserta mendapatkan undangan pengajian. Takdir Allah yang sudah ditentukan: bila hadir di pengajian akan mendapatkan pahala, hikmah. Campur tangan manusia: hati tergerak untuk hadir di pengajian.
Selama kita tidak mengetahui dimana takdir kita, masih ada kesempatan untuk berusaha.
Anas bin Malik RA berkisah, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dengan mengendarai onta. Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, aku ikat ontaku dulu dan aku bertawakal. Atau aku biarkan saja dia lepas dan aku tawakal?” Nabi bersabda, “Ikat dulu ontamu, baru engkau bertawakal!” (HR. At-Tirmidzi).
Rasulullah saw. bersabda, “Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (HR.Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Tawakal artinya berusaha semaksimal mungkin kemudian menyerahkan diri kepada Allah SWT. Tidak hanya ibadah ritual yang ditingkatkan tetapi meningkatkan usaha menuju sesuatu yang ingin dicapai. Ataupun sebaliknya, hanya meningkatkan usaha saja tapi tidak bergantung kepada Allah. Bila hasilnya tidak tercapai maka ia akan putus asa karena tidak ada tempat bersandar dan berserah diri supaya hati menjadi tenang. Tawakal dipahami bahwa ketika seseorang berusaha, ia tidak mencapai hasil, tidak berhasil lalu ia tidak putus asa dan mencoba mencari hikmah dibalik setiap kejadian. Orang yang bertawakal akan tenang dalam menghadapi berbagai kondisi yang dihadapi dan tidak pernah putus asa.
Tanya Jawab
Tanya:
Apakah bacaan surah pendek setelah Al Fatihah harus sama dengan imam saat kita menjadi makmum dalam sholat berjamaah
Jawab:
Hal ini berkenaan dengan fiqih. Sabda Rasulallah SAW: tidak syah sholat seseorang yang tidak membaca surah Al Fatihah. Membaca al Fatihah adalah rukun sholat, ini wajib dilaksanakan. Untuk sholat Dhuhur dan Ashar yang bacaan saat sholat tidak dikeraskan oleh imam, makmum wajib membaca Al Fatihah. Boleh membaca surah pendek sesuai keinginan makmum atau diam. Apabila saat makmum membaca surah pendek belum selesai tetapi imam sudah ruku’, makmum wajib mengikuti gerakan imam.Untuk sholat Maghrib, Isya, Shubuh yang bacaan saat sholat dikeraskan oleh imam, makmum mengikuti bacaan Al Fatihah dan surah pendek yang dibaca oleh imam.
Fiqih menurut pandangan 4 mahzab untuk sholat Maghrib, Isya, Shubuh yang dilakukan berjamah:Imam Hambali: imam hendaknya memberi waktu jeda setelah membaca surah Al Fatihah kepada makmum yang hendak membaca Al Fatihah.
Imam Hanafi: makmum hanya mengikuti imam, saat imam membaca Al Fatihah makmum mendengarkan yang artinya membaca Al Fatihah bersama imam
Imam Syafei: makmum tetap wajib membaca Al Fatihah sendiri.
Kesimpulan: boleh membaca surat pendek sesuai kehendak makmum pada sholat dhuhur dan ashar
Tanya:
Apakah bagi wanita yang sholat berjamaah dengan imam perempuan diwajibkan untuk melakukan Iqomah sebelum sholat?
Jawab:
Aqiimush sholata artinya dirikankanlah sholat. Bila dipahami dengan arti iqomah sebenarnya adalah wujud perbuatan sholat itu sendiri. Ada dua pendapat ulama mengenai iqomah bagi perempuan yang sholat berjamah.
1. dianjurkan atau boleh
2. tidak dianjurkan, karena iqomah yang dimaksud adalah wujud dari sholat yang dilakukan.
Kesimpulan: iqomah boleh dilakukan atau tidak dilakukan. Adzan tidak dianjurkan bagi wanita dalam sholat berjamah, imam wanita.
Tanya:
Apakah bila perempuan menjadi imam saat sholat, bacaan sholatnya boleh dikeraskan?
Jawab:
Bacaan sholat boleh dikeraskan (Maghrib, Isya, Shubuh) tapi tidak sekeras atau setegas laki-laki.Makmum wanita tidak disunahkan untuk membaca keras Aamiin setelah usai membaca Al Fatihah. Bolehdikeraskan sebatas pendengaran ibu tersebut.
Tanya:
Apakah imam boleh membaca Aamiin setelah membaca Al Fatihah?
Jawab:
inti permasalahan; apakah lafaz aamiin bagian dari Al Fatihah? Semua ulama berpendapat lafaz aamin bukan bagian dari surah Al Fatihah. Berdasarkan sifat sholat nabi, Nabi membaca aamiin saat beliau menjadi imam. Nabi mengaminkan apa yang beliau baca saat menjadi imam. Bila kita mengikuti ibadah ritual sholat sesuai dengan sifat sholat nabi maka ada dua hal yang kita dapatkan. Pahala mengerjakan sholat dan pahala mengikuti sunah Rasul.
Berkaitan dengan Al Fatihah: ada dua pendapat ulama mengenai Bismillahirrahmanirrahim
1. semua ulama setuju bahwa Bismillahirrahmanirrahim berasal dari surat Q.S. An Naml / 27:30 Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. mayoritas ulama setuju bahwa Bismillahirrahmanirrahim adalah bagian dari surah Al Fatihah (ayat 1), pembuka surah.
Berdasarkan pendapat ini, ada imam yang membaca Al Fatihah mengeraskan bacaan Bismillahirrahmanirrahim atau dikeraskan pada saat Alhamdulillahirabbilaalamin. Berdasarkan sifat sholat Nabi: Nabi tidak pernah membaca dengan keras dan jelas Bismillahirrahmanirrahim saat menjadi imam.Kita tidak dapat berkutat pada mahzab dengan tujuan mencari jalan keluar yang mudah tetapi berusaha untuk mencari sumber contoh yang terbaik yaitu Rasul. Sabda Rasulullah SAW, sholatlah sebagaimana kalian melihat aku melakukan sholat.
Kesimpulan: mengenai sholat dan ibadah ritual ikutilah Rasul sebagai contoh yang terbaik.
Tanya:
Apakah kita dapat melaksanakan sholat sebelum waktunya karena khawatir ketiduran sehingga terlewat waktu sholat?
Jawab:
Tidak ada ulama yang membolehkan sholat sebelum waktunya( mewajibkan yang belum wajib). Bahkan para ulama cenderung berpendapat untuk menggantikan/mengqodhlo sholat yang tertinggal.
Tanya:
Bagaimana dengan penentuan masuknya waktu sholat, contoh waktu Isya masuk satu setengah jam setelah Maghrib?
Jawab:
penentuan masuknya waktu sholat adalah ikhtiar manusia untuk tujuan mengabdi kepada Allah SWT. Penentuan waktu masuk Isya apabila merah di langit sebelah barat sudah hilang, maka masukklah waktu Isya.
Tanya:
Bagaimana menghadapi waktu puasa lebih dari 14 jam?
Jawab:
waktu puasa diisi dengan kegiatan yang positif, aktif: seminar, mentadaburi Al Qur’an. Cukupkan bilangannya. Kalau tidak mampu bayar fidyah kemudian ganti puasa dihari lainnya. Pengambilan bilangan waktu: mengambil bilangan negara Islam yang terdekat ke arah selatan yang mendekati khatulistiwa.Perihal ini belum dibahas di buku-buku klasik. Penyebaran Islam dahulu di negara-negara dekat khatulistiwa
Q:S. Al Baqarah/ 2:185 (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Konsep utama dalam puasa1. Allah tidak menginginkan kesukaran2. cukupkan bilangannya dari masuk fajar hingga terbenam matahari3. puasa sekuat mungkin, bila tidak yakin bayarkan fidyah dan menggantikan dengan hari yang lain, sesuai Q.S Al Baqarah 2:184 (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yangdengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[4], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [4]. Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


