Percikan Iman, 24 Agustus 2008 (Iman, Islam, Ihsan)


Hari / tanggal : Minggu / 24 Agustus 2008
W a k t u : Pk. 11:30 – 17:00
T e m p a t : FZA Kanzleistrasse, Kanzleistrasse 24, 8405 Winterthur
T e m a :    Iman, Islam, Ihsan
Penyampai Materi : Desrial Anwar (bang Aal)

 

Tiga hal mendasar yang harus dipahami sebaik mungkin adalah Iman, Islam, Ikhsan (tiga-i). Arti peribahasa, benar-benar mengerti dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadist mengenai Iman, Islam, Ikhsan turun salah satunya karena pada masa sahabat nabi enggan bertanya pada Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tentang urusan agama.

Sebelumnya para sahabat sering bertanya hingga ke hal-hal kecil. Hingga Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan, ”Kamu (para sahabat) lebih tahu urusan duniamu, urusan dunia tidak perlu bertanya kepada Rasul”.

Setelah sekian lama para sahabat tidak bertanya kepada Rasul, Allah mengutus malaikat Jibril dalam suatu majelis. Jibril bertanya tentang iman, islam, ikhsan kepada Rasul. Rasul menjawab dan kemudian Jibril membenarkan pernyataan Rasul.

Apakah Iman itu?

1.  Iman terangkum dalam rukun iman, yaitu: Rukun Iman ada enam (6) perkara :

(1) Beriman kepada ALLAH subhanahu wa ta’ala

(2) Beriman kepada Malaikat-malaikat

(3) Beriman kepada Kitab-kitab

(4) Beriman kepada Rasul-rasul

(5) Beriman kepada Hari Kiamat

(6) Beriman kepada Qada dan Qadar

 

2. Islam  Rukun Islam ada lima (5) perkara :

(1) Mengucap dua kalimah syahadat
(2) Sholat lima waktu
(3) Berpuasa sebulan dalam bulan Ramadhan
(4) Menunaikan haji ke Baitullah (Mekah)
(5) Menunaikan zakat

3. Ikhsan arti dalam Bahasa Indoneseia adalah perbuatan baik. Hendaknya engkau berbuat sesuatu seakan-akan engkau melihat Allah. Bila tidak bisa, yakinlah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melihat mu. 

Pembahasan Iman

Kebanyakan orang menilai, apakah seseorang beriman, hanya dari ibadah ritual atau perbuatan baik yang dikerjakannya. Makna dari Iman: percaya kepada Allah, bila perbuatan baik tidak didasari bahwa semua hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang akan memberkan ganjaran pahala otomatis, maka semua perbuatan baik tersebut akan sia-sia dimata Allah subhanahu wa ta’ala. 

1. Beriman kepada Allah

Artinya seseorang betul-betul yakin bahwa Allah Ar-Rahmaan dan  Ar-Rahiim. Selain itu, ia yakin bahwa Allah Al-Aziiz (Maha Perkasa) dan Al Jabbaar (kehendakNya tidak dapat diingkari) sehingga seseorang tidak menggampangkan Allah dan ia yakin bila melakukan perbuatan salah dan tidak bertobat maka akan ada perhitungan di hari akhir. Kondisi sengsara penduduk neraka: saat mereka meminta belas kasihan kepada Allah“. Ya Allah, panjangkanlah umur kami,kembalikan kami ke dunia, kami akan melakukan yang terbaik.“. Allah menjawab,“karena dulu Kami memberi kesempatan untuk hidup, kamu melupakan ayat-ayat Kami, pesan-pesan Kami, ajaran-ajaran Kami, maka hari ini kamu dilupakan“. 

Salah satu cara untuk menambah keimanan kita adalah dengan mengenal Allah. Ini dapat dilakukan dengan cara memahami sifat-sifat Allah (Asmaul Husna). Contoh: Ar-Raafi’ artinya Maha Meninggikan, Al Khafiidh artinya Maha Merendahkan.

2. Beriman kepada malaikat

Dalam Islam, Iman kepada malaikat adalah salah satu rukun Iman. Iman kepada malaikat adalah percaya dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa malaikat Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar ada. Keberadaan malaikat bersifat gaib, artinya tidak dapat dilihat oleh mata tetapi keberadaannya dapat diketahui dan dipahami, seperti adanya wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul. Para nabi dan rasul  menerima wahyu melalui perantara malaikat Allah subhanahu wa ta’ala.

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, ada 10 malaikat yang wajib diimani oleh kita sebagai muslim. Sepuluh malaikat tersebut mempunyai  beserta tugasnya adalah sebagai berikut:
Jibril     Menyampaikan wahyu kepada para rasul dan nabi
Mikail   Membagi rezeki kepada semua makhluk, termasuk memberi makan, minum, dan menurunkan hujan
Izrail     Mencabut roh atau nyawa semua makhluk apabila sudah tiba saatnya.
Israfil    Meniup sangkakala (terompet) jika telah sampai saatnya hari kiamat.
Raqib    Mencatat setiap kebaikan dan amal baik manusia
Atid      Mencatat setiap kejahatan dan amal buruk manusia
Munkar dan Nakir          Memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada orang yang ada dalam kubur
Malik    Menjaga pintu neraka
Ridwan Menjaga pintu syurga 

Malaikat penjaga neraka terdapat dalam Q.S At- Tahrim ayat  6:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah subhanahu wa ta’ala terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“.  

3. Beriman kepada kitab

Kita mengimani bahwa Taurat, Zabur, Injil adalah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Qur’an. Percaya kepada Kitab-Kitab Allah
1.      Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s,
2.      Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s,
3.      Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s,
4.      Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam 

Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk lebih tahu mengenai isi Al Quran. Tidak hanya membaca, tetapi mengetahui isinya dan mengamalkannya. Salah satu contoh berapa besar keimanan kita adalah dengan menjalankan ibadah puasa lebih dari 14 jam. Allah subhanahu wa ta’ala sudah memberikan solusi sejak Al Quran diturunkan mengenai pelaksanaan puasa dalam Q.S:2. Al Baqarah ayat 184:

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 

[114] Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

 

Ada beberapa kondisi yang mempengaruhi seseorang ketika menjalankan puasa. Kondisi umum yaitu puasa. Kondisi individu (badan) contoh: hamil, menyusui, bepergian, manula mendapatkan keringanan saat puasa. Kondisi global: tidak mampu berpuasa dalam waktu lama (lebih dari 14 jam, kondisi secara umum membuat seseorang tidak mampu berpuasa). Membayar fidyah sebanyak hari tidak mampu puasa dan mengganti puasa di hari lain.

Barang siapa melebihkan ibadahnya, hendaklah puasa itu lebih baik bagimu. Hikmah hitungan puasa tidak mengacu pada bulan tertentu adalah: kita dapat merasakan betapa besar rahmat Allah subhanahu wa ta’ala bila berpuasa di bulan Januari (contoh: di benua Eropa). Disisi lain menyadari bahwa orang miskin yang menahan lapar dan haus tidak hanya di musim dingin tapi ada juga di musim panas. Orang beriman benar-benar menyadari bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang terbaik untuknya tanpa mengurangi haknya. Jadikanlah Allah subhanahu wa ta’ala sebagai teman tempat mencari solusi, mencari inspirasi berdasarkan keimanan kita. Sebesar iman kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebesar itu pula solusi yang kita dapatkan sesuai kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.

4. Beriman kepada Nabi

Nabi adalah seorang manusia biasa yang mendapat keistimewaan, yakni menerima wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Diantara para nabi ada yang diamanatkan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada umat manusia. Nabi yang demikian disebut Rasul.

Semua nabi dan rasul biasanya diperlengkapi dengan mukjizat, yaitu perbuatan luar biasa yang dapat dilakukan para nabi dan rasul. Biasanya digunakan untuk membuktikan diri mereka sebagai nabi atau rasul. Semua rasul adalah nabi tapi tidak semua nabi adalah rasul. Ada 25 nabi dan rasul yang wajib kita ketahui sebagai umat Muslim. Nama-nama 25 nabi dan rasul tsb tertera dalam Al-Quran. Berikut adalah nama-nama mereka:

1.         Adam AS
2.         Idris As
3.         Nuh AS
4.         Hud AS
5.         Shaleh AS
6.         Ibrahim AS
7.         Ismail AS
8.         Luth AS
9.         Ishaq AS
10.       Ya’qub AS
11.       Yusuf AS
12.       Ayyub AS
13.       Zulkifli AS
14.       Syu’aib AS
15.       Musa AS
16.       Harun AS
17.       Daud AS
18.       Sulaiman AS
19.       Ilyas AS
20.       Ilyasa AS
21.       Yunus AS
22.       Zakaria AS
23.       Yahya AS
24.       Isa AS
25.       Muhammad SAW 

Sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak hanya mengetahui nama-nama nabi dan rasul tapi berusaha mengetahui, mendalami secara detil sejarah para nabi dan rasul sehingga dapat mengambil intisari kisah nabi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Beriman kepada hari akhir

Semua agama mengenal konteks ganjaran dosa dan pahala. Beriman kepada hari akhir yakni beriman kepada adanya kebangkitan dan dihimpunkannya manusia. Beriman dengan hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal). Allah subhanahu wa ta’ala menghitung amal setiap manusaia berdasarkan amal yang mereka lakukan di dunia. Barang siapa termasuk ahli tauhid dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta rasulNya, ia akan mendapatkan perhitungan yang mudah dan ringan. Sebaliknya siapa termasuk ahli syirik dan maksiat akan mendapati hisab yang sulit dan berat. Bila seseorang yakin akan hari akhir maka ia tidak akan menyakiti hamba Allah lainnya.

6. Beriman kepada takdir

Takdir terbagi atas qadar (rumusan Allah subhanahu wa ta’ala) dan qodlo (ada usaha manusia). Apakah seseorang yang masuk surga atau neraka sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala? Jawabannya adalah sudah. Allah subhanahu wa ta’ala sudah mentakdirkan rumusan bahwa mereka yang berbuat baik akan masuk surga dan mereka yang berbuat jahat akan masuk neraka. Masuknya seseorang ke dalam surga atau neraka sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah memberikan kepada manusia dua pilihan/jalan yaitu baik dan buruk. Bila Allah subhanahu wa ta’ala memaksa seseorang berbuat baik artinya Allah subhanahu wa ta’ala tidak adil. Contoh, apabila seseorang berbuat satu kesalahan maka akan timbul satu bisul. Bila melakukan banyak kesalahan akan tumbuh banyak bisul artinya Allah subhanahu wa ta’ala memaksa hambanya untuk berbuat baik dan tidak sesuai dengan sifat Allah subhanahu wa ta’ala  yang Maha Adil. 

Dalam suatu pengajian pernah ada pertanyaan, Allah Maha Segalanya, kenapa Allah subhanahu wa ta’ala tidak membasmi habis setan dan iblis? Allah berjanji kepada iblis yang ingkar kepada Allah dan tidak mau sujud kepada Adam. 

Allah tidak menghancurkan iblis begitu saja. Bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menilai kita dari usaha yang kita lakukan? tidak ada jihad.Sebuah hadist, Rasul bertanya kepada sahabat,” Siapa yang ingin masuk surga?” Sahabat menjawab, “mau.” Nabi menjawab,” Semua umatku masuk surga kecuali yang enggan masuk. Bagi mereka yang mematuhi ajaran yang aku bawa, dia akan masuk surga tapi yang tidak mematuhi ajaranku (enggan masuk surga).” 

Ciri orang beriman terdapat dalam Q.S(8). Al Anfaal ayat 2:  

2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. 

[594]  Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[595] dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya. 

Ciri orang beriman yang tingkatnya lebih tinggi terdapat dalam Q.S(2) Al Baqarah ayat 2 -5:
1. Alif laam miin[10].
2. Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],
3. (yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14], yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu[17], serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[18].
5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung[19]. 

[10] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
[11] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[12] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
[13] Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.
[14] Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. percaya kepada yang ghjaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.
[15] Shalat menurut bahasa ‘Arab: doa. Menurut istilah syara’ ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.
[16] Rezeki: segala yang dapat diambil manfaatnya. menafkahkan sebagian rezeki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzekikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari’atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.
[17] Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada p
ara rasul. Allah menurunkan kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada rasul.
[18] Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. akhirat lawan dunia. kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.
[19] Ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah mengusahakannya. 

ISLAM:

Menjadi orang Islam, orang harus bersyahadat dulu. Islam terangkum dalam rukun islam yaitu:

1. Mengucap dua kalimat syahadat

2. Sholat lima waktu: perwujudan dengan mendirikan sholat lima waktu dalam hal ini wajib. Bila seseorang tidak melakukan sholat, otomatis sudah tidak dikatakan Islam secara hukum.

3. Berpuasa sebulan dalam bulan Ramadhan

4. Menunaikan zakat: mampu, berkecukupan 2,5% setiap tahun

5. Menunaikan haji ke Baitullah (Mekah).  Haji dalam sisi hukum menurut Imam Syafi’i adalah kewajiban segera mengingat kita tidak mengetahui sampai dimana usia kita. Mampu dalam hal materi dan kesiapan mental. Alangkah sempurnanya orang pergi haji bila syahadatnya kuat, artinya semua urusan kembali kepada Allah. 

IHSAN

oleh Alm. Ustadz Rahmat Abdullah

http://happyaisyah.multiply.com/reviews/item/7

dakwatuna.com – Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.

Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril —yang menyamar sebagai seorang manusia— mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah swt. memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.

“Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS. An-Nahl: 90)

Pengertian Ihsan

Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah swt. berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (Al-Isra’: 7)

“Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (QS. Al-Qashash: 77)

Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah swt.

Landasan Syar’i Ihsan

Pertama, Al-Qur`anul Karim

Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.

“Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS An-Nahl: 90)

“… serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….” (QS. Al-Baqarah: 83)

“Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu….” (QS. An-Nisaa`: 36) 

Kedua, As-Sunnah

Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan —ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim) Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.” (HR. Muslim) 

Tiga Aspek Pokok dalam Ihsan

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.

1. Ibadah

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

Tingkatan Ibadah dan Derajatnya

Berdasarkan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang pada setiap tingkatan derajatnya masing-masing seorang hamba tidak dapat mengukurnya. Karena itulah, kita berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat, ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, ia menempati Jannatul Firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak, para penghuni surga tingkat bawah akan saling memandang dengan penghuni surga tingkat tertinggi, laksana penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang menandakan jauhnya jarak antara mereka.

Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tingkat at-Takwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajat yang berbeda-beda.

2. Tingkat al-Bir, yaitu tingkatan menengah dengan derajat yang berbeda-beda.

3. Tingkat al-Ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dengan derajat yang berbeda-beda pula.

Pertama, Tingkat Takwa

Tingkat takwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Muttaqun, sesuai dengan derajat ketakwaan masing-masing. 

Takwa akan menjadi sempurna dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah dapat mengakibatkan sanksi dan melakukan salah satu larangannya adalah dosa. Dengan demikian, puncak takwa adalah melakukan seluruh perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Namun, ada satu hal yang harus kita pahami dengan baik, yaitu bahwa Allah swt. Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang memiliki berbagai kelemahan, yang dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu, Allah membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara tobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut, Allah swt. akan mengampuni hamba-Nya yang berdosa karena kelalaiannya dari menunaikan hak-hak takwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik pada peringkat puncak takwa, boleh jadi ia akan naik pada peringkat bir atau ihsan. Peringkat ini disebut martabat takwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang menjaga dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar yang diterima oleh Allah swt. 

Kedua, Tingkat al-Bir

Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Abrar. Hal ini sesuai dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah swt. hal ini dilakukan setelah mereka menunaikan segala yang wajib, atau yang ada pada peringkat sebelumnya, yaitu peringkat takwa. Peringkat ini disebut martabat al-Bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuatu sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang diharamkan-Nya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala di dalamnya. Akantetapi, mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam kelompok al-bir, kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama, yaitu peringkat takwa. Karena, melakukan hal pertama merupakan syarat mutlak untuk naik pada peringkat selanjutnya.  Dengan demikian, barangsiapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang dia tidak mengimani unsur-unsur kaidah iman dalam Islam, serta tidak terhindar dari siksaan neraka, maka ia tidak dapat masuk dalam peringkat ini (al-bir). Mengenai hal ini, Allah swt. berfirman dalam kitab-Nya, “Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaikan itu adalah takwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. l-Baqarah: 189) “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 193) 

Ketiga, Tingkatan Ihsan

Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. Mereka adalah orang-orang yang telah melalui peringkat pertama dan yang kedua (peringkat takwa dan al-bir).  Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna —seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya– maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, selama hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk melakukannya. Untuk dapat naik ke martabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah, serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah swt. 

2. Muamalah

Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut: 

Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua

Allah swt. menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumr lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 23-24) Ayat di atas mengatakan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar dengan ibadah kepada Allah. Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. bersabda, “Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.” Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan keislaman. 

Kedua, Ihsan kepada kerabat karib

Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah swt. menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak di muka bumi. Allah berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)  Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan hubunganku dengannya.” (HR. Turmudzi) Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni dan Abu Dawud) 

Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin

Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).” Diriwayatkan oleh Turmudzi, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa —dari Kaum Muslimin— yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.” 

Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat

Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah. 

Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim; sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya, “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang tidak beriman, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Syaikhani)

Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. Ath-Thabrani)

Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya

Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)

Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.

Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya, Rasulullah?” Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya membuat makanan untuk salah seorang di antara kamu, kemudian ia datang membawa makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu mempersilakannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka hendaklah kamu memberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan Abi Daud)

Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pribadinya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.

Pada akhir pembahasan mengenai bab muamalah ini, Allah swt. menutupnya firman-Nya yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj: 38)

Ayat di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah swt.

Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)  Masih riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “Ucapan yang baik adalah sedekah.” Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka. 

Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang

Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam. Inilah sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. 

Beberapa contoh ihsan dalam hal muamalah

Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw., yaitu Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya. Kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw. berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akantetapi, Rasulullah malah berkata, “Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.” Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya perempuannya, “Kipasilah aku sampai aku tertidur.” Lalu, hambanya pun mengipasinya sampai Umar tertidur. Karena sangat mengantuk, sang hamba pun tertidur. Ketika Umar bangun, beliau mengambil kipas tadi dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba sahaya itu terbangun, maka ia pun berteriak menyaksikan tuannya melakukan hal tersebut. Umar kemudian berkata, “Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini kepadamu, sebagaimana engkau melakukannya padaku.” 

3. Akhlak

Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya. Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.” 

Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt. mengambil ruh ini dari kita.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!