Puasa 17 Jam di Rusia
Surabaya Post. Sabtu, 22 Agustus 2009
Oleh M. Aji Surya, Moskow (disampaikan oleh Zulkarnayn)
Tanpa harus melalui perdebatan panjang di media media masa, puasa di Rusia sudah dimulai pada Jumat (21/8). Inilah puasa panjang yang bisa mencapai 17 jam lamanya. Maklum, saat ini bumi utara sedang menjalani musim panas.
Masjid Prospek Mira di jantung kota Moskow, Kamis sore itu semarak. Jamaah berduyun-duyun berdatangan untuk melaksanakan shalat berjamaah Isya dan Tarawih.
Maklum, sehari sebelumnya, Kantor Dewan Mufti Rusia sudah mengumumkan bahwa puasa dimulai Jumat.
Terlihat ratusan jamaah yang berkulit putih khusuk menjalankan ibadah menyambut kehadiran bulan nan suci. Mereka baru bubar dan kembali ke rumah masing-masing tepat tengah malam.
Suasana serupa juga terjadi di kedutaan kita, jalan Novokuznetkaya 12. Tepat jam 22.00 malam, seratusan umat Islam asal Indonesia sholat Isya dan dilanjutkan tarawih berjamaah sebelas rekaat.
Tidak lupa, aneka makanan kecil ala Indonesia seperti lumpia disuguhkan sebagai teman berbincang tentang puasa yang panjang. “Jangan main-main, iman kita mulai besok diuji selama lebih 16 jam,” ujar seorang ibu berjilbab kepada temannya yang disambut derai tawa.
Hari-hari puasa di Moskow, Rusia nyaris tidak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Semua berjalan seolah tidak ada yang berubah dalam hidup ini. Koran dan media elektronik tidak memberikan porsi khusus bagi menyambut Ramadhan.
Kantor buka jam 09.00 dan tutup jam 17.00 seperti biasa. Restauran tetap ramai di saat makan siang dan menjelang sore. Bahkan aneka hiburan malam tetap saja berkelap kelip. Tidak ada ucapan assalamualaikum apalagi ucapan selamat berpuasa di jalanan.
Berpuasa di bumi Tuhan bagian utara ini memang urusan yang sangat pribadi. Benar-benar antara dirinya dan Tuhan di atas sana. Maklum di kota terbesar di Rusia ini muslim adalah kaum minoritas dari sekitar 13 juta penduduk yang ada. Mereka hanya seonggok manusia yang harus bertahan dengan keimanannya di tengah lautan manusia yang beragama Ortodoks. Umumnya, mereka yang beragama Islam di kota tersebut adalah kaum pendatang yang berasal dari wilayah Rusia bagian Selatan seperti Kirgiztan, Tajikistan, Uzekistan dan hampir semua daerah yang berakhiran “tan”.
Bagi seorang muslim disini, hanyalah iman yang menjadi pengendali diri. Hanya iman saja yang dapat mengantarkan diriya menjadi seorang shoim (orang yang berpuasa) dalam arti yang sebenarnya.
Tidak ada yang memberikan kepedulian apakah ia makan dan merokok di siang bolong. Melalui ayat-ayat Tuhan sajalah yang akan mengantarkan manusia tetap tunduk dan sujud serta patuh kepadaNya.
Meskipun begitu, di era keterbukaan Rusia saat ini, tidak ada juga pihak yang melecehkan mereka yang berpuasa. Dunia kota yang sudah memasuki masa pragmatis, kapitlistik dan hedonistik ini memahami bahwa siapapun boleh melakukan apapun atas keyakinannya, selama tidak melanggar hukum yang berlaku. Asal tidak menganggu lainnya. “Saya tahu bahwa ini mulai Ramadhan bagi umat Islam. Karascho (itu baik, Red),” demikian kata Veodor, seorang lelaki tengah baya, tanpa ekspresi apapun.
Di Rusia, umat Islam adalah kelompok penganut agama kedua terbesar setelah Ortodoks. Dari jumlah penduduk sekitar 140 juta jiwa, maka umat Islamnya bejumlah 20 juta. Agama Islam dianggap sebagai agama asli dan karenanya diakui secara nasional dan diberi tempat cukup terhormat dalam tataran pemerintahan maupun kehidupan masyarakat lainnya. Justru agama
Katolik dan Kristen tidak memiliki tempat yang cukup karena dalam batas-batas tertentu dianggap pesaing Ortodoks.
Di hampir setiap kota, terdapat pewakilan Kantor Dewan Mufti atau semacam MUI kita. Inilah organisasi yang menggerakkan kegiatan keagamaan dan budaya Islam di seantero Rusia sampai dengan urusan pendidikan.
Di Moskow sendiri telah berdiri universitas Islam Moskow dan di wilayah tengah Rusia ada Universitas Islam Rusia. Keduanya sangat berminat untuk menjalin kerjasama dengan universitas Islam di Indonesia.
Mufti atau pemimpin agama tertinggi di suatu wilayah, boleh dibilang memiliki pengaruh yang cukup besar. Ia memiliki suatu wewenang tertentu dalam bidang keagamaan dan mendapatkan legitimasi dari Pemerintah yang berkuasa. Seorang Mufti setiap hari sangat sibuk, mulai mengurus zakat, haji hingga diskusi dengan Presiden atau Perdana Menteri.*
*Penulis adalah alumnus Pondok Modern Gontor yang kini bermukim di Moskow, Rusia (ajimoscovic@gmail.com)


