<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengajian Indonesia di Swiss</title>
	<atom:link href="http://www.pengajian-indonesia.ch/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pengajian-indonesia.ch</link>
	<description>Penyambung Tali Silaturahmi Muslim &#38; Muslimah di Swiss</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Nov 2011 21:32:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Percikan Iman, 20.03.2010 (Hadist Arba&#8217;in)</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2011/11/01/percikan-iman-20-03-2010-hadist-arbain/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2011/11/01/percikan-iman-20-03-2010-hadist-arbain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 21:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>grace</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Dirangkum oleh : Grace Tedjasukmana
Seperti yang telah kita ketahui bahwa, Allah SWT telah memberi perintah kepada manusia yang artinya : “bacalah Al-Qur’an”
Makna membaca dalam hal ini atau dalam hal berinteraksi dengan Al-Qur’an  mengandung 2 arti, yaitu :

Tilawah adalah membaca Al-Qur’an / melafalkannya seperti biasa dalam bahasa arab
Qira’ah adalah membaca dengan meneliti, mempelajarinya secara mendalam sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dirangkum oleh : Grace Tedjasukmana</p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui bahwa, Allah SWT telah memberi perintah kepada manusia yang artinya : “bacalah Al-Qur’an”</p>
<p>Makna membaca dalam hal ini atau dalam hal berinteraksi dengan Al-Qur’an  mengandung 2 arti, yaitu :</p>
<ol>
<li>Tilawah adalah membaca Al-Qur’an / melafalkannya seperti biasa dalam bahasa arab</li>
<li>Qira’ah adalah membaca dengan meneliti, mempelajarinya secara mendalam sehingga memahami makna Al-Qur’an</li>
</ol>
<p>Pentingnya kedua makna membaca tersebut apabila kita jalankan akan menghindarkan kita dari gambaran yang tercantum dalam QS : Al-Jumu’ah ayat  5 yang isinya merupakan peringatan Allah SWT kepada orang-orang Yahudi yang tidak mengamalkan isi kitabnya.</p>
<p>Hal ini terkait juga dengan QS : Al-Muddatstsir ayat 38-47.</p>
<p>Ayat 38, artinya “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”</p>
<p>Di hari akhir Allah akan bertanya kepada setiap manusia, apakah kalian sudah tilawatil dan qira’atul Al-Qur’an ?</p>
<p>Oleh karena itu sebelum hari akhir itu datang, maka kita harus mempersiapkan diri dengan cara melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.</p>
<p>Pada dasarnya manusia akan sulit mempertanggungjawabkan perbuatannya kecuali bagi golongan kanan, seperti yang tercantum dalam ayat 39.</p>
<p>Orang-orang golongan kanan yang dimaksud tersebut adalah orang-orang yang masuk surga.</p>
<p>ayat 40, artinya : “dalam surga, mereka bertanya-tanya…”</p>
<p>ayat 41, artinya : “tentang keadaan orang-orang yang berdosa…”</p>
<p>ayat 42, artinya : “apa yang membuat kamu masuk neraka…”</p>
<p>jawabannya :</p>
<ol>
<li>dalam ayat 43, yang artinya : “kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,</li>
<li>dalam ayat 44, yang artinya : “dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,</li>
<li>dalam ayat 45, yang artinya : “dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,</li>
</ol>
<p>Termasuk dalam point 3 ini diantaranya bergosip atau ghibah, membicarakan orang lain.</p>
<ol>
<li>dalam ayat 46, yang artinya : “dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,</li>
</ol>
<p>Maksud mendustakan disini adalah tidak mempercayai hari kiamat sehingga mempunyai keyakinan bahwa hidup hanya satu kali dan berprinsip hanya menikmati hidup saja. Berbeda dengan orang yang meyakini hari kiamat maka orang tersebut akan mempersiapkan diri dan akan menjaga diri dari hal-hal yang akan mengakibatkan dosa bagi dirinya.</p>
<p>Orang-orang yang masuk neraka itu mendustakan hari kiamat sampai dengan waktu yang tercantum dalam ayat 47</p>
<ol>
<li>dalam ayat 47, yang artinya : “sampai datang kepada kami kematian”.</li>
</ol>
<p>Bahasan berikutnya adalah kupasan QS : Al-Maa’idah : 1-10 yang akan dikaitkan dengan hadist Arba’in.</p>
<p>Hadist Arba’in atau hadist 40 disebut demikian karena jumlahnya sekitar empatpuluhan (tepatnya 42 hadits). Hadits-hadits ini dikumpulkan oleh imam An-Nawawi yang berasal dari Mesir dan tinggal di kota Nawa oleh karena itu dikenal dengan Nawawi.</p>
<p>QS : Al-Maa’idah ayat 2 sampai 10</p>
<p>Surat Al-Maa’idah ini berisi tentang orang yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah.</p>
<p>QS : Almaaidah ayat 2</p>
<p>Firman Allah yang artinya : “……… jangan sampai kebencianmu kepada suatu kaum  karena mereka menghalang-halangi mu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka).”</p>
<p>Karena kebencian kepada seseorang menjadikan kita berbuat tidak adil kepadanya dan hal baik dari orang yang kita benci itu hilang semuanya.</p>
<p>“…dan tolong-menolonglah dalam berbuat baik dan ketaqwaan, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.”</p>
<p>Dalam Hadist ke-36 disebutkan :</p>
<ul>
<li>Barang siapa yang mencoba membantu saudaranya menyelesaikan/mencari jalan keluar dari suatu masalah/kesulitan, maka Allah akan membantunya menyelesaikan kesulitan-kesulitannya nanti di hari kiamat ….</li>
</ul>
<p>Misalnya mendengarkan seseorang yang sedang mempunyai masalah, itu berarti sudah mulai membantu dia dalam meringankan bebannya dari kesulitan yang sedang dihadapinya.</p>
<ul>
<li>…barang siapa yang memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya  di dunia dan akhirat… Salah satu contoh hal ini adalah memudahkan dalam urusan hutang piutang dengan mencatatnya dan tidak membebani bunga pinjaman, bahkan jika memungkinkan membebaskan hutang tersebut jika yang meminjam sudah tidak mampu mengembalikannya.</li>
<li>…barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan  menutup aibnya di dunia dan akhirat…</li>
<li>…Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya…</li>
<li>…barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah memudahkan baginya jalan ke surga…</li>
<li>…suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan dikelilingi malaikat serta Allah akan menyebut mereka kepada orang-orang yang berada disisiNya… Hal ini sangat bergantung dan berkaitan erat kepada niat yang tercetus dalam hati. Hal niat dibahas dalam Hadist ke-1</li>
<li>…barang siapa yang terlambat amalannya, niscaya tidak akan dipercepat oleh keturunannya.</li>
</ul>
<p>Hadist ke-35 disebutkan :</p>
<p>Dari Abu Hurairah r.a., katanya : „Telah bersabda Rasulullah SAW:  janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah, dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak 3 kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”</p>
<p>Setiap makhluk Allah pada dasarnya mempunyai kelebihan dan kekurangan tertentu tetapi yang paling mulia di mata Allah adalah ketaqwaannya.</p>
<p>Ujian dari Allah kepada manusia bisa dalam bentuk yang disenangi misalnya kekayaan, kesehatan, kecantikan dll, maupun yang tidak disenangi oleh manusia misalnya kemiskinan, sakit-sakitan atau ketidaksempurnaan. Pada dasarnya semua itu merupakan ujian dari Allah dan yang dinilai Allah adalah bagaimana manusia itu menyikapi dan menjalankan semua ujian itu.</p>
<p>Dalam surat  Al-Maa’idah ayat 8, kita dituntut untuk berlaku adil.</p>
<p>Adil mempunyai pengertian bahwa segala sesuatu harus ditempatkan sesuai dengan porsinya.</p>
<p>Dalam hal adopsi anak, harus dijelaskan kepada anak adopsi bahwa dia bukan anak kandung orang tua angkatnya, karena ada batasan-batasan tertentu yang tidak dapat diterobos oleh anak adopsi. Misalnya anak adopsi laki-laki jika sudah dewasa maka dia bukan mahram bagi ibu angkatnya atau saudara perempuan angkatnya begitu pula bagi anak adopsi perempuan jika sudah dewasa bukan mahram bagi bapak angkatnya dan saudara laki-laki angkatnya.</p>
<p>Perlakuan terhadap anak adopsi harus diperlakukan adil sesuai porsinya.</p>
<p>Taqwa itu merupakan keyakinan akan keimanan dalam hati yang direalisasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga seseorang yang taqwa akan bisa dirasakan oleh orang lain melalui sikap dan perilakunya.</p>
<p>Karakter manusia ada 4 :</p>
<ol>
<li>orang yang susah marah juga susah baiknya</li>
<li>orang yang mudah marah dan mudah juga baiknya</li>
<li>orang yang mudah marah dan susah baiknya</li>
<li>yang terbaik adalah orang yang susah marahnya dan mudah baiknya.</li>
</ol>
<p>Orang yang berkarakter ke-4 ini yang tergolong orang yang bertaqwa.</p>
<p>Hadist ke-34 disebutkan :</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda : “barang siapa diantaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasehatinya); dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (membenci dan tidak setuju atas kemungkaran yang terjadi dan mendo’akan orang tersebut untuk keluar dari kemungkaran tersebut), dan itu adalah selemah-lemahnya iman“</p>
<p>Penyampai materi : Bpk. Desrial Anwar</p>
<p>Tempat : Freizeitanlage, Kanzleistrasse 24, 8405 Winterthur</p>
<p>Waktu : Sabtu, 20 Maret 2010</p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_64'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_64' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_64' style='height: 140px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='125' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|64';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2011/11/01/percikan-iman-20-03-2010-hadist-arbain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percikan Iman, 31.10.2009 (Kriteria sukses dunia dan akhirat)</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2010/03/23/percikan-iman-31-10-2009-kriteria-sukses-dunia-dan-akhirat/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2010/03/23/percikan-iman-31-10-2009-kriteria-sukses-dunia-dan-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 14:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>grace</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Dirangkum oleh Dian Frey
Sukses seseorang di dunia dapat kita lihat, tetapi sukses seseorang di akhirat tidak dapat kita lihat.Seperti yang tercantum pada  Al Baqarah ayat 1 &#8211; 5 yang berbunyi :
Alif Lam Mim
Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqin
Alladziina yu&#8217;minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mim maa razaqnyyhum yunfiquun
Wal ladziina yu&#8217;minuuny bi maa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dirangkum oleh Dian Frey</p>
<p>Sukses seseorang di dunia dapat kita lihat, tetapi sukses seseorang di akhirat tidak dapat kita lihat.Seperti yang tercantum pada  Al Baqarah ayat 1 &#8211; 5 yang berbunyi :</p>
<p>Alif Lam Mim</p>
<p>Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqin</p>
<p>Alladziina yu&#8217;minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mim maa razaqnyyhum yunfiquun</p>
<p>Wal ladziina yu&#8217;minuuny bi maa unzila ilaika wa maa unzila min qablika wa bil aakhirati hum yuuqinuun</p>
<p>Ulaa-ika &#8216;alaa hudam mir rabbihim wa ulaa-ika humul muflihuun.</p>
<p>(Ayat-ayat ini yang sering dibaca pada awal Ramadan atau pada waktu tahlilan setelah membaca Yasin)</p>
<p>Dari kelima ayat ini dapat diketahui kiat sukses. Orang yang suskses menurut Al Quran adalah &#8211; dari surat <strong>Al Baqarah ayat 3</strong>:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, <strong><em>Alladziina yu’minuuna bil ghaibi</em> </strong>– orang yang percaya kepada yang ghaib. Hal-hal yang ghaib adalah hal yang tidak bisa dirasakan oleh panca-indera manusia yang hanya dapat diketahui dari Al Quran dan Sunnah Nabi. Percaya kepada hal yang ghaib:</p>
<p>Pertama, Percaya kepada Allah SWT Sang Pencipta</p>
<p>Kedua, Percaya kepada Malaikat</p>
<p>Ketiga, Percaya kepada Hari Kiamat</p>
<p>Keempat, Percaya kepada Takdir</p>
<p>Orang yang percaya kepada hal yang ghaib ini sudah maju selangkah kedepan untuk menjadi orang sukses di Akhirat.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Dan orang yang sukses itu adalah orang yang mendirikan sholat, <strong><em>..wa yuqiimuunash shalah</em>..</strong></p>
<p>Tidak ada artinya jika seseorang telah berhasil dengan pekerjaannya, memiliki segala kemewahan akan tetapi tidak shalat. Seperti difirmankan dalah Al Quran, Allah SWT bersabda, ‘Dirikanlah Shalat untuk mengingatku, <strong>akina shalata lil dzikri.’</strong> Kalau seseorang sudah yakin bahwa Allah sumber segalanya yang memberikan rejeki dan segalanya, maka dia harus berterima kasih kepada Allah SWT yang Memberi. Salah satu cara yang paling tinggi berterima kasih adalah dengan Shalat.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Kemudian disabdakan: .. <strong><em>wa mim maa razaqnaahum yunfiquun</em></strong>. Dan orang-orang yang meng-infaq-kan sebagian rejeki atau hartanya.</p>
<p>Seperti diketahui bahwa Allah SWT menciptakan nabi Adam AS untuk menjadikan Kalifah diatas bumi, yang artinya Membina kehidupan di dunia  . Dalam <strong>Al Baqarah ayat 30:</strong></p>
<p>Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku menjadikan seorang Khalifah (Nabi Adam A.S.) dimuka bumi”. Mereka (Para Malaikat) berkata,”Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) dimuka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau&#8230;.”</p>
<p>(Ket. Red.: Hal ini sejalan dengan pendapat ahli Antropologi yang menyebutkan bahwa di dunia sudah terdapat manusia sejak satu miliun tahun yang lalu walaupun bentuknya masih belum tegak sepenuhnya dan kemampuan berbahasanya belum berkembang sempurna. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tengkorak manusia dan tulang belulang yang tersebar di beberapa tempat yang diperkirakan berumur seperempat sampai satu miliun tahun.<em>dari M. Rifqy Zulkarnaen,<strong>Mukjizat Para Rasul</strong></em>) * Perbedaan manusia dan primata, kesamaan manusia dan babi</p>
<p>Jadi manusia yang mengemban kewajiban untuk beribadah, menjadi Khalifah yang artinya Membina Kehidupan di Dunia sesuai dengan kehendak Allah SWT adalah Nabi Adam A.S. Tujuan Allah menciptakan kita manusia sebagai Khalifah salah satunya adalah tolong-menolong, jangan seperti yang ditakutkan para malaikat dimana manusia saling memakan sesamanya saling menjatuhkan membunuh dan sebagainya. Tetapi itulah yang terjadi sekarang itu semua terjadi karena pertama tidak percaya kepada hal yang ghaib- empat hal yang telah disebut diatas. Karena empat hal inilah yang akan mengarahkan manusia menjadi baik. Jadi jika seseorang percaya kepada Allah, pada saat rejeki seret dia akan meminta kepadaNya untuk diberikan rejeki dan tidak meminta kepada dukun, peramal dan sebagainya. Jika seseorang yakin bahwa Allah yang Maha Menentukan segalanya, maka ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang dikehendaki dia tidak akan mengeluh walaupun ditimpa dengan cobaan beruntun.</p>
<p>Orang yang percaya kepada Malaikat seperti malaikat <em>Raqib wa Atid</em> – Raqib adalah yang mengamati/muraqabah dan Atid yang mencatat semua yang baik dan buruk. Seorang yang yakin bahwa ada malaikat yang memantau dan mencatat walaupun dia sendirian tidak akan berani melakukan tindakan yang tidak dikehendaki Allah SWT.</p>
<p>Di depan orang dia baik, dibelakang orang dia mencaci. Orang yang demikian adalah orang yang tidak percaya kepada yang ghaib.</p>
<p>Jadi selama kita masih hidup yakinlah kepada malaikat Raqib dan Atid yang selalu memantau dan mencatat semua perbuatan kita. Saat kita yakin sepenuhnya bahwa ada yang selalu mengamati dan mencatat selama hidup kita maka  kita akan selalu berhati-hati, seperti halnya jika masuk kesebuah supermarket yang selalu dipantau terus-menerus dengan cermin, cctv, video camera setiap gerak-gerik kita.</p>
<p><strong>Percaya kepada hari Kiamat – Hari Pembalasan</strong></p>
<p>Ingatlah kepada sebuah Hadits yang berbunyi “<strong><em>Attadruuna mal muflis</em>.</strong>.” Tahukah kamu siapa itu orang yang bangkrut? Orang yang bangkrut adalah bukan orang yang tidak memiliki uang atau kehabisan harta akan tetapi orang yang banyak amal ibadahnya di dunia tetapi juga suka menyakiti orang lain. Seseorang yang banyak beribadah, berzakat, berulang kali pergi haji dan umrah;akan tetapi disisi lain tanpa sadar suka memfitnah dengan menceritakan hal tentang orang lain yang belum tentu benar, dengki dan iri terhadap orang lain. Perasaan dengki mengikis amal ibadah di dunia. Hadits Nabi, “<strong><em>Iyya kummuwal hasad fa innaal hasad yakulul hasanat kama takulun naarul  hathab.</em></strong> &#8211; Hati-hatilah dengan perasaan dengki karena itu akan mengikis amal ibadah kamu seperti halnya api memakan kayu”. Suatu hari dalam sebuah majelis Nabi Muhammad sedang duduk dengan para sahabat beliau berkata,”Siap-siap ada ahli Surga yang masuk” Ketika hamba Allah itu masuk, kemudian Ibnu Abbas bertanya mengapa telah tiga hari berturut-turut orang ini dijuluki Ahli Surga oleh Rasul. Akhirnya Ibnu Abbas minta ijin kepada hamba  Allah itu untuk tinggal dirumahnya selama tiga hari. Akan tetapi ia tidak menemukan hal yang luar biasa dari orang tersebut kecuali menjalankan ibadah seperti biasa. Di hari terakhir beliau bertanya mengapa hamba Allah itu di cap Ahli Surga oleh Rasul. Dia menjawab, “Aku berbakti kepada orang tua dan aku tidak pernah menyimpan dengki di hati.”</p>
<p>Pengertian kata iri dan dengki dijelaskan di dalam bahasa Arab dalam satu kata saja ‘<em>hasad’</em> . Iri, tingkatnya masih lebih rendah contohnya jika seseorang memiliki rumah yang mewah, sedangkan Dengki tingkatnya lebih tinggi dari Iri, jika seseorang iri kepada orang lain yang memiliki jabatan yang lebih bagus kemudian dia berusaha menjatuhkan kedudukan orang tersebut timbullah sikut-sikutan. Doa didalam surat  <strong>Al Falaq ayat 5:</strong> &#8230;<strong>minsyari hasidin idza hasad</strong> – aku berlindung kepadaMu ya Allah dari orang yang dengki kepadaku.</p>
<p>Jadi percaya kepada hari Kiamat juga penting demi sukses di dunia dan akhirat. Jika orang percaya pada hari Pembalasan setelah mati, maka dia akan selalu berusaha beramal saleh dan meninggalkan yang dosa. Suatu kejadian seseorang setelah minum anggur kemudian pergi shalat dia mengatakan ‘biar balancelah’ Padahal kita tidak tahu seberapa pahalanya dan seberapa besar dosanya. Belum tentu shalat kita diterima oleh Allah. Para Imam besar seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Syafi’i hanya dapat menyusun Rukun Shalat dan syarat sahnya shalat, mereka tidak bisa menjamin diterimanya shalat seseorang. Wallahu alam, jadi jangan pernah merasa bahwa shalat kita diterima oleh Allah SWT. Sedang para Imam besar saja berkata “aku belum yakin apakah di Akhirat nanti kakiku berada di surga atau di neraka”. Itulah para Imam besar yang selalu melakukan amal kebajikan dan menghindari dosa-dosa mereka belum yakin dimana kakinya di Akhirat nanti berada. Jadi janganlah kita sebagai manusia biasa langsung mengklaim apa yang kita lakukan langsung diterima Allah SWT.</p>
<p><strong>Percaya kepada Takdir.</strong></p>
<p>Masalah takdir kita tidak bisa percaya begitu saja. Hal yang ghaib ini hanya bisa didapati melalui sumber yang akurat yaitu Alquran dan Hadits, karena masalah takdir ini tidak bisa dicerna oleh panca indera manusia. Melalui beberapa ayat dapat dilihat,</p>
<p>“Setiap yang bernyawa pasti akan mati-<strong>kullu nafsin dzaikatul maut</strong>””</p>
<p>“Barang siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan kedalam surga sesungguhnya dialah orang yang beruntung, sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah kenikmatan sementara”</p>
<p>“Setiap yang bernyawa pasti akan mati, Kami akan mencoba kau dengan hal-hal yang engkau sukai dan hal-hal yang tidak engkau sukai.”</p>
<p>Itulah janji Allah, jika kita yakin bahwa kita akan dicobai dengan hal-hal yang kita sukai dan tidak kita sukai maka konsep Percaya kepada Takdir sudah dipahami dan kita tidak akan mengeluh jika suatu saat kita dicoba oleh Allah dengan berkata seperti “mengapa ini terjadi pada diri saya”.</p>
<p>Tujuannya dilihat disurat <strong>Al Mulk (67:2)</strong>: <strong>Alladzi khalaqal mauta wal hayaata li yabluwakum ayyukum ahsanu ´amala</strong>&#8230; – Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya&#8230; ” Jadi ketika Allah menciptakan kehidupan di dunia  adanya kehidupan dan kematian tujuannya satu adalah agar kita bertambah pahala. Orang yang sukses di akhirat  percaya kepada hal yang ghaib yakin dengan janji Allah percaya kepada takdir Quran dan Hadits maka ia tidak akan pernah mengeluh kepada Allah SWT. Nabi bersabda “ ‘<strong>ajabban li amril mukmin</strong> &#8211; sungguh menakjubkan sekali orang yang beriman” Yang dimaksud beriman adalah beriman kepada empat hal yang disebutkan diatas. Setiap takdir yang ditentukan Allah hasilnya pahala. Setiap ditimpa musibah dia bersabar, saat diberi rejeki diberi kenikmatan dia bersyukur. Dia berbagi rejeki menolong orang lain sebagai ungkapan rasa syukurnya, maka ia mendapat pahala dari Allah.</p>
<p>Dalam berdoa, dia telah berdoa terus menerus siang malam hingga keningnya hitam karena kebanyakan bersujud tapi masih belum dikabulkan juga oleh Allah malah dia mengeluh mengapa doanya belum terwujud juga. Jika seseorang telah bosan berdoa dari pada mengeluh lebih baik berhenti berdoa. Seperti dikatakan sebuah Hadits,”Innallaha laa ya maluu hattaa tamaluu – Allah tidak akan bosan mendengar doamu sampai engkau sendiri yang bosan berdoa kepadaNya”.Jadi jika hendak berdoa janganlah pernah bosan untuk berdoa walau dalam keadaan apapun terserah dengan hasil yang seperti apa. Karena yang dinilai oleh Allah adalah usaha dari kita berdoa. Seseorang yang pembosan dalam berdoa, jika belum dikabulkan dia mengeluh kurang apa dia dalam berdoa, jika telah dikabulkan maka dia berhenti berdoa. Lain jika seseorang yang suka berdoa, setelah satu doanya dikabulkan maka dia akan berdoa lagi untuk hajat yang lain. Dalam surat Al baqarah (2:186): Wa idzaa saalaka ‘ibaadi ‘annii fa innii qariibun ujiibu da’watad daa’i idzaa&#8230;. – Dan apabila ada hambaKu yang bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, jawablah, sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa kepadaKu dan beriman kepadaKu supaya mereka memperoleh petunjuk.</p>
<p>Bahaya ghibah, adalah jika si A bercerita kepada B tentang C. Si B yang tadinya tidak kenal dengan C kemudian berjumpa dengan C langsung memiliki prasangka mengenai si C. Disini hati si B sudah terkotori dan hati yang terkotori itu sudah menjadi dosa.</p>
<p>Dalam <strong>surat Dhuhaa (93:3):</strong> &#8230;<strong>Ma wadda’aka rabbuka wa maa qalaa</strong>..- Tuhanmu tidak akan pernah menelantarkan kamu. Yakinlah akan janji Allah ini. Kalau kita yakin akan janji Allah ini maka kita tidak akan ditelantarkan. Hanya saja harus dilihat mana yalng lebih banyak dikerjakan apakah pekerjaan dunia dengan hasil dunia atau pekerjaan akhirat dengan hasil akhirat. Yang adanya malah pekerjaan akhirat mengharapkan dunia. Jadi dia giat shalat Dhuha mengharapkan datangnya rejeki tetapi tidak dapat juga karena kurang usaha dunianya. Boleh shalat Dhuha tapi niatkan untuk mendapatkan ganjaran di akhirat. Kebanyakan orang berpikir untuk apa bershalat, karena disinipun (Swiss) orang non Muslim tidak shalat mereka kaya-kaya. Karena mereka melihat shalat itu tidak membawa manfaat materi, tidak bisa memberi rumah besar, mobil mewah dst.</p>
<p>Dalam konsep Islam seperti didalam <strong>surat Dhuha ayat 3 </strong>tersebut diatas bahwa Allah tidak akan menelantarkan kamu. Setiap usaha yang kamu lakukan pasti ada ganjarannya. Bedanya shalat itu usaha untuk akhirat bukan sebagai patokan untuk menjadi kaya atau sukses di dunia. Jadi usaha dunia ganjarannya dunia, usaha akhirat ganjarannya akhirat. Jadi orang ingin sukses dunia dan akhirat banyak usaha dunianya maupun akhirat.</p>
<p>Kata Rasulullah bahwa pahala seorang isteri ada dua, karena dia bekerja untuk Tuhannya untuk tuannya (suaminya). Sebagai tanda orang beriman adalah dengan mendirikan shalat, berinfaq/zakat.</p>
<p><strong>Al Baqarah ayat 4</strong>: <strong>Wal ladziina yu’minuuna bi maa unzila ilaika wa maa unzila min qablika wa bil aakhirati hum yuuqinuun</strong>-dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan  (Al Quran) kepadamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan sebelummu (Taurat, Zabur dan Injil) serta mereka yakin akan adanya akhirat. Tidak sempurna iman seorang Muslim jika tidak beriman kepada ajaran nabi Isa A.S., nabi Musa A.S., Ibrahim A.S. dan nabi-nabi sebelumnya. Dimaksud iman kepada kita suci yang lain yang diturunkan oleh Allah sebelum diubah oleh manusia.</p>
<p>Inti ajaran yang diberikan kepada nabi Ibrahim A.S. yang selalu kita ucapkan di awal shalat kita: <strong>Inna shalati wanusuki wa mah yahya wa ma maati lillahi robbil alamin. Laa syarika lahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin</strong>”- Sesungguhnya shalatku,  ibadahku, hidupku, matiku adalah milik Allah SWT&#8230;.      Inilah inti ajaran agama Islam yang diajarkan kepada nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang lain. Jadi jika ada orang tua yang sakit , diri atau anak yang sakit atau ada yang meninggal janganlah terlalu bersedih. Sedih adalah wajar hal yang manusiawi. Sedangkan Rasul saja ketika anaknya Ibrahim meninggal beliau menangis, tetapi kita tidak boleh meratap dan mengeluh seperti “mengapa dia , mengapa tidak aku saja yang mati..” Lebih baik mendoakan seperti “Ya Allah berikanlah yang terbaik jika kehidupan itu baik buat dia hidupkanlah, jika kematian itu baik buat dia matikanlah” Karena tujuan Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian adalah mengumpulkan pahala. Hidup panjang tapi selalu berdosa juga tidak ada gunanya. Konsep manusia hidup di dunia adalah untuk bersenang-senang sedangkan konsep dalam Al Quran tertulis di surat <strong>Al Mulk ayat 2</strong>: <strong>&#8230;Liyaabluwakum</strong>&#8230;..- Siapa diantara kamu yang paling banyak amalnya.</p>
<p>Dalam sebuah Hadits Rasul berdoa: “<strong>Ya Allah perbaikilah agama kami karena agama itulah pegangan hidup kami. Ya Allah perbaikilah kehidupan kami di dunia, karena di dunia itulah kami hidup untuk mendapatkan pahala. Ya Allah perbaikilah kehidupan kami di akhirat, karena ke akhiratlah kami akan kembali. Jadikanlah kehidupan itu sumber kebaikan bagi kami. Jadikanlah kematian itu istirahat kami dari berbuat kejahatan</strong>”. Kalau kita sudah memiliki keyakinan seperti ini, kita tidak perlu mengharapkan hidup panjang. Boleh hidup panjang jika yakin bisa terus berbuat amal, tapi kalau tidak, lebih baik mati walaupun Rasul mengharamkan seorang Muslim minta mati. Jadi jangankan suntik mati, doa minta mati saja diharamkan. Jika seseorang sakit seberat itu penderitaannya seberat itu juga dosanya dihapuskan karena sakit atau musibah itu penghapus dosa. Doa minta mati itu dilarang, minta panjang umurpun tidak boleh. Seseorang yang berumur panjang tetapi pikun atau sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, juga tidak membawa manfaat.</p>
<p>Sebuah doa yang baik (dari Hadits shahih) dibacakan pada ulang tahun seperti, “<strong>Allahumma inna nas aluka salamatan fid diin wa aafiyyatan fil jasad waasiyatan fil ail wa barakatan fil rizk wa taubatan qaublal maut wa rahmatan naidal maut wa marghfiatan ba’dalmaut.Allahumma hauwin alaina fi wa jannatan minanaar wal afwa indal hisaab </strong>- Ya Allah kemohon kepadamu selamat agama, badan yang sehat bertambah ilmu, berkah rizkinya bisa taubat sebelum mati mendapat rahmat kasih sayang saat mati mendapat ampunan setelah mati. Ya Allah mudahkanlah kamu dalam menjalankan sakratul maut dan selamat dari api neraka dan mendapat ampunan saat dihitung.</p>
<p>Kalau agama tidak selamat keyakinan kita jadi salah, seperti menteror non Muslim, tambah umur tetapi ilmunya tetap saja padahal Rasullah bersabda, <strong>uthlubil ‚ilma minal mahdi illal lahad </strong>- tuntutla ilmu dari ayunan sampai ke liang kubur. Tidak perlu banyak akan tetapi berkah rejekinya, Alhamdulillah kalau juga banyak rejekinya. Tapi kalau banyak rejekinya tapi tidak berkah rugilah, banyak barang tidak dipakai lalu dibuang lalu bali yang baru. Dapat bertaubat sebelum mati, kasih sayang waktu mati, diselamtkan dari api neraka. Karena setiap orang yang mengatakan “<em>Laa ilah ha ilallah” </em>pasti masuk surga tetapi belum tentu terhindar dari api neraka.</p>
<p><strong>Al Baqarah ayat 5</strong>: <strong>Ulla-ika ‘alaa hudam mir rabbihim wa ulaa-ika humul muflihuun</strong>-Mereka itulah orang yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong>*Perbedaan manusia dengan primata persamaan manusia dan babi</strong></p>
<p>Melalui penelitian para ilmuwan ternyata DNA kera, gorilla yang bentuknya paling mirip dengan manusia ternyata sangat jauh berbeda. Yang paling dekat DNAnya dengan manusia justru hewan babi 98% dari phisiologinya seperti jantung, hati, ginjal, kulit, dan dagingnya paling mirip bentuknya dengan manusia. Karena itulah rahasianya kenapa kita dilarang makan babi karena itu seperti manusia makan manusia Wallahualam, karena itu mungkin hikmahnya Allah mengharamkan babi.</p>
<p style="text-align: center">Penyampai materi : Bpk. Desrial Anwar<br />
Tempat : Freizeitanlage, Kanzleistrasse, Kanzleistrasse 24, 8405 Winterthur</p>
<p style="text-align: center"><div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_1'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_1' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_1 ' id='psimg_29' style='margin: 15px;'>
					<div id='psimage_29' style='width: 154px' class='bwbps_image_div'><a href='/2010/06/percikan_iman_140107.png' rel='lightbox[album_1]' title='' ><img src='/2010/06/percikan_iman_140107-133x100.png' class='ps_images' alt=''  /></a></div></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
					<script type='text/javascript'>
						displayedGalleries += '|1';
					</script>
				</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2010/03/23/percikan-iman-31-10-2009-kriteria-sukses-dunia-dan-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percikan Iman, 30.05.2009 (Sabar dan tawakal)</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2010/03/22/percikan-iman-30-05-2009-sabar-dan-tawakal/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2010/03/22/percikan-iman-30-05-2009-sabar-dan-tawakal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 14:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>grace</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn
Tawakal secara bahasa, artinya menggantungkan diri kita kepada Allah swt.
Contohnya: seseorang yang diadili dalam suatu pengadilan dan tidak mempunyai pengetahuan hukum untuk membela dirinya kemudian menyerahkan urusan pembelaan kepada seorang pengacara yang dirasa mampu untuk membela di pengadilan.
Tawakal tergantung pada suatu kondisi. Contoh:
* Saat akan berpergian membaca doa:&#8221; Bismillaahi tawakkaltu &#8216;alallaahi walaa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn</p>
<p><strong>Tawakal</strong> secara bahasa, artinya menggantungkan diri kita kepada Allah swt.<br />
Contohnya: seseorang yang diadili dalam suatu pengadilan dan tidak mempunyai pengetahuan hukum untuk membela dirinya kemudian menyerahkan urusan pembelaan kepada seorang pengacara yang dirasa mampu untuk membela di pengadilan.<br />
Tawakal tergantung pada suatu kondisi. Contoh:<br />
* Saat akan berpergian membaca doa:&#8221; <em>Bismillaahi tawakkaltu &#8216;alallaahi walaa hawla walaa quwwata illaa billaahi.&#8221;</em> Artinya: Dengan Asma Allah, aku berserah diri. Tiada kekuatan daya daya upaya kecuali dari Allah.<br />
Seseorang yang membaca doa tersebut sebelum bepergian artinya telah berserah diri terhadap ketentuan Allah saat mulai naik kendaraan dan bila ada sesuatu yang terjadi padanya.<br />
* Membaca doa sebelum tidur: &#8221; <em>Bismikaallahhumma ahya wa bismika amuutu.&#8221;</em> Artinya : Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.<br />
Bila kita menginginkan sesuatu jangan pergi kepada dukun, paranormal tetapi mintalah kepada Allah swt. Bila memohon dan meminta kepada Allah swt, pasti hasilnya akan baik.</p>
<p>Jika kamu berkehendak sesuatu langsung tawakalah kepada Allah swt.<br />
Bila permintaan kita belum dikabulkan oleh Allah swt, bersikaplah berserah diri karena mungkin apa yang kita inginkan tidak baik untuk kita.</p>
<p><strong>Sabar:<br />
Q.S. Al Baqarah (002): 153</strong>: Hai sekalian orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.</p>
<p>Merupakan ajakan khusus kepada orang-orang yang beriman untuk meminta pertolongan kepada Allah swt dengan cara sabar dan sholat.<br />
Khusu&#8217; yang dimaksud dalam ayat ini adalah sifat yang sudah meresap ke makna iman. Ketika mendapatkan masalah dan merasa tidak ada yang dapat menolong, tindakan yang pertama kita lakukan adalah sabar dan sholat.</p>
<p>Sholat yang maksud oleh Allah swt. adalah:<br />
* sebagai sarana untuk mengingat Allah swt.<br />
* untuk ketenangan jiwa bagi yang mengerjakan sholat<br />
Apabila sholat tidak dapat membawa ketenangan jiwa tapi malah menjadi beban karena sholat yang dikerjakan ditakar waktunya/dibatasi waktunya. Maka tujuan dari sholat yang Allah swt. inginkan belum tercapai.</p>
<p>Pesan Rasulallah kepada Bilal, &#8220;Ya Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat.&#8221; Artinya sholat dapat dinikmati dan hasilnya luar biasa. Cara menikmati sholat adalah dengan menikmati setiap gerakan sholat yang dilakukan sambil membaca dan mengerti apa yang kita baca serta menarik nafas saat gerakan sholat dilakukan.</p>
<p>Intisari sholat khusu&#8217; terdapat pada <strong>Q.S. Al Baqarah (002): 153</strong><br />
Khusu&#8217; yang dimaksud bukan berarti tidak mendengar sesuatu dalam sholat tapi dapat merasakan nikmatnya sholat yang dikerjakan.<br />
Sebelum sholat dan sesudah sholat haruslah ada perbedaan. Setelah sholat hati menjadi tenang.</p>
<p><strong>Sabar ada 3 kategori:</strong><br />
<strong>1. Sabar dalam ketaatan kepda Allah swt.</strong><br />
Contoh:<br />
* Sabar dalam melaksanakan sholat dengan tidak menakar, membatasi waktu pelaksanaan sholat.<br />
Prinsip sebelum melaksanakan sholat adalah mengosongkan pikiran dari segala macam kegiatan duniawi saat memulai takbiratul ihram.<br />
Rasul berkata, sholat adalah mi&#8217;rajnya orang yang beriman. Rasul melaksakan mi&#8217;raj satu kali seumur hidup. Tapi Rasul memberikan rasa yang sama pada orang beriman seperti melaksanakan mi&#8217;raj bila melaksanakan sholat. Hal ini dapat dilihat pada makna dan arti bacaaan doa saat melakukan tahiyat dalam sholat.<br />
* Sabar dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan saat musim panas. Puasa di musim puasa berlangsung lebih dari 15 jam. Allah swt. menguji kita agar kita sabar dalam menjalankan ibadah puasa dan menunjukan ketaatan kita dalam menjalankan perintahnya. Islam menginginkan kita membantu sesamanya tapi juga dapat merasakan penderitaan orang-orang yang tidak seberuntung kita dan harus menahan lapar dan haus lebih dari 15 jam.</p>
<p><strong>2. Sabar dalam meniggalkan maksiat karena Allah swt.</strong><br />
Seseorang yang terbiasa berbuat dosa dan bila ada godaan di dekatnya sangat mudah tergoda. Hal ini menyangkut kadar iman seseorang. Sabar untuk meninggalkan maksiat dan tidak mengulangi kesalahan dan memohon ampunan kepada Allah swt, adalah perwujudan sabar dalam meninggalkan maksiat karena Allah swt.</p>
<p><strong>3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah</strong>, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun non materi; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.<br />
<strong>Q.S. Al Baqarah (002): 155</strong>: Dan sungguh Kami akan mencoba kamu dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan sampaikanlah berita gembira kepada orang yang sabar.<br />
<strong>Q.S. Al Baqarah (002): 156:</strong> (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimbah musibah, mereka berkata, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun<br />
(&#8221; Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.&#8221;)</p>
<p>Dalam Q.S. Al Baqarah ayat 155 tertulis <strong><em>Wa la nabluwannakum </em></strong>yang artinya dan sungguh kami mencoba, merupakan pesan dari Allah swt. bahwa setiap manusia pasti akan mengalami cobaan.<br />
Ciri orang sabar terdapat pada Q.S. Al Baqarah ayat 156 yaitu, bila tertima musibah selalu mengucapkan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun<br />
(&#8221; Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.&#8221;). Ucapan ini tidak hanya diucapkan saat seseorang meninggal, tetapi dapat pula diucapkan bila terjadi musibah seperti hilang HP, terkena tilang, uang hilang. Manfaat bagi orang yang bila tertimpa musibah mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun (&#8221; Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.&#8221;), hatinya tidak akan susah. Dia akan berusaha untuk intropeksi diri, mungkin infak, sadakah yang dikeluarkan kurang sehingga tertimpa musibah dan yakin bahwa segala sesuatu yang ia punyai adalah milik Allah swt.<br />
Ganjaran bagi orang-oranag yang sabar terdapat dalam <strong>Q.S.Al Baqarah (002): 157:</strong> Mereka itulah orang-orang yang mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.</p>
<p>Nabi Ibarahim mendapat cobaan yang berat dari Allah swt. yaitu harus mengorbankan putera kesayangannya yang bernama Ismail.<br />
Menjawab pertanyaan apakah setiap individu wajib untuk berkurban dan dilaksanakan setiap tahun? Mungkin hikmah pelajaran dapat diambil dari kejadian kisah Nabi Ibrahim yang mengurbankan Ismail puteranya. Bila kita merasakan betapa beratnya seorang ayah mengurbankan putranya dibandingkan dengan kita yang saat ini mengorbankan domba, sapi ataupun unta. Tentu pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tidak sebanding dengan apa yang kita kurbankan saat ini.</p>
<p><strong>Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran</strong></p>
<p>Ketidaksabaran (baca; <em>isti’jal</em>) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:</p>
<p>1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.</p>
<p>2. Memperbanyak <em>tilawah</em> (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.</p>
<p>3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.</p>
<p>4. <em>Mujahadatun nafs</em>, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.</p>
<p>5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.</p>
<p>6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq <em>fi sabilillah</em>.</p>
<p>7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.</p>
<p><strong>Tanya &#8211; Jawab</strong></p>
<p><strong>1.Tanya</strong>: Apakah yang harus dilakukan menghadapi waktu sholat di musim panas bagi anak sekolah yang terkadang kelelahan usai melaksanakan kegiatan sekolah, menyebabkan sholat yang dikerjakan di akhir waktu karena tidur terlebih dahulu?<br />
<strong>Jawab:</strong> Hal ini merupakan kondisi temporer. Apabila anak tertidur karena kelelahan, sholatlah segera setelah anak tersebut bangun. Pada akhir minggu, anak tidak ada kegiatan sekolah, usahakan sholat pada waktunya.<br />
Hadist: Barang siapa yang ketiduran sholat, waktunya hilang maka hendaknya ia sholat pada saat terbangun.<br />
Sholat sudah ditentukan waktunya, seperti yang tertulis pada <strong>Q.S. An-Nisa (004):103:</strong>&#8230;..Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.<br />
Apabila waktu sholat terlewat, diganti dengan cara mengqadha sholat yang terlewat. Tidak ada fasilitas jama&#8217; bagi anak sekolah tersebut karena kondisinya bukan sebagai musafir. Qadha artinya mengganti.<br />
Sholat jamak artinya menghimpun dua sholat fardhu yang ada dalam satu waktu tanpa mengurangi jumlah rakaatnya. Misalnya sholat Maghrib dan Isya dikerjakan pada waktu Maghrib atau Isya. Sholat yang boleh dijamak adalah sholat Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.<br />
Jamak terbagi dua:<br />
1. Jamak taqdim, yaitu memajukan sholat fardhu ke awal waktu:<br />
- sholat Ashar dikerjakan pada waktu Zuhur<br />
- sholat Isya dikerjakan pada waktu Magrib<br />
2. Jamak Takhir, yaitu mengakhirkan sholat fardhu ke waktu shlat yang akan datang:<br />
- sholat Zuhur dikerjakan pada waktu Ashar<br />
- sholat Maghrib dikerjakan pada waktu Isya.<br />
Nabi Muhammad saw ditanya mengenai sholat. Apakah perbuatan yang paling utama? Nabi menjawab mengerjakan sholat pada waktunya, tidak mesti di awal waktu sholat.<br />
Para Imam selain Hanafi menyimpulkan bahwa sholat di awal waktu lebih baik.<br />
Orang yang mengerjakan sholat yang tidak pada waktunya karena kondisinya tidak memungkinkan adalah lebih baik dibandingkan dengan orang yang meninggalkan sholat. Mengqadha sholat bukan solusi tapi sebagai alternatif dari pada tidak mengerjakan sholat.</p>
<p><strong>2. Tanya</strong>: Bagaimana menghadapi masa waktu puasa yang lebih dari 15 jam?<br />
<strong>Jawab:</strong> <strong>Q.S. Al Baqarah (002):183:</strong> <em>Yaa ayyuhal ladziina aamanuu kutiba &#8216;alaikumush shiyaamu kamaa kutiba &#8216;alal ladziina min qablikum la&#8217;allakum tattaquun. </em>Artinya: Hai sekalian orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu puasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang yang terdahulu dari kamu kamu supaya bertaqwa. <strong>Tujuan utama dari puasa adalah &#8230;..la&#8217;allakum tattaquun&#8230;..supaya kamu bertaqwa.<br />
</strong>Mencoba puasa mulai dari hari pertama hingga hari terakhir bulan Ramadhan. Bila sudah dicoba tetapi tidak bisa ada alternatif yang dijelaskan pada <strong>Q.S.Al Baqarah (002): 184</strong>.<br />
Alasan tidak mampu berpuasa karena sakit (contoh diabetes) diganti dengan fidyah. Alasan tidak mampu berpuasa karena kondisi suatu tempat dimana pelaksanaan puasa dilakukan pada musim panas dan jangka waktu lebih dari 15 jam dan sudah mencoba untuk berpuasa mulai hari pertama Ramadhan hingga hari terakhir Ramadhan dan tetap tidak mampu. Maka puasa yang tidak dijalankan tersebut diganti dengan membayar fidyah dan mengganti puasa pada bulan-bulan berikutnya.<br />
Segala sesuatu didasari oleh niat (innama &#8216;akmalu bin-niaat). Bila kita taat kepada Allah swt, Allah swt pasti mengetahuinya.</p>
<p>Pada saat Nabi akan hijrah ke Madinnah, ada sahabat Nabi yang berniat hijrah karena calon istri sudah hijrah lebih dahulu. Allah swt memberitahu Nabi bahwa ada diantara sahabat yang hijrah bukan karena ingin menguatkan Islam di Madinnah tapi karena calon istri dari sahabat tersebut sudah hijrah.<br />
Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rasulnya maka akan mendapatkan pahalanya karena Allah dan Rasulnya. Barang siapa yang hijrah karena urusan dunia maka akan mendapatkan pahala untuk urusan dunia saja.<br />
Orang mukmin yang beriman saat Allah swt mengatakan sesuatu, orang beriman akan mengatakan kami dengar dan kami patuh dan bila ada hikmah dan manfaat setelah itu menyusul kemudian.</p>
<p><strong>3. Tanya:</strong> Pelaksanaan sholat Jum&#8217;at di masjid yang jauh dari kantor dimulai pukul 14.30 masjid yang berada di dekat kantor dilaksanakan pada pukul. 15.30. Masjid mana yang sebaiknya dikunjungi untuk melaksanakan sholat Jumat?<br />
<strong>Jawab:</strong> Kedua waktu pelaksanaan sholat Jumat masih dalam waktu Dhuhur (musim panas). Bila mengikuti mahzab selain Hanafi sholat diawal waktu adalah utama. Berarti melakukan sholat di Masjid yang jauh adalah utama. Bila tidak ada kemungkinan untuk melaksanakan sholat Jumat di Masjid yang jauh karena membutuhkan waktu tempuh perjalanan yang tidak sebentar, maka melakukan sholat di Masjid terdekat dengan waktu pelaksanaan pukul 15.30 boleh dilakukan.<br />
Wallahualam</p>
<p style="text-align: center">Penyampai materi : Bpk. Desrial Anwar<br />
Tempat : Mehrzweckhalle Freienwil, Schulstrasse, 5423 Freienwil</p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_5'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_5' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_5' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|5';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2010/03/22/percikan-iman-30-05-2009-sabar-dan-tawakal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percikan Iman, 29.03.2009 (Rahmatal lil &#8216;aalamiin)</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/12/16/percikan-iman-29-03-2009-rahmatal-lil-aalamiin/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/12/16/percikan-iman-29-03-2009-rahmatal-lil-aalamiin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 22:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>grace</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn
1. Tujuan Allah mengutus para Nabi dan Rasul adalah untuk menyampaikan pesan-pesan Allah berupa kabar gembira ataupun ancaman kepada umat manusia agar manusia hati-hati melangkah dan mengarahkan manusia menuju ke jalan yang lurus dan benar.
Tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad adalah menjadi rahmat bagi seluruh alam, seperti yang tercantum pada Q.S.Al Anbiya(021):107:
Wa maa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn</p>
<p>1. Tujuan Allah mengutus para Nabi dan Rasul adalah untuk menyampaikan pesan-pesan Allah berupa kabar gembira ataupun ancaman kepada umat manusia agar manusia hati-hati melangkah dan mengarahkan manusia menuju ke jalan yang lurus dan benar.</p>
<p>Tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad adalah menjadi rahmat bagi seluruh alam, seperti yang tercantum pada Q.S.Al Anbiya(021):107:<br />
Wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil &#8216;aalamiin&#8221;.<br />
Artinya: Dan tiadalah kami mengutus Kamu (Muhammad) melainkan rahmat bagi alam semesta.&#8221;</p>
<p>Begitu tinggi Allah memberikan tugas kepada Nabi Muhammad. Sehingga dengan Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad semestinya seluruh umat manusia (walaupun tidak beragama Islam) dan seluruh alam dapat merasakan rahmat (kasih sayang, kedamaian, kesejahteraan, ketenangan).</p>
<p>Dalam salah satu hadist Nabi bersabda: Sesungguhnya tujuan ku diutus adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan ahlak yang mulia.<br />
Islam tidak hanya terpaku kepada ibadah ritual tapi menyeluruh.<br />
Rahmatal lil &#8216;aalamiin tidak akan terasa bila seorang muslim mempunyai sifat pemarah, pengumpat, dengki, iri, hasad. Apabila kita bisa memahami tujuan diutusnya Nabi Muhammad, sebagai orang muslim hendaknya berfkir: sebagai seorang muslim mempunyai ahlak yang mulia.<br />
Dalam salah satu hadist Nabi bersabda: Agama adalah nasehat.</p>
<p>2. Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad terdiri atas 30 Juz dan 114 surat. Di awali dengan surah Al Fatihah dan di akhiri oleh surah An Naas. Saat Al Quran turun, masyarakat Arab menguasai Bahasa Arab yang sangat indah dan mereka pintar membuat syair. Oleh karena itu, mukjizat terbesar yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala kepada Nabi Muhammad adalah Al Quran. Al Quran dari kriteria bahasa dan arti adalah hebat, diluar jangkauan manusia dan bukan buatan manusia.<br />
* Q.S. Al Ikhlas yang berujung akhiran sama.<br />
Qul huwallaahu ahad<br />
Allaahush shamad<br />
Lam yalid wa lam yuulad<br />
Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad</p>
<p>* Q.S An Nashr yang berakhiran, berujung tidak sama.<br />
Idzaa jaa &#8216;a nashrullaahi wal fath<br />
Wa ra &#8216;aitan naasa yadkhuuluuna fii diinillaahi afwaajaa<br />
Fa sabbih bi hamdi rabbika wastaghfirhu innahu kaana tawwaabaa<br />
Saat Q.S.(110) An Nashr (Pertolongan) ini diturunkan kepada Nabi Muhammad, pertolongan Allah belum datang jadi seperti ramalan kejadian yang belum terjadi.</p>
<p>QS (002) Al Baqarah ayat 23:&#8221; Wa in kuntum fii raibim mim maa nazzal naa &#8216;alaa &#8216;abdinaa fa&#8217;tuu bi suuratim mim mitslihii wad&#8217;uu syuhadaa-akum min duunillaahi in kuntum shaadiqiin.<br />
Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan (Al Quran) kepada hamba Kami (Muhammad), maka cobalah kamu datangkan (buatlah) satu surat (saja) yang semisalnya; dan ajaklah pembantu-pembantu kamu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.<br />
Ayat ini turun untuk mematahkan argumen orang-orang yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad ahli syair.<br />
Agama Islam mempunyai kekuatan yang hebat, ajaran yang sangat solid. Sayang sekali umatnya ada yang menjauh dari Al Quran.</p>
<p>Ayat Al Quran yang membahas tentang Allah ada di QS(112) Al Ikhlas yang terdiri atas empat ayat. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasul, dengan berkata, &#8220;Jelaskan kepada kami sifat-sifat Rabb-mu.&#8221; Ayat 1-4 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai tuntunan untuk menjawab permintaan kaum musyrikin.<br />
Ayat ini menegaskan konsep ketuhanan dalam Islam itu sangat konsisten, sangat mudah dicerna oleh siapa pun, dan sangat rasional; Allah swt. itu satu dalam dzat-Nya. Dia satu-satunya Maha Pencipta, Pengatur, Pemberi Rezeki, Pemberi Kehidupan, Penentu Kematian, Mahabijaksana, Maha Adil. Allah yang harus menjadi tumpuan harapan. Hanya kepada Nya kita bergantung dan memohon pertolongan. Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakan. Bukan hanya dari hal tersebut, Allah itu berbeda dan tidak ada satu pun makhluk yang bisa menyamai Nya.<br />
Tidak ada pembahasan mengenai Tuhan yang menyatu dengan tubuh hamba seperti yang dijelaskan oleh surat-surat palsu yang berusaha disisipkan ke dalam Al Quran oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.<br />
Link surat-surat palsu: http://www.annaqed.com/suralikeit/</p>
<p>Apabila kita memerlukan bantuan manusia, yang diajarkan oleh Islam adalah meminta pertolongan, berdoa terlebih dahulu kepada Allah kemudian berikhtiar.<br />
Nabi berkata: Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan bukan Arab kecuali takwanya.</p>
<p>3. Menghadapi pertanyaan, pernyataan yang menyatakan bahwa dalam Al Quran ada ayat yang menyuruh suami memukul istri.<br />
 Di dalam Al Quran ada ayat yang menyuruh bukan membolehkan seorang suami memukul istrinya. Harus dilihat dan ditelusuri konteks kejadian hingga seorang suami memukul istri. Rujukan ayat dalam Al Quran dalam hal ini dapat dilihat pada:<br />
QS. An Nisaa (004): 34: Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan kerena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka perempuan-perempuan yang telah saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri dibalik belakang suaminya sebagaimana Allah telah memeliharakan dirinya.<br />
(*01) Dan perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka maka nasehatilah mereka, pisahkanlah (dirimu) dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka.<br />
(*02) Maka jika mereka telah taat kepada mu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan (untuk menyusahkannya). Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.<br />
Keterangan:<br />
(*01): Yaitu memelihara kehormatannya, kehormatan suaminya, rahasia suami dan keluarganya, rahasia rumah tangganya dengan cara yang diwajibkan Allah.<br />
(*02): Pukulan dengan maksud sebagai pelajaran, bukan untuk menyakiti atau menyiksa.<br />
Laki-laki yang telah berkeluarga dituntut menjadi kepala keluarga yang memberikan nafkah lahir dan batin. Nafkah lahir untuk kepentingan lahiriah contoh:pakaian, rumah. Nafkah batin: segala sesuatu yang bukan nafkah lahiriah, contoh: nasehat,ilmu pengetahuan (agama)yang bisa memberikan ketenangan jiwa bagi istri. Dalam Al Quran Allah menginginkan wanita menjadi sholehah tentunya suami yang juga menjalankan perintah Allah swt.</p>
<p>Ciri wanita yang sholehah:<br />
1. Jika engkau (suami) melihat dia, engkau senang<br />
2. Jika engkau (suami) perintah, dia patuh<br />
3. Apabila suami tidak di rumah, dia dapat menjaga kehormatan dirinya dan menjaga kehormatan keluarga suaminya.</p>
<p>Tujuan pernikahan dalam Islam adalah suatu ikatan suami dan istri yang dapat menuju kedamaian, tentram dan sejahtera. Sehingga keduanya dapat melaksanakan ibadah kepada Allah swt dengan baik.<br />
QS. Ar Ruum (30): 21: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia menciptakan untuk kamu istri dari jenismu supaya kamu tenteram bersamanya. Dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.<br />
Bila dalam suatu pernikahan sudah terjadi nusyuuz (curang, selingkuh, nyeleweng), sehingga bila perbuatan tersebut dibiarkan akan mengakibatkan tujuan pernikahan tidak tercapai. Langkah pertama yang diambil adalah: menasehati, kedua: pisah ranjang (bila langkah pertama tidak membawa hasil), ketiga (bila langkah kedua tidak membawa hasil): pukullah mereka. Pada zaman Nabi, format yang terjadi adalah ada wanita yang berbuat nusyuuz. Perbuatan selingkuh yang mengarah ke zina lebih berbahaya dari pada pukulan suami dalam konteks rahmatal lil &#8216;aalamiin. Bila suami yang berbuat nusyuuz, istri boleh memberikan nasehat. Apabila nasehat dari istri belum membawa hasil, istri dapat melakukan pisah ranjang. Apabila tindakan pisanh ranjang tidak membawa hasil, istri dapat meminta bantuan hukum dari kantor urusan agama yang menangani perihal masalah keluarga.<br />
Sekilas tentang dinamika rumah tangga Nabi Muhammad. Walaupun Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad, beliau tidak pernah bersuara tinggi terhadap para istrinya. Nabi Muhammad terikat pernikahan 13 kali. 11 orang istri hidup bersama Nabi, 2 orang diceraikan setelah akad nikah, 2 orang meninggal saat Nabi masih hidup (Khadijah dan Zaenab),9 orang ditinggalkan dalam keadaan janda. Salah satu istri Nabi bernama Sofiah yang berasal dari keturunan Yahudi melapor kepada Nabi bahwa Aisyah mengatakan &#8220;Hey Yahudi&#8221; kepada Sofiah dan membuatnya sedih. Nabi memberikan nasehat kepada Sofiah,&#8221; Katakan kepada Aisyah bahwa Babakku Harun, Pamanku Nabi Musa dan suamiku Muhammad ketiga-tiganya adalah Nabi. &#8221; Sejak itu Sofiah tidak bersedih lagi akan hal ini. Tujuan Nabi menikah dengan Sofiah adalah untuk meredam peperangan antara kaum Yahudi dan Islam. Saat peperangan, bapak Sofiah meninggal. Adab pada masa itu, sesama besan tidak boleh saling berperang, maka menikahlah Nabi Muhammad dengan Sofiah.<br />
Masing-masing istri Nabi Muhammad mempunya kelebihan. Aisyah istri Rasul yang paling muda, cantik dan pintar. Banyak hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah.  Satu contoh adalah mengenai bersentuhan suami istri setelah wudhu, wudhu mereka tidak batal apabila tidak ada nafsu syahwat saat bersentuhan. Dalam hal ini Imam Syafii mengatakan batal wudhu suami istri tersebut karena bersifat hati-hati. Khawatir dari pihak laki-laki tidak dapat menahan nafsu syahwatnya.</p>
<p>Kesimpulan uraian pengajian di atas:<br />
Nabi Muhammad saw. diutus Allah swt adalah untuk menjadi Rahmatal lil &#8216;aallamiin untuk seluruh alam semesta.<br />
Inti utama agar kita juga menjadi Rahmatal lil &#8216;aallamiin adalah memperbaiki ahklak. Imam Gazali mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah meninggalkan maksiat.<br />
Setelah meninggalkan maksiat berusahalah untuk memulai ibadah lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. contoh: sholat. Sholat adalah tiang agama dan merupakan amalan yang pertama dihisab pada hari akhir/kiamat.<br />
Satu hikmah dari bahasa Arab yang artinya: Perbaikilah dirimu sehingga semua orang dapat berteman dengan mu.<br />
Nabi Muhammad saw. adalah orang yang dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya selama lingkungan tersebut tidak menyimpang dari ajaran Islam.</p>
<p>Tanya-Jawab:</p>
<p>Tanya: Apakah benar kiamat akan terjadi pada tahun 2010 atau 2014?<br />
Jawab: Kapan hari kiamat terjadi adalah rahasia Allah swt. Yang perlu kita persiapkan adalah pertanggung jawaban akan semua perbuatan kita selama hidup di dunia.</p>
<p>Tanya: Apakah yang dimaksud dengan maksiat?<br />
Jawab: Maksiat adalah segala sesuatu perbuatan yang dapat memutuskan hubungan kita dengan Allah swt. dan hubungan dengan manusia. Contoh: perbuatan zina mendapat murka dari Allah swt. dan dapat memutuskan hubungan pasangan hidup nya (suami atau istri).<br />
Jenis maksiat lainnya adalah: minum khamar/alkohol, mengkonsumsi obat telarang, mengumpat, mencaci, mencela, fitnah, curang, tidak jujur,menipu.</p>
<p>Tanya: Siapa yang menerbitkan surat-surat palsu yang ditambahkan ke dalam Al Quran?<br />
Jawab: Kemungkinan surat-surat palsu diterbitkan di luar negara-negara Arab. Surat-surat palsu kemungkinan kecil diterbitkan di percetakan negara-negara Arab, Mesir karena aturan untuk mencetak Al Quran sangat ketat dan banyak orang yang hapal Al Quran.</p>
<p>Berita dari Bp. Desrial Anwar pada 26 April 2009:<br />
Bersama ini saya sisipkan links website untuk mengetahui surat-surat baru yang dicoba oleh orang-orang Kafir untuk menambah surat dalam Al-Quran dan mencoba mengelabui ummat Islam. Sebelumnya jumlah surat hanya 4 saja, sekarang sudah bertambah menjadi 12 surat. Semoga bisa diforward ke teman-teman lainnya.<br />
http://www.annaqed.com/suralikeit/   </p>
<p>Tanya: Bagaimana cara Allah swt. menjamin keaslian Al Quran hingga akhir jaman?<br />
Jawab: Q.S. Al Hijr (015):009: Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahuu la haafizhuun. Artinya: Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami memeliharanya.<br />
Ayat-ayat Al Quran terdiri atas dua. Pertama ayat kauliyah, yaitu ayat yang tertulis di dalam Al Quran. Kedua ayat kauniyah, yaitu ayat yang terbentang di alam semesta.<br />
Banyaknya orang yang hapal Al Quran menjadi salah satu cara Allah swt dalam memelihara keaslian Al Quran. Ilmuwan atau orang yang tidak hapal dan mengetahui isi Al Quran  dari awal hingga akhir tetapi dapat menemukan format pemikiran ayat-ayat Allah dalam hasil temuaannya.</p>
<p>Tanya: Apakah ancaman bagi orang yang melalaikan sholat?<br />
Jawab: Ancaman bagi orang yang melalaikan sholat lima waktu berat. Orang yang mendirikan sholat berarti menegakkan agama, orang yang meninggalkan sholat berarti menghancurkan agama.<br />
Dari Jabir RA, ia berkata,&#8221; Saya pernah mendengar Rasulallah saw. bersabda, &#8216;Antara seorang (muslim) dengan syirik dan kafir adalah meninggalkan sholat (HR. Muslim 1/62). Artinya, meninggalkan sholat adalah perbuatan kufur.<br />
Usaha yang kita lakukan saat ini adalah bertujuan untuk merangkul orang-orang yang mungkin dengan perjalanan waktu meninggalkan sholat sehingga dapat kembali sadar dan berusaha untuk memperbaiki diri dan menjadi rahmatal lil &#8216;aallamiin.</p>
<p>Keutamaan sholat sangat banyak, diantaranya adalah:<br />
1. perintah pertama yang diturunkan oleh Allah swt.<br />
2. amalan yang pertama dihisab<br />
3. pembeda antara mukmin dengan kafir<br />
4. amal yang paling disukai oleh Allah swt.<br />
5. &#8230;Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar&#8230;Q.S. Ankabuut (029):45<br />
Sumber: Shalat Untuk Anak-Anak, Abu Ihsan</p>
<p style="text-align: left">Tanya: Bagaimana kita bersikap terhadap tuntunan agama dalam beribadah dan tradisi?<br />
Jawab:  Hendaknya kita mengetahui tujuan dari perbuatan yang kita lakukan, khususnya dalam beribadah. Tidak mencampur adukan antara tuntunan agama dalam beribadah dengan tradisi. Perlu pula mengetahui tujuan akhir dari perbuatan, apabila mengarah kepada ketaatan biarkanlah warna-warna tersebut tanpa menutup isi dan makna yang ingin dicapai. Contoh: pada masa penyebaran agama Islam di Pulau Jawa para Sunan mengajarkan dzikir bersama dan dilantunkan  setelah sholat. Hal ini untuk mengantisipasi agama Hindu yang sudah lebih dahulu masuk dan mengakar di Pulau Jawa yang pada saat ibadah melagukan doa.<br />
Wallahu&#8217;alam</p>
<p style="text-align: center">Penyampai materi : Bpk. Desrial Anwar<br />
Tempat : Freizeitanlage Kanzleistrasse, Winterthur</p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_6'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_6' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_6' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|6';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/12/16/percikan-iman-29-03-2009-rahmatal-lil-aalamiin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undangan Percikan Iman 26 September 2009</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/09/15/undangan-percikan-iman-26-september-2009/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/09/15/undangan-percikan-iman-26-september-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 15:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala
atas rahman dan rahim-Nya. Shalawat dan salam atas rasulullah Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan para
pengikutnya yang setia hingga akhir zaman;  Semoga hidayah Allah juga
senantiasa dilimpahkan kepada kita dan keluarga.
Keluarga Percikan Iman yang dirahmati Allah, bersama ini kami
mengundang rekan-rekan semua untuk menghadiri acara pengajian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
atas rahman dan rahim-Nya. Shalawat dan salam atas rasulullah Muhammad<br />
shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan para<br />
pengikutnya yang setia hingga akhir zaman;  Semoga hidayah Allah juga<br />
senantiasa dilimpahkan kepada kita dan keluarga.</p>
<p>Keluarga Percikan Iman yang dirahmati Allah, bersama ini kami<br />
mengundang rekan-rekan semua untuk menghadiri acara pengajian dan<br />
halal bihalal, yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:</p>
<p>Hari:          Sabtu, 26 September 2009<br />
Waktu:         11:30– 16:00<br />
Tempat:         Mehzweckhalle Freienwil, Schultrasse, 5423 Freienwil<br />
Penyampai materi:     Ust. Desrial &#8216;Aal&#8217; Anwar</p>
<p>Konfirmasi kehadiran harap disampaikan sebelum hari Rabu, 23 September<br />
2009  melalui:<br />
    Susanti Hidayat-Stumpp 076-2088877 atau Esti Bondan 076-3901770<br />
atau melalui alamat e-mail: <a href="mailto:pengajianpi@gmail.com">pengajianpi@gmail.com</a></p>
<p>Semoga Allah Swt meringankan langkah kita semua untuk hadir pada<br />
pengajian Percikan Iman kali ini. Atas perhatian dan partisipasi<br />
rekan-rekan semua, kami ucapkan jazakumullah khairan khatsira.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,<br />
a/n penyelenggara,</p>
<p>Susanti Hidayat-Stumpp, Esti Bondan, Sri Saelindah</p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_7'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_7' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_7' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|7';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/09/15/undangan-percikan-iman-26-september-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa 17 Jam di Rusia</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/08/25/puasa-17-jam-di-rusia/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/08/25/puasa-17-jam-di-rusia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 15:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya Post. Sabtu, 22 Agustus 2009
Oleh M. Aji Surya, Moskow (disampaikan oleh Zulkarnayn)
Tanpa harus melalui perdebatan panjang di media media masa, puasa di Rusia sudah dimulai pada Jumat (21/8). Inilah puasa panjang yang bisa mencapai 17 jam lamanya. Maklum, saat ini bumi utara sedang menjalani musim panas.
Masjid Prospek Mira di jantung kota Moskow, Kamis sore [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surabaya Post. Sabtu, 22 Agustus 2009<br />
Oleh M. Aji Surya, Moskow (disampaikan oleh Zulkarnayn)</p>
<p>Tanpa harus melalui perdebatan panjang di media media masa, puasa di Rusia sudah dimulai pada Jumat (21/8). Inilah puasa panjang yang bisa mencapai 17 jam lamanya. Maklum, saat ini bumi utara sedang menjalani musim panas.</p>
<p>Masjid Prospek Mira di jantung kota Moskow, Kamis sore itu semarak. Jamaah berduyun-duyun berdatangan untuk melaksanakan shalat berjamaah Isya dan Tarawih.</p>
<p>Maklum, sehari sebelumnya, Kantor Dewan Mufti Rusia sudah mengumumkan bahwa puasa dimulai Jumat.</p>
<p>Terlihat ratusan jamaah yang berkulit putih khusuk menjalankan ibadah menyambut kehadiran bulan nan suci. Mereka baru bubar dan kembali ke rumah masing-masing tepat tengah malam.</p>
<p>Suasana serupa juga terjadi di kedutaan kita, jalan Novokuznetkaya 12. Tepat jam 22.00 malam, seratusan umat Islam asal Indonesia sholat Isya dan dilanjutkan tarawih berjamaah sebelas rekaat.</p>
<p>Tidak lupa, aneka makanan kecil ala Indonesia seperti lumpia disuguhkan sebagai teman berbincang tentang puasa yang panjang. “Jangan main-main, iman kita mulai besok diuji selama lebih 16 jam,” ujar seorang ibu berjilbab kepada temannya yang disambut derai tawa.</p>
<p>Hari-hari puasa di Moskow, Rusia nyaris tidak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Semua berjalan seolah tidak ada yang berubah dalam hidup ini. Koran dan media elektronik tidak memberikan porsi khusus bagi menyambut  Ramadhan.</p>
<p>Kantor buka jam 09.00 dan tutup jam 17.00 seperti biasa. Restauran tetap ramai di saat makan siang dan menjelang sore. Bahkan aneka hiburan malam tetap saja berkelap kelip. Tidak ada ucapan assalamualaikum apalagi ucapan selamat berpuasa di jalanan.</p>
<p>Berpuasa di bumi Tuhan bagian utara ini memang urusan yang sangat pribadi. Benar-benar antara dirinya dan Tuhan di atas sana. Maklum di kota terbesar di Rusia ini muslim adalah kaum minoritas dari sekitar 13 juta penduduk yang ada. Mereka hanya seonggok manusia yang harus bertahan dengan keimanannya di tengah lautan manusia yang beragama Ortodoks. Umumnya, mereka yang beragama Islam di kota tersebut adalah kaum pendatang yang berasal dari wilayah Rusia bagian Selatan seperti Kirgiztan, Tajikistan, Uzekistan dan hampir semua daerah yang berakhiran “tan”.</p>
<p>Bagi seorang muslim disini, hanyalah iman yang menjadi pengendali diri. Hanya iman saja yang dapat mengantarkan diriya menjadi seorang shoim (orang yang berpuasa) dalam arti yang sebenarnya.</p>
<p>Tidak ada yang memberikan kepedulian apakah ia makan dan merokok di siang bolong. Melalui ayat-ayat Tuhan sajalah yang akan mengantarkan manusia tetap tunduk dan sujud serta patuh kepadaNya.</p>
<p>Meskipun begitu, di era keterbukaan Rusia saat ini, tidak ada juga pihak yang melecehkan mereka yang berpuasa. Dunia kota yang sudah memasuki masa pragmatis, kapitlistik dan hedonistik ini memahami bahwa siapapun boleh melakukan apapun atas keyakinannya, selama tidak melanggar hukum yang berlaku. Asal tidak menganggu lainnya. “Saya tahu bahwa ini mulai Ramadhan bagi umat Islam. Karascho (itu baik, Red),” demikian kata Veodor, seorang lelaki tengah baya, tanpa ekspresi apapun.</p>
<p>Di Rusia, umat Islam adalah kelompok penganut agama kedua terbesar setelah Ortodoks. Dari jumlah penduduk sekitar 140 juta jiwa, maka umat Islamnya bejumlah 20 juta. Agama Islam dianggap sebagai agama asli dan karenanya diakui secara nasional dan diberi tempat cukup terhormat dalam tataran pemerintahan maupun kehidupan masyarakat lainnya. Justru agama</p>
<p>Katolik dan Kristen tidak memiliki tempat yang cukup karena dalam batas-batas tertentu dianggap pesaing Ortodoks.</p>
<p>Di hampir setiap kota, terdapat pewakilan Kantor Dewan Mufti atau semacam MUI kita. Inilah organisasi yang menggerakkan kegiatan keagamaan dan budaya Islam di seantero Rusia sampai dengan urusan pendidikan.</p>
<p>Di Moskow sendiri telah berdiri universitas Islam Moskow dan di wilayah tengah Rusia ada Universitas Islam Rusia. Keduanya sangat berminat untuk menjalin kerjasama dengan universitas Islam di Indonesia.</p>
<p>Mufti atau pemimpin agama tertinggi di suatu wilayah, boleh dibilang memiliki pengaruh yang cukup besar. Ia memiliki suatu wewenang tertentu dalam bidang keagamaan dan mendapatkan legitimasi dari Pemerintah yang berkuasa. Seorang Mufti setiap hari sangat sibuk, mulai mengurus zakat, haji hingga diskusi dengan Presiden atau Perdana Menteri.*</p>
<p>*Penulis adalah alumnus Pondok Modern Gontor yang kini bermukim di Moskow, Rusia (<a href="mailto:ajimoscovic@gmail.com">ajimoscovic@gmail.com</a>)</p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_2'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_2' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_2' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|2';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/08/25/puasa-17-jam-di-rusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tambahan Materi Tata Cara Pengurusan Jenazah</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/25/tambahan-materi-tata-cara-pengurusan-jenazah/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/25/tambahan-materi-tata-cara-pengurusan-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 11:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>grace</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/25/tambahan-materi-tata-cara-pengurusan-jenazah/</guid>
		<description><![CDATA[Rangkuman dari DVD Al-Markaz: Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah
Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn
Allah berfirman dalam Q.S.Al Jumu’ah:62:8:
Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.
Rasullah bersabda: Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><font face="Times New Roman">Rangkuman dari DVD Al-Markaz: Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah</font></strong><br />
<font face="Times New Roman">Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Allah berfirman dalam <strong>Q.S.Al Jumu’ah:62:8:</strong><br />
</font><font face="Times New Roman">Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.</font><br />
<font face="Times New Roman">Rasullah bersabda: Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian. (HR. Tirmidzi).<br />
</font><font face="Times New Roman">Hukum-Hukum Seputar Orang Sakit:</font><font face="Times New Roman"><br />
Orang yang sakit wajib menerima ketentuan Allah Ta’ala dan bersabar terhadap takdirnya serta berbaik sangka kepada Rabbnya karena itu lebih baik baginya ( HR: Muslim, Al- Baihaqi:Ahkamul Janaiz:11).<br />
</font><font face="Times New Roman">Sepantasnyalah dia berada diantara rasa takut dan harap takut akan siksa Allah atas dosa-dosanya dan mengharapkan rahmat atas Allah Ta’ala. (HR. Tirmidzi; Ahkamul Janaiz: 11)</font><font face="Times New Roman">Bagaimanapun parah sakitnya maka tidak boleh mengharap kematian, jika dia terpaksa maka hendaklah mengucapkan doa.<br />
</font><font face="Times New Roman">Hendaklah berdoa ; </font><font face="Times New Roman">Allahumma  ahyinii maakanatil hayaatu khairan lii, watawaffanii maakanatil wafaitu khairan lii<br />
</font><font face="Times New Roman">Artinya : Ya Allah hidupkanlah aku jika memang baik bagiku, dan matikanlah aku jika memang itu baik bagiku (HR: Bukhari – Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">Jika dia memiliki tanggungan-tanggungan maka hendaknya dia segera menunaikan kepada pemilik-pemiliknya (HR: Bukhari, Al Baihaqi).<br />
</font><font face="Times New Roman">Jika tidak mampu maka hendaknya mewasiatkan hal tersebut kepada orang lain (HR. Bukhari). </font><font face="Times New Roman">Dianjurkan untuk segera membuat wasiat (HR. Bukhari-Muslim).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Sebelum Kematian (Saat Sakaratul Maut): </font></strong><font face="Times New Roman">Jika sakaratul maut mendatangi seseorang, maka orang-orang yang ada disisinya wajib melakukan hal-hal sbb:<br />
</font><font face="Times New Roman">1.Hendaknya mereka mengajari syahadat: Laa Ilaaha Illallah ( mentaqilkannya). </font><font face="Times New Roman">Rasulallah bersabda; Tuntunkanlah (talkinkan) orang yang hendak meninggal diantara kalian “laa ilaaha illallah” (HR. Muslim).</font><font face="Times New Roman">Hal ini dilakukan agar orang tersebut mengakhiri hidupnya di dunia dengan kalimat “laa ilaaha illallah”. </font><font face="Times New Roman">Barang siapa yang akhir perkataannya “laa ilaaha illallah” dia masuk surga (HR. Abu Dawud; Shahih Abu Dawud: 2673).<br />
</font><font face="Times New Roman">2.Hendaknya mendoakan kebaikan untuknya dan tidak berkata-kata di dekatnya kecuali kebaikan (HR. Muslim, Al-Baihaqi).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Adapun membacakan surat Yasin dan menghadapkan wajah orang yang akan meninggal ke arah kiblat maka hadiisnya tidak Shahih dan tidak boleh diamalkan (Ahkamul Janaiz: 20).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Seorang muslim tidak mengapa menghadiri akan matinya orang kafir untuk menawarkan Islam kepadanya dengan harapan dia akan masuk Islam di akhir hidupnya. Hal ini seperti dalam sebuah hadits Bukhari: Rasulallah shallallahu’alaihi wasallam pernah menjenguk seorang anak Yahudi yang akan meninggal kemudian beliau shallallahu’alaihi wasallam menawarkan Islam kepadanya dan akhirnya anak tersebut masuk Islam.<br />
</font><strong><font face="Times New Roman">Saat Setelah Kematian: </font></strong><font face="Times New Roman">Jika seseorang telah meninggal dan ruh telah keluar maka orang-orang yang hadir wajib melakukan hal-hal berikut:<br />
</font><font face="Times New Roman">1. Memejamkan kedua mata jenazah (HR. Muslim).</font><font face="Times New Roman">Sesungguhnya jika ruh itu telah dicabut, maka pandangan akan mengikutinya (HR. Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Mendoakan kebaikan untuknya (HR. Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Menutupi seluruh tubuhnya dengan kain (HR. Bukhari–Muslim). Jika dia bukan orang yang sedang melakukan ihram. </font><font face="Times New Roman">Bagi orang yang melakukan ihram maka kepala dan wajahnya tidak ditutupi (HR: Buhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">4.Bersegera mengurus dan mengeluarkannya untuk segera dikuburkan (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">5. Menguburkannya di daerah tempat dia meninggal (HR: Ahmad: Ahkamul Janaiz: 25).</font><font face="Times New Roman">Tidak boleh memindahkannya ke tempat lain karena itu bertentangan dengan perintah menyegerakan pengurusan jenazah (Ahkamul Janaiz: 24).<br />
</font><font face="Times New Roman">6. Hendaknya sebagian mereka (yang masih hidup) membayarkan utang-utangnya yang diambil dari hartanya, walaupun menghabiskan seluruhnya (HR. Ahmad, Ibnu Majah). </font><font face="Times New Roman">Orang-orang yang hadir boleh juga menanggung utang-utangnya, sebagaimana sahabat Abu Qatadah pernah menaggung utang sahabat lain yang telah meninggal (HR. Hakim, Baihaqi: Ahkamul Janaiz: 27).<br />
</font><font face="Times New Roman">Yang Boleh Dilakukan oleh Kerabat dan Pelayat:</font><font face="Times New Roman">Mereka boleh membuka wajah mayat dan menciumnya serta boleh menangisinya tanpa meratap (HR. Bukhari).</font><font face="Times New Roman">Menangisi mayat tanpa meratap hanya diperbolehkan 3 hari tidak boleh lebih (HR. Abu Dawud, Nasa’i: Shahih Sunan Nasa’i 3/329)<br />
</font><font face="Times New Roman">Ketika kabar kematian sampai kepada karib dan kerabat, mereka wajib melakukan dua hal:</font><font face="Times New Roman"><br />
</font><font face="Times New Roman">1.Wajib bersabar dan menerima takdir dan ketentuan Allah Ta’ala (Al Baqarah: 155-156): </font><font face="Times New Roman">155. dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.</font><font face="Times New Roman">156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: &#8220;Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun&#8221;[101].</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">[101] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Sabar itu hanyalah pada hentakan yang pertama</font><font face="Times New Roman">Rasulallah bersabda: Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada hentakan (goncangan ) yang pertama (HR: Bukhari-Muslim).</font><font face="Times New Roman">Maksudnya: sabar yang diganjar pahala adalah adanya keteguhan hati ketika ada hal-hal yang menyedihkannya datang, dan inilah sabar yang terpuji yaitu sabar yang langsung mengiringi datangnya musibah (Fathul Baari, Kitabul Janaiz, Bab Ziarah Kubur).</font><font face="Times New Roman">Seorang wanita yang ditinggal mati dua (atau lebih) anaknya dan ia bersabar maka hal itu akan melindunginya dari api neraka (HR.Bukhari-Muslim).</font><font face="Times New Roman"><br />
</font><font face="Times New Roman">2.Istirja’ yaitu mengucapkan Inna lillahi wainna illaaihi roojiuun (Al Baqarah 156), kemudian disunahkan untuk membaca doa:</font><font face="Times New Roman">Ya Allah, berikanlah aku pahala atas musibah ini dan gantilah dengan yang lebih baik bagiku (HR. Muslim).</font><font face="Times New Roman">Doa ini pernah dibaca olleh Ummu Salamah radiyallahu’anha tatkala suaminya (Abu Salamah) wafat, kemudian Allah Ta’ala mengabulkan doa beliau dengan menjadikan Rasulallah shallallahu’alaihi wasallam sebagai suami beliau (HR: Muslim).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Hal-hal yang diharamkan ketika kematian:<br />
</font><font face="Times New Roman">1.Meratap (Niyahah), yaitu lebih dari sekedar menangis. Misalnya berteriak-teriak, menampar wajah, merobek baju dan yang lainnya.</font><font face="Times New Roman">Wanita yang meratap, jika tidak bertobat sebelum kematiannya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan memakai pakaian dari dari cairan ter dan gaun dari kudis (HR. Muslim).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Termasuk niyahah adalah menyebut jasa-jasa kebaikan mayat dengan penuh kesedihan dan penyesalan (Syarh Masail Jahiliyah: 243-Masalah 90).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Demikian juga dengan menampar-nampar pipi dan merobek-robek baju (HR.Bukhari-Muslim).</font><font face="Times New Roman">Rasulallah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Bukan dari kami yang menampar-nampar pipi , merobek-robek baju, dan menyeru dengan suara jahiliyah (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Mengurai rambut, yaitu mengacak-ngacak rambut dan membentangkannya (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 43).</font><font face="Times New Roman">Demikian pula mencukur rambut karena musibah (HR: Bukhari-Muslim). </font><font face="Times New Roman">Sesungguhnya Rasulullah berlepas diri dari as shaliqah, al haliqah dan as syaqqah (HR. Bukhari-Muslim). </font><font face="Times New Roman">As shaliqah yaitu wanita yang menangis menjerit-jerit, al haliqah yaitu wanita yang mencukur rambut karena musibah, as syaqqah yaitu wanita yang merobek-robek bajunya (Al Wajiz: 162).</font><font face="Times New Roman">Adapun meminta orang-orang untuk mengirimkan bacaan Al-Fatihah kepada mayat, maka ini merupakan perkara bid’ah atau mengada-ngada dalam agama Islam, dan hal ini dilarang karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Memberitakan Kematian:</font><font face="Times New Roman">Boleh memberitakan kematian jika tidak menyerupai pemberitahuan ala jahiliyah.</font><font face="Times New Roman">Terkadang hukumnya wajib jika tidak ada di dekatnya orang-orang yang melaksanakan hak mayat berupa memandikan, mengkafani, menyalatkan dan semacamnya (Ahkamul Janaiz: 45).</font><font face="Times New Roman">Orang yang memberitakan kematian boleh meminta orang-orang untuk memintakan ampun bagi mayat (HR. Ahmad).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Tanda-Tanda Khusnul Khatimah:<br />
</font></strong><font face="Times New Roman">1.Mengucapkan syahadat ketika akan mati (HR: Hakim, Ahmad, Ibnu Majah<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Mati dengan keringat di dahi (HR. Ahmad,An-Nasa’i, Hakim)<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Mati pada malam jumat atau siangnya ( HR: Ahmad, Tirmidzi)<br />
</font><font face="Times New Roman">4. Mati syahid atau terbunuh di medan perang (HR. Ahmad, Tirmidzi)<br />
</font><font face="Times New Roman">5. Mati di jalan Allah ( HR. Muslim, Ahmad)<br />
</font><font face="Times New Roman">6. Mati karena penyakit radang selaput dada (HR. Ahmad, Abu Dawud)<br />
</font><font face="Times New Roman">7. Mati karena wabah penyakit tha’un (HR. Bukhari, Ahmad)<br />
</font><font face="Times New Roman">8. Mati karena sakit perut (HR. Muslim, Ahmad)<br />
</font><font face="Times New Roman">9. Mati karena tenggelam (HR. Bukhari-Muslim)<br />
</font><font face="Times New Roman">10. Mati karena keruntuhan (HR: Bukhari-Muslim)<br />
</font><font face="Times New Roman">11. Kematian wanita dalam kehamilannya dengan sebab anaknya (HR. Ahmad, Ad-Darimi<br />
</font><font face="Times New Roman">12. Mati karena penyakit TBC (HR. Thabarani)<br />
</font><font face="Times New Roman">13. Mati dalam membela agama atau nyawa (HR. Ahmad, Abu Dawud)<br />
</font><font face="Times New Roman">14. Mati dalam membela harta yang akan dirampas (HR. Bukhari-Muslim)<br />
</font><font face="Times New Roman">15. Mati dalam keadaan berjaga di jalan Allah (HR. Muslim, An-Nasa’i)<br />
</font><font face="Times New Roman">16. Mati tatkala beramal saleh (HR. Ahmad)<br />
</font><font face="Times New Roman">17. Mati karena terbakar (HR. Ahmad, Abu Daud, An- Nasai)</font><font face="Times New Roman">Ahkamul Janaiz: 48-59</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Pujian Terhadap Jenazah: </font><font face="Times New Roman">Pujian kebaikan terhadap mayat dari kalangan kaum muslimin, paling sedikit 2 orang diantaranya tetangganya dari kalangan orang saleh dan berilmu akan menyebabkan surga baginya (Ahkamul Janaiz: 60).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Dari Anas bin Malik:</font><font face="Times New Roman">Pada suatu ketika lewatlah jenazah seorang muslim di depan para sahabat lalu mereka memuji sambil menyebut kebaikan-kebaikannya, lantas Rasulallah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wajib”, kemudian lewatlah jenazah yang lain maka para sahabat mencelanya sambil menyebutkan keburukan-keburukannya. Lantas Rasulallah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Wajib”. Lantas Umar bin Khattab mengatakan, “Wahai Rasulullah apa maksudnya “Wajib”? Lalu beliaupun bersabda: Jenazah pertama yang kalian sebut kebaikannya maka baginya surga dan jenazah kedua yang kalian sebut keburukannya maka baginya neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi (HR. Bukhari-Muslim).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Jika kematiaan seseorang bersamaan dengan gerhana matahari atau bulan, hal itu TIDAK menunjukkan apapun juga. Keyakinan bahwa hal itu menunjukkan keagungan orang yang mati termasuk khurafat jahiliyyah yang batil (Ahkamul Janaiz:63).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Memandikan Jenazah: </font></strong><font face="Times New Roman"><br />
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memandikan jenazah (Disarikan oleh Ahkamul Janaiz: 64-75):<br />
</font><font face="Times New Roman">1.Memulai dari sebelah kanan dan tempat-tempat wudhu (Ahkamul Janaiz: 65)</font><font face="Times New Roman">Mulailah dari bagian-bagian sebelah kanannya dan anggota-anggota badan yang dibasuh apabila berwudhu(HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Memandikan 3 kali atau lebih sesuai dengan yang diperlukan dan dengan bilangan yang ganjil (Ahkamul Janaiz:64)</font><font face="Times New Roman">Mandikanlah tiga kali, lima kali, tujuh kali atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Sebagian air (pemandian) dicampur dengan air daun sidr/ bidara, atau yang bisa menggantikan dalam membersihkan (Ahkamul Janaiz: 64)</font><font face="Times New Roman">Sabun atau shampo dapat digunakan sebagai pengganti daun sidr.</font><font face="Times New Roman">(Mandikanlah) dengan air dan (dicampur) daun bidara (HR: Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">4. Pintalan rambut dibuka (untuk wanita) dan rambut dicuci dengan baik (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">5. Menyisir rambut (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">6. Rambut wanita dipintal menjadi 3 dan ditaruh dibelakang (kepalanya), (HR. Bukhari-Muslim: Ahkamul Janaiz: 65).<br />
</font><font face="Times New Roman">7. Memandikan dengan secarik kain, atau semacamnya (seperti kaos tangan, lap, atau semisalnya), di bawah kain penutup badannya setelah pakainnya dilepaskan (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 66).</font><font face="Times New Roman">Kain penutup laki-laki mulai dari bagian pusar sampai lutut.</font><font face="Times New Roman">Kain penutup wanita menutupi mulai dari bagian dada, pusar, sampai lutut.</font><font face="Times New Roman">Jika suami memandikan istri atau istri memandikan suami, maka tidak perlu menggunakan kain penutup karena tidak ada batasan aurat bagi mereka berdua.<br />
</font><font face="Times New Roman">8. Akhir pemandian dicampur dengan sesuatu yang wangi seperti kamfer (kapur barus), dan ini yang terbaik (Ahkamul janaiz:65).</font><font face="Times New Roman">Dan jadikanlah siraman terakhir dengan air yang dicampur kapur barus atau secukupnya dari kapur barus (HR. Bukhari-Muslim)&#8230;..kecuali orang yang mati ketika ihram maka tidak boleh diberi wewangian (HR. Bukhari-Muslim: Ahkamul Janaiz: 66).<br />
</font><font face="Times New Roman">9. Laki-laki dimandikan oleh laki-laki dan wanita dimandikan oleh wanita (Ahkamul Janaiz: 65)&#8230;..terkecuali suami istri, keduanya boleh memandikan karena tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan hal tersebut dijelaskan dalam sunnah Rasulallah shallallahu’alaihi wasallam (Ahkamul Janaiz: 67).<br />
</font><font face="Times New Roman">10. yang memandikan hendaknya paling tahu tentang sunnah memandikan, apalagi dari keluarga atau kerabatnya (Ahkamul Janaiz: 68).<br />
</font><font face="Times New Roman">11. Orang yang memandikan akan mendapatkan pahala yang besar dengan 2 syarat:</font><font face="Times New Roman">11.1. Dia menutupi cacat (mayat) dan tidak menceritakan perkara yang dibencinya yang dia lihat tatkala memandikan mayat (HR. Hakim. Baihaqi).</font><font face="Times New Roman">Barang siapa yang memandikan jenazah seorang muslim lalu merahasiakan apa yang dilihatnya niscaya Allah akan mengampuninya sebanyak 40 kali (HR. Hakim, Baihaqi: Ahkamul Janaiz: 69).</font><font face="Times New Roman">11.2. Hal itu dia lakukan ikhlas karena Allah Ta’ala, tidak mencari balasan dan terima kasih atau perkara-perkara duniawi lainnya.</font><font face="Times New Roman">(Ahkamul Janaiz: 69)<br />
</font><font face="Times New Roman">12. Bagi orang yang memandikan mayat disunahkan untuk mandi (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 71).<br />
</font><font face="Times New Roman">13. Tidak disyariatkan memandikan orang yang mati syahid (HR: Bukhari).</font><font face="Times New Roman">Kaum laki-laiki atau wanita boleh memandikan anak laki-laki ataupun perempuan yang berusia dibawah 7 tahun sebab tidak ada batasan aurat bagi mereka (Shalat Jenazah, Syaikh al Jibrin: 12).</font><font face="Times New Roman">Bila seorang laki-laki wafat diantara kaum wanita tanpa ada seorang lelaki muslim bersama mereka, atau sebaliknya, jika seorang wanita wafat diantara kaum pria maka jenazahnya tidak perlu dimandikan, cukup ditayammumkan (Shalat Jenazah, Syaikh Al-Jibrin: 12-13).</font><font face="Times New Roman">Janin yang gugur, bila telah mencapai usia 4 bulan dalam kandungan, maka jenazahnya dimandikan, dishalatkan, dan diberi nama baginya (Shalat Jenazah, Syaikh Al-Jibrin: 24).</font><font face="Times New Roman">Pada usia 4 bulan (120 hari) dalam kandungan ibunya, maka ruh manusia akan ditiupkan.</font><font face="Times New Roman">Jika terdapat halangan untuk memandikan jenazah, misal tidak ada air atu kondisi jenazah yang sudah tercabik-cabik atau gosong,maka cukup ditayamumkan saja (Shalat Jenazah, Syaikh Al-Jibrin: 26).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Mengkafani jenazah:</font></strong><font face="Times New Roman"><br />
Kafan atau harganya (uang kafan) diambil dari harta mayat walaupun menghabiskannya (HR. Bukhari-Muslim: Ahkamul Janaiz: 86).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Sebaiknya kafan itu menutupi seluruh badannya (HR. Muslim: Ahkamul Janaiz: 88).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Jika tidak mudah mendapatkan kafan yang menutupi seluruh badannya, maka kepala dan badannya yang panjang ditutupi dengan kafan dan badannya yang masih terbuka ditutupi dengan idzkhir (sejenis rumput yang harum baunya) atau rumput jerami yang lainnya (HR. Bukhari-Muslim: Ahkamul Janaiz: 78).<br />
</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">1. Disukai kain kafan berwarna putih (Ahkamul Janaiz: 82).</font><font face="Times New Roman">Pakailah pakaian kalian yang putih, karena ia sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah (mayat) dengannya (HR. Abu Dawud, Tirmidzi: Ahkamul Janaiz: 82).<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Hendaknya terdiri dari tiga lapis kain (HR. Bukhari: Ahkamul Janaiz: 82)<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Salah satu dari tiga lapis kain tersebut adalah kain yang bergaris (HR: Abu Dawud;Ahkamul Janaiz:83)</font><font face="Times New Roman">Jika salah seorang dari kalian wafat dan berkemampuan hendaklah ia dikafani dengan kain yang bergaris (HR.Abu Dawud; Ahkamul Janaiz:83).</font><font face="Times New Roman">Jika tidak memungkinkan, maka tidak mengapa memakai kain putih semua (tanpa kain bergaris).</font><font face="Times New Roman">Tidak boleh berlebihan dalam kafan dan melebihkannya di atas tiga lembar, karena hal ini menyelisihi kafan Rasulullah dan termasuk menyia-nyiakan harta ( Ahkamul Janaiz: 84).</font><font face="Times New Roman">Kafan wanita sama dengan kafan laki-laki, karena tidak ada dalil shahih yang membedakannya.</font><font face="Times New Roman">Berkaitan dengan tata cara mengkafani, baik itu tata cara membungkus jenazah dengan kafan ataupun tata cara mengikat kain kafan, maka tidak ada dalil yang mengkhususkan tata cara pelaksanaannya. Selama seluruh tubuh mayat tertutupi oleh kain kafan dengan baik, insya Allah itu sudah cukup. Wallahu a’lam.</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Shalat jenazah</font></strong><font face="Times New Roman"><br />
Menyalatkan jenazah kaum muslimin hukumnya fardhu kifayah (Ahkamul Janaiz; 103, Al- Wajiz:166)</font><font face="Times New Roman">Dua orang yang boleh dishalatkan akan tetapi hukumnya tidak wajib:<br />
</font><font face="Times New Roman">1. Anak kecil yang belum baligh.</font><font face="Times New Roman">Sebagaimana Raulullah tidak menyalatkan Ibrahim (anak beliau) yang meninggal pada usia 18 bulan (HR: Ahmad, Abu Dawud).<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Orang yang mati syahid.</font><font face="Times New Roman">Sebagaimana  Rasulullah dan para sahabat tidak menyalatkan para syuhada yang gugur dalam perang Uhud (HR: Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi).</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Disyariatkan juga menyalatkan kaum muslimin yang:</font></strong><font face="Times New Roman"><br />
1. Terbunuh di dalam Had<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Durhaka, terjermus dalam kemaksiatan dan hal-hal yang haram<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Berhutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayar utangnya<br />
</font><font face="Times New Roman">4. Belum dishalatkan padahal sudah dikubur, maka boleh menyalatkan di kuburnya<br />
</font><font face="Times New Roman">5. Meninggal di daerah yang tidak ada kaum muslimin di sana yang menyalatkannya, maka kaum muslimin di tempat lain menyalatkan dengan shalat Ghaib. (ahkamul Janaiz: 106-115).<br />
</font><font face="Times New Roman">Haram menyalatkan, memohon ampun, memohonkan rahmat  untuk orang kafir dan munafik (Ahkamul Janaiz: 120)</font><strong><font face="Times New Roman">QS.At-Taubah:84</font></strong><font face="Times New Roman">84. dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Berjamaah dalam shalat Jenazah hukumnya wajib sebagaimana kewajiban dalam shalat-shalat wajib (Ahkamul Janaiz:205)</font><font face="Times New Roman">Jika menyalatkan sendiri-sendiri (tidak berjamaah) maka kewajiban menyalatkan gugur akan tetapi berdosa karena meninggalkan berjamaah, wallahu a’lam (Ahkamul Janaiz: 125).<br />
</font><font face="Times New Roman">Terjadinya jamaah paling sedikit 3 orang, jika jemaah semakin banyak maka semakin baik (Ahkamul Janaiz:126).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Tidaklah seorang muslim meninggal, lalu dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah dengan suatu apapun, melainkan pasti Allah kabulkan syafaat mereka untuknya <strong>(HR: Muslim).</strong></font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Makmum disukai berbaris di belakang imam menjadi 3 shaf atau lebih (Ahkamul Janaiz: 127).</font><font face="Times New Roman">Tidaklah seorang muslim meninggal, lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin, melainkan pasti (Allah kabulkan) <strong>(HR: Tirmidzi).</strong></font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Jika makmum hanya satu laki-laki maka dia tidak berdiri sejajar dengan imam akan tetapi berdiri di belakang imam <strong>(HR: Hakim).</strong></font><font face="Times New Roman">Penguasa atau wakilnya lebih berhak menjadi imam shalat jenazah (Ahkamul Janaiz: 128).</font><font face="Times New Roman">Jika tidak ada, maka yang paling berhak adalah yang paling banyak bacaan Al Qur’annya (Ahkamul Janaiz: 131).</font><font face="Times New Roman">Jika menyalatkan banyak jenazah laki-laki dan wanita, maka mayat laki-laki(walaupun kecil) ditempatkan di dekat imam dan mayat wanita mendekati kiblat (HR: An-Nasa’i, Baihaqi, Ahkamul Janaiz:132).</font><font face="Times New Roman">Boleh juga menshalatkan sendiri-sendiri, dan inilah asalnya (Ahkamul Janaiz:133).</font><font face="Times New Roman">Imam berdiri di belakang kepala mayat laki-laki (HR. Abu Dawud, Tirmidzi;Ahkamul Janaiz:139), dan di tengah (badan) mayat wanita (HR. Bukhari –Muslim).</font><font face="Times New Roman">Mengucap takbir 4 kali (inilah pendapat yang paling kuat).</font><font face="Times New Roman">Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyalatkan jenazah, maka beliau bertakbir empat kali dan melakukan salam sekali (HR. Hakim; Ahkamul Janaiz: 163).</font><font face="Times New Roman">Boleh juga bertakbir 5 kali (HR. Muslim) 6 kali, 7 kali (HR.Thahawi) atau 9 kali (HR. Thahawi) (Ahkamul Janaiz:142-145).</font><font face="Times New Roman">Disyariatkan mengangkat kedua tangan hanya pada takbir pertama saja.</font><font face="Times New Roman">Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangakat kedua tangannya pada takbir pertama dalam shalat jenazah, lalu tidak mengulanginya (pada takbir selanjutnya). (HR.Daruquthni; Ahkamul Janaiz: 167).</font><font face="Times New Roman">Boleh juga mengangkat kedua tangan pada setiap takbir, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhu (HR: Al-Baihaqi).</font><font face="Times New Roman">Setelah takbir, kemudian melakukan tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkan di dada (HR. Bukhari).</font><font face="Times New Roman">Setelah takbir membaca Al-Fatihah dan surah lain (HR. Bukhari, Abu Dawud).</font><font face="Times New Roman">Berkata Abu Thalhah: aku pernah menyolatkan jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas. Beliau membaca Al Fatihah dan surat (HR. Bukhari. Abu Dawud).</font><font face="Times New Roman">Bacaan dalan shalat jenazah adalah sirr atau pelan-pelan/ tidak dikeraskan (HR. Nasa’i).</font><font face="Times New Roman">Kemudian bertakbir kedua dan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Baihaqi).</font><font face="Times New Roman">Kemudian bertakbir yang lainnya dan mengikhlaskan do’a untuk jenazah (HR: Abu Dawud, Ibnu Majah).</font><font face="Times New Roman">Berdo’a dalam shalat jenazah dengan do’a-do’a yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallhu’alaihi wasallam.</font><font face="Times New Roman">Setelah itu salam 2 kali, ke kanan dan ke kiri (HR. Baihaqi).</font><font face="Times New Roman">Atau boleh juga mencukupkan hanya satu salam saja (HR. Hakim).</font><font face="Times New Roman">Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menshalatkan jenazah, maka beliau bertakbir empat kali dan melakukan salam sekali ( HR: Hakim; Ahkamul Janaiz:163).</font><font face="Times New Roman">Salam diucapkan dengan pelan, baik imam maupun makmum (HR. Baihaqi).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Tata cara shalat jenazah berdasarkan keterangan dan dalil-dalil yang telah disebutkan:<br />
</font></strong><font face="Times New Roman">1. Mengucapkan takbir dan mengangkat tangan pada takbir pertama.<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Setelah takbir pertama, langsung membaca Al-Fatihah secara sirr atau dengan suara pelan.<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Kemudian membaca surah lain setelah membaca Al-Fatihah (juga dengan sir)**<br />
</font><font face="Times New Roman">4. Bertakbir kedua (tanpa mengangkat tangan atau dengan mengangkat tangan).<br />
</font><font face="Times New Roman">5. Membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan suara pelan.<br />
</font><font face="Times New Roman">6. Bertakbir ketiga (tanpa mengangkat tangan atau dengan mengangkat tangan).<br />
</font><font face="Times New Roman">7. Lalu membaca do’a dengan ikhlas untuk jenazah (dengan suara pelan).<br />
</font><font face="Times New Roman">8. Bertakbir kempat (tanpa mengangkat tangan atau dengan mengangkat tangan).<br />
</font><font face="Times New Roman">9. Lalu membaca do’a dengan ikhlas untuk jenazah (dengan suara pelan).<br />
</font><font face="Times New Roman">Demikian pula jika bertakbir 5 kali atau lebih, maka bertakbir (tanpa mengangkat tangan atau dengan mengangkat tangan) kemudian membaca do’a untuk jenazah.</font><font face="Times New Roman">10. setelah berdoa pada takbir terakhir, kemudian mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri. Atau boleh juga dengan sekali salam saja.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Tidak boleh shalat jenazah pada waktu-waktu yang terlarang, yaitu tatkala matahari terbit, pada tengah hari dan ketika matahari akan tenggelam<br />
</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">‘Uqbah bin ‘Amir berkata: tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau menguburkan mayat, yaitu: ketika terbit matahari sampai meninggi, ketika matahari di tengah-tengah langit sampai tergelilncir, dan ketika akan terbenam sampai terbenam (HR. Muslim).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Memikul dan Mengikuti Jenazah</font></strong><br />
<font face="Times New Roman">Wajib memikul mayat dan mengikutinya, hal ini termasuk hak mayat muslim atas kaum muslimin lainnya (HR. Bukhari-Muslim).</font><font face="Times New Roman">Mengikuti mayat ada dua derajat:<br />
</font><font face="Times New Roman">1. Mengikutinya di keluarganya sampai menshalatkannya.<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Mengikutinya di keluarganya sampai selesai penguburannya dan inilah yang lebih utama.</font><font face="Times New Roman">Barang siapa menshalatkan jenazah namun tidak mengiringinya maka baginya pahala satu qirath. Jika ia sampai mengikutinya baginya dua qirath. Dikatakan: Apa itu qirath ya Rasulullah? Qirath itu semisal gunung Uhud (HR: Muslim).</font><font face="Times New Roman">Mengikuti jenazah hanya diperuntukan bagi laki-laki dan bukan untuk wanita berdasarkan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</font><font face="Times New Roman">Berkata Ummu ‘Athiyyah radiyallahu’anha: kami para wanita dilarang mengikuti jenazah, namun (larangan itu) tidak ditegaskan atas kami. (HR. Bukhari-Muslim).</font><font face="Times New Roman">Larangan tadi berupa larangan tanziih (tidak sampai kepada haram).</font><font face="Times New Roman">Jenazah tidak boleh diikuti dengan apa-apa yang menyelisihi syariat seperti menangis dengan keras dan mengikutinya dengan kemenyan (Ahkamul Janaiz: 91).</font><font face="Times New Roman">..termasuk ucapan-ucapan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengiringi jenazah.</font><font face="Times New Roman">Tidak boleh jenazah diiringi dengan suara atau api (HR. Abu Dawud).</font><font face="Times New Roman">Adapun yang dituntunkan adalah diam, tidak berbicara, berpikir serta merenung, terhadap apa yang dilihatnya.</font><font face="Times New Roman">Wajib berjalan cepat membawa mayat akan tetapi tidak sampai berlari-lari kecil (Ahkamul Janaiz:93).</font><font face="Times New Roman">Boleh berjalan di depan mayat, di belakangnya (ini yang lebih utama) atau di sebelah kanannya, atau di sebelah kirinya (Ahkamul Janaiz:94-96).</font><font face="Times New Roman">Dan ikutilah jenazah&#8230;(Al Wajiz: 173).</font><font face="Times New Roman">Boleh berkendaraan ketika kembali dari penguburan dan tidak makruh (Ahkamul Janaiz: 97).</font><font face="Times New Roman">Adapun membawa jenazah dengan kereta atau mobil yang dikhususkan untuk jenazah dan para pelayat mengantarkannya dengan mobil-mobil, maka ini tidak disyariatkan (Ahkamul Janaiz: 99-100).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir dan menghilangkan tujuan mengiringi jenazah dan memikulnya yaitu mengingatkan manusia akan akhirat.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Apalagi hal itu akan menyedikitkan orang yang mengiringi jenazah dan yang mengharapkan pahala dari mengiringi jenazah.</font><font face="Times New Roman">Berdiri untuk (menghormati ) jenazah sudah dihapus hukumnya, maka tidak dilakukan (Ahkamul Janaiz: 100).</font><font face="Times New Roman">Disukai bagi orang yang telah memikul jenazah untuk berwudhu (HR: Abu Dawud, Tirmidzi).</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Menguburkan Jenazah</font></strong><strong><font face="Times New Roman">Q.S.Al Ahzab 33:6:</font></strong><font face="Times New Roman">6. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri[1200] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik[1201] kepada saudara-saudaramu (seagama). adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Allah).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[1200] Maksudnya: orang-orang mukmin itu mencintai Nabi mereka lebih dari mencintai diri mereka sendiri dalam segala urusan.</font><font face="Times New Roman">[1201] Yang dimaksud dengan berbuat baik disini ialah Berwasiat yang tidak lebih dari sepertiga harta.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Seorang suami boleh mengurusi sendiri penguburan istrinya (HR. Ibnu Majah; Ahkamul Janaiz: 67)</font><font face="Times New Roman">Disyariatkan bagi orang yang menurunkan mayat, pada malam sebelumnya dia tidak menggauli istrinya (HR. Bukhari).</font><font face="Times New Roman">Menurut sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memasukkan jenazah adalah dari kaki kubur.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Al Harits mewasiatkan agar ia dishalatkan oleh Abdullah bin Zaid, maka ia pun menshalatkannya lalu memasukkannya ke dalam kubur dari arah kaki kubur seraya berkata “ini termasuk sunnah”. (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 190).</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Mayat dibaringkan di atas lambung kanannya dan wajahnya dihadapkan ke qiblat (Ahkamul Janaiz: 193).</font><font face="Times New Roman">Dengan nama Allah dan diatas sunnah Rasulullah&#8230;(HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 193).</font><font face="Times New Roman">Dengan nama Allah dan demi Allah serta diatas ajaran Rasulullah..(HR.Hakim; Ahkamul Janaiz: 193)</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Disunnahkan bagi orang yang menghadiri penguburan untuk menaburkan tanah sebanyak tiga kali dengan kedua tangannya.</font><font face="Times New Roman">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menshalatkan jenazah kemudian tatkala selesai penguburannya, beliau menaburkan tanah sebanyak 3 kali ke kuburnya (HR. Ibnu Majah; Ahkamul Janaiz: 193).</font><font face="Times New Roman">Menaikkan kubur dari tanah dengan tinggi satu jengkal (tidak diratakan dengan tanah) (HR. Baihaqi; Ahkamul Janaiz: 195).</font><font face="Times New Roman">Memberi tanda berupa batu atau semisalnya agar dapat dikenali (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz:197).</font><font face="Times New Roman">Berdiri di sekitar kubur dan mendoakan kemantapan bagi mayat dan memohonkan ampunan serta memerintahkan orang-orang untuk melakukan (hal serupa) (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz:197).</font><font face="Times New Roman">Mintakanlah ampun untuk saudara kalian, dan memohonkan keteguhan. </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Takziyah</font></strong><font face="Times New Roman"><br />
Takziyah artinya menghibur dan menyabarkan.</font><font face="Times New Roman">Disyariatkan takziyah kepada keluarga mayat, yaitu denga mendorongnya untuk sabar denga menyebutkan janji pahala kesabaran serta mendoakan akan kebaikan untuk mayat ( Masalah Jenazah: 65).</font><font face="Times New Roman">“Sesungguhnya milik Allah lah apa yang diambilNya juga apa yang diberikanNya, dan segala sesuatu di sisiNya menurut batas waktu akan ditentukan”&#8230;perintahkanlah ia untuk bersabar dan mengharap pahala (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">Disyariatkan juga bertakziyah dengan perkataan yang baik yang ditujukan untuk menghibur dan membesarkan hati keluarga mayat selama hal tersebut tidak menyelisihi syariat.</font><font face="Times New Roman"> </font><strong><font face="Times New Roman">Q.S Ar Rahman:55:26-27:</font></strong><font face="Times New Roman">26. semua yang ada di bumi itu akan binasa.</font><font face="Times New Roman">27. dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.</font><font face="Times New Roman">Takziyah tidak mesti dilakukan pada waktu dan tempat tertentu, namun bisa dilaksanakan kapan dan dimana saja tatkala bertemu dengan orang yang tertimpa musibah, baik itu di jalan, di tempat umum, maupun di tempat lainnya, selama musibah masih terasakan olehnya. Karena hakekat Takziyah itu sendiri adalah menghibur dan membesarkan hati orang yang ditimpa musibah.<br />
</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Takziyah tidak dibatasi dengan 3 hari. Bahkan kapan saja seseorang melihat adanya faedah di dalam takziyahtersebut, maka hendaklah ia melakukannnya (Masalah Jenazah:66).<br />
</font><font face="Times New Roman">Dalam takziyah hendaklah dijauhi dua perkara walaupun kebanyakan manusia pada saat ini banyak melakukannya (Ahkamul Janaiz:210):<br />
</font><font face="Times New Roman">1. Berkumpul-kumpul untuk melakukan takziyah di tempat khusus seperti rumah, pekuburan, atau masjid.<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Keluarga mayat membuatkan makanan dan menjamu orang-orang yang datang takziyah.</font><font face="Times New Roman">Kami (para sahabat nabi) menganggap berkumpul-kumpul ke tempat keluarga mayat dan membuat jamuan setelah penguburan mayat termasuk niyaah (meratap) (HR. Ibnu Majah; Ahkamul Janaiz:210).</font><font face="Times New Roman">Yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, kerabat dan tetangga membuatkan makanan yang mengenyangkan bagi keluarga mayat (Ahkamul Janaiz: 211).</font><font face="Times New Roman">Sediakanlah makanan bagi keluarga Ja’far karena telah datang pada mereka perkara yang menyibukkan mereka (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 211).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Yang Bermanfaat Bagi Jenazah</font></strong><font face="Times New Roman">1. Doa seorang muslim untuk mayat.</font><strong><font face="Times New Roman">Q.S. Al Hasyr 59: 10:</font></strong><font face="Times New Roman">10. dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: &#8220;Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.&#8221;</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Doa seorang muslim kepada saudaranya yang tidak ada di hadapannya, mustajab(terkabul). Di sisi kepalanya ada malaikat yang berdoa setiap dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan maka berkatalah malaikat itu:”Amin dan bagimu semisalnya” (HR.Muslim).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">2. Menunaikan puasa nadzarnya (Ahkamul Janaiz:213)</font><font face="Times New Roman">Sa’ad bin Ubadah menminta fatwa kepada Rasulullah: “ Sesungguhnya ibuku meninggal sedang ia punya nadzar (bagaimana)?” Nabi bersabda: “Tunaikanlah nadzar ibumu.” (HR. Bukhari-Muslim).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">3. Membayarkan utang mayat oleh siapa saja, baik wali mayat atau selainnya (Ahkamul Janaiz: 216).</font><font face="Times New Roman">4. Amal-amal shalih yang dilakukan oleh anaknya yang shalih (Ahkamul janaiz :216).</font><font face="Times New Roman">Sesungguhnya sebaik-baiknya yang dimakan seseorang adalah hasil usahanya sendiri, dan anaknya termasuk hasil usahanya ( HR. Abu Dawud; Ahklamul Janaiz: 216).</font><font face="Times New Roman">5. Apa yang ditinggalkannya dari hal-hal yang baik dan shadaqah jariyah (Ahkamul Janaiz:223).</font><font face="Times New Roman">Jika seorang manusia mati,maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal: dari shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih yang mendoakannya (HR. Muslim).</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Ziarah Kubur</font></strong><font face="Times New Roman">Aku dulu pernah melarang kalian dari berziarah kubur, tetapi kini berziarahlah! Karena ada pelajaran di dalamnya, namun jangan ucapkan apa-apa yang membuat Allah murka (HR. Hakim; Ahkamul Janaiz:228).</font><font face="Times New Roman">Seperti laki-laki, wanita juga disunnahkan untuk ziarah kubur (Ahkamul Janaiz: 229).</font><font face="Times New Roman">Akan tetapi, wanita tidak boleh memperbanyak ziarah kubur dan bolak-balik ke kubur, karena hal tersebut dapat membawa kaum wanita kepada penyelisihan syariat (Ahkamul Janaiz: 235).</font><font face="Times New Roman">Boleh menziarahi kubur orang kafir dengan maksud mengambil pelajaran dan nasehat saja (Ahkamul Janaiz: 235).</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Maksud ziarah kubur ada dua:</font></strong><font face="Times New Roman">1. Mengambil manfaat dengan mengingat kematian dan orang-orang yang telah mati dan bahwa tempat kembali mereka mungkin ke surga atau ke neraka.</font><font face="Times New Roman">2. Memeberi manfaat kepada penghuni kubur dan berbuat baik kepadanya dengan mengucapkan salam dan mendoakannya.</font><font face="Times New Roman">                                                                                                                                                             (Ahkamul Janaiz :339)</font><strong><font face="Times New Roman">Ucapan salam kepada penghuni kubur:</font></strong><font face="Times New Roman">Semoga keselamatan bagi atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan mukminin dan muslimin, dan kami insya Allah menyusul kalian. Kami mohon kepada Allah bagi kami dan kalian agar dianugerahi keselamatan (HR. Muslim).</font><font face="Times New Roman">Boleh mengangkat tangan saat mendoakan penghuni kubur (Ahkamul Janaiz: 246).</font><font face="Times New Roman">Akan tetapi tidak boleh menghadap ke kubur namun harus menghadap ke qiblat.</font><font face="Times New Roman">Tidak boleh berjalan diantara kubur kaum muslim dengan memakai sandal (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 252).</font><font face="Times New Roman">Jika menziarahi orang kafir, maka tidak boleh mengucapkan salam dan mendoakan, akan tetapi memberitakan dengan neraka (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 251).</font><font face="Times New Roman">Tidak disyariatkan meletakkan tanaman, wewangian atau bunga di atas kubur karena itu bukan perbuatan Salaf. Seandainya hal itu baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya (Ahkamul Janaiz : 259).</font><font face="Times New Roman">Peringatan:</font><font face="Times New Roman">Mendoakan penghuni kubur sewaktu ziarah kubur adalah dengan memohon ampunan serta keselamatan bagi penghuni kubur dan bukan berdoa atau meminta-minta kepada penghuni kubur, kerana hal ini merupakan syirik besar yang dapat merusak keislaman seseorang. Na’udzubillahi min dzalik.</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Yang haram dilakukan dikuburan:<br />
</font></strong><font face="Times New Roman">1. Tidak ada penyembelihan (di kuburan) dalam Islam (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 228).<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Haram mengecat kubur dengan kapur atau yang semacamnya (Ahkamul Janaiz: 260).<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Diharamkan duduk di atas kubur (Ahkamul Janaiz: 260).<br />
</font><font face="Times New Roman">4. Diharamkan membangun ( di atas) kubur (Ahkamul janaiz: 260).<br />
</font><font face="Times New Roman">5. Meninggikan kubur dengan tanah dari luar (Ahkamul Janaiz: 260).<br />
</font><font face="Times New Roman">6. Diharamkan menulisi kubur (Ahkamul Janaiz: 260).</font><font face="Times New Roman">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyemen/ mengapur kubur, duduk diatasnya, membangunnya, menambahnya atau menulisinya (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 260).</font><font face="Times New Roman">Sebagian ulama membolehkan menulisi sekedar namanya saja sebagai tanda agar kubur dikenali (Fatawa Ta’ziyah Syaikh Al Utsaimin).<br />
</font><font face="Times New Roman">7. Diharamkan shalat di dekat kubur baik menghadap kubur ataupun tidak (Ahkamul Janaiz:269-270).</font><font face="Times New Roman">Janganlah kalian shalat menghadap kubur (HR. Muslim).</font><font face="Times New Roman">Bumi semua adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 228).</font><font face="Times New Roman">Adapun bagi kaum muslim yang belum menshalatkan jenazah dan dia ingin menshalatkannya padahal jenazah sudah dikubur, maka boleh menshalatkan di kuburan sebagaimana hal ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">8. Haram membangun masjid di atas kuburan (Ahkamul Janaiz: 275).</font><font face="Times New Roman">Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani . Mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid (HR. Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">9. Haram menjadikan kuburan sebagai ‘Ied, yaitu sebagai tempat berkumpul dan didatangi pada waktu-waktu tertentu (untuk beribadah) (Ahkamul Janaiz).</font><font face="Times New Roman">Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘Ied (HR Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 280).<br />
</font><font face="Times New Roman">10. Diharamkan bersafar menuju kubur (Ahkamul Janaiz: 280).</font><font face="Times New Roman">Bila seseorang berangkat haji dan mengunjungi Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua sahabatnya, maka hendaknya yang menjadi tujuan utama adalah mengunjungi Masjid Nabawi, bukan untuk berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (disarikan dari Al Wajiz: 267).</font><font face="Times New Roman">Tidak boleh bersusah payah menempuh pejalanan (dalam rangka ibadah ) melainkaan ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul, dan Masjid Al-Aqsha (HR.Bukhari-Muslim).<br />
</font><font face="Times New Roman">11. Menyalakan lampu di dekat kubur atau menerangi kubur (Ahkamul Janaiz:294).</font><font face="Times New Roman">Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka (HR.Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah).<br />
</font><font face="Times New Roman">12. Haram memecahkan tulang mayat muslimin (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz:295).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Daftar rujukan:</font></strong><br />
<font face="Times New Roman">1. Ahkamul Janaiz wa bida’uhaa, al Imam Al-Albanyrahimahullah, Maktabah Al Ma’aarif Riyadh 1412 H.<br />
</font><font face="Times New Roman">2. Al Wajiiz Fii Fiqhis Snnah Wal Kitaabil’Aziiz, Asy Syaikh’Abdul ‘Azhim Badawi hafizhahullah<br />
</font><font face="Times New Roman">3. Syarhu Masaail Jaahiliyyah, Asy Syaikh Shalih Fauzan hafizha hullah<br />
</font><font face="Times New Roman">4. Bimbingan Praktis Penyelenggaraan Jenazah, Asy Syaikh’Abdurrahman Al Ghaits hafizhahullah, At-Tibyan<br />
</font><font face="Times New Roman">5. Shalat Jenazah, Asy Syaikh Abdullah Al Jibrin hafizhahullah, At-Tibyan<br />
</font><font face="Times New Roman">6. Ringkasan Hukum-Hukum Lengkap Masalah Jenazah, Asy Syaikh ‘Ali bin Hasan al Halabi Al Atsari hafizhahullah, Pustaka Imam Bukhari<br />
</font><font face="Times New Roman">7. Fatwa-fatwa Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin tentang Ta’ziah, Asy Syaikh Fahd ‘Abdurrahman Asy Syamiry hafizhahullah, Darul Qolam</font></p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_8'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_8' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_8' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|8';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/25/tambahan-materi-tata-cara-pengurusan-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undangan Percikan Iman, 30.05.2009</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/undangan-percikan-iman-30052009/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/undangan-percikan-iman-30052009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 06:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>grace</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/undangan-percikan-iman-30052009/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirahmanirrahim
Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala atas rahman dan rahim-Nya. Shalawat dan salam tercurah pada Nabi Muhammad salallahu alaihi wasalam
Sudahkah Anda Sabar dan Bertawakal?
Ingin tahu lebih banyak mengenai makna Sabar dan Tawakal yang digambarkan di Al Quran dan Hadits?
Datang yuk ke pengajian keluarga Percikan Iman yang insya Allah diselenggarakan pada:
Hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillahirahmanirrahim</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala atas rahman dan rahim-Nya. Shalawat dan salam tercurah pada Nabi Muhammad salallahu alaihi wasalam</p>
<p><strong>Sudahkah Anda Sabar dan Bertawakal?</strong><br />
Ingin tahu lebih banyak mengenai makna Sabar dan Tawakal yang digambarkan di Al Quran dan Hadits?<br />
Datang yuk ke pengajian keluarga Percikan Iman yang insya Allah diselenggarakan pada:<br />
<strong>Hari         :    Sabtu, 30. Mei 2009</strong><br />
<strong>Waktu     :    12.30  -  Selesai</strong><br />
<strong>Tempat   :    Mehrzweckhalle Freienwil</strong>, <strong>Schultrasse  5423 Freienwil</strong><br />
<strong>Penyampai materi : Ust. Desrial &#8216;Aal&#8217; Anwar  (Bahasa Indonesia)</strong> dan <strong><br />
Ust. Hamit Duran  (Bahasa Jerman)</strong></p>
<p><strong>Susunan Acara:<br />
</strong>·      Makan Siang<br />
·      Sholat Dhuhur berjamaah<br />
·      Tausiyah anak bersama bapak Aal<br />
·      Tausiyah dan tanya jawab<br />
·      Makanan Penutup</p>
<p>Konfirmasi kehadiran dapat disampaikan kepada Linda Schaub 079 530 7485 atau Rina Busslinger 078 868 4363 tengat waktu tanggal 25 Mei 2009.</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  meringankan langkah kita semua untuk hadir pada pengajian Percikan Iman kali ini. Atas perhatian dan partisipasi rekan-rekan semua, kami ucapkan jazakumullah khairan khatsira.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,<br />
a/n penyelenggara</p>
<p>Indria Sparling, Linda Schaub, Metty Noor, Nur Lang, Rina Busslinger, Sari Spichtig, Yetti Meier  </p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_9'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_9' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_9' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|9';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/undangan-percikan-iman-30052009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percikan Iman, 23.11.2008 (Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah)</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/percikan-iman-23112008-tata-cara-penyelenggaraan-jenazah/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/percikan-iman-23112008-tata-cara-penyelenggaraan-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 05:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>grace</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/percikan-iman-23112008-tata-cara-penyelenggaraan-jenazah/</guid>
		<description><![CDATA[Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn
Allah berfirman dalam Q.S.Al Jumu’ah: 62:8 :
Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.  
Mengingat mati sangat penting. Dalam sebuah hadist: perbanyaklah mengingat pemisah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dirangkum oleh Idah Zulkarnayn</p>
<p>Allah berfirman dalam <strong>Q.S.Al Jumu’ah: 62:8 :</strong><br />
Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.  <br />
Mengingat mati sangat penting. Dalam sebuah hadist: perbanyaklah mengingat pemisah kelezatan, kenikmatan yaitu kematian ( memisahkan kenikmatan dan segala macam perhiasan dunia yang kita nikmati).  <br />
Tujuan mengingat mati adalah supaya kita tidak terlena dan tergoda akan perhiasan dunia.  <br />
Perjalanan hidup kita diilustrasikan seperti seorang penyelam yang diberi tugas oleh kapten kapal untuk mengambil mutiara sebanyak-banyaknya di dasar laut dengan bermodalkan tabung oksigen. Saat mulai menyelam, penyelam teralihkan perhatian oleh ikan-ikan yang bagus, batu koral yang indah sehingga tujuan utama untuk mengambil mutiara di dasar laut terlupakan. Sampai akhirnya penyelam sadar akan tujuan utama menyelam setelah tabung oksigen yang dibawa hampir habis. Apabila penyelam tersebut sempat mengambil mutiara, yang diambilnya tidak banyak. Apabila sedian oksigen dalam tabung habis berarti si penyelam tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan dapat berakibat mati sia-sia.Hal ini dapat diartikan bahwa, saat maut menjemput, kita baru sadar bahwa amalan yang kita bawa kurang.  <br />
Allah berfirman dalam <strong>Q.S. Ali ‘Imran:3:185:</strong> Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.  <br />
Hal-hal yang berhubungan dengan pembahasan jenazah ada 4:<br />
Saat sebelum mati, masa sakit<br />
1. Hak-hak mayat terdiri dari 4 katagori besar:      <br />
a. dimandikan      <br />
b. dikafankan      <br />
c. disholatkan      <br />
d. dikuburkan<br />
2. Takziyah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, ziarah kubur<br />
3. Mati syahid<br />
  <br />
<strong>1.  Hukum-hukum seputar orang sakit:</strong><br />
Bagi orang yang sakit berat tidak boleh meminta mati. Yang harus dilakukan adalah berdoa dan berserah diri.<br />
Doa Rasullallah sbb: <em>Allahumma  ahyinii maakanatil hayaatu khairan lii, watawaffanii maakanatil wafaitu khairan lii</em><br />
Artinya: Ya Allah hidupkanlah aku jika memang baik bagiku, dan matikanlah aku jika memang itu baik bagiku (HR: Bukhari – Muslim).    <br />
Allah berfirman dalam <strong>Q.S. Al Baqarah:2:216:</strong><br />
Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.  <br />
Hikmah dari sakit yang dialami adalah sadar akan kesalahan yang diperbuat. Seseorang yang sakit kemudian sadar akan kesalahannya kemudian cepat minta ampunan Allah dan minta maaf kepada orang yang pernah dizalimi kemudian orang tersebut ternyata kembali sehat akan meraskan dua kenimatan besar. Yang  pertama dipulihkan dari sakit, kedua dimaafkan kesalahannya. Dalam agama Islam seseorang tidak boleh putus asa. <br />
Menjenguk orang sakit adalah hak sesama manusia baik itu muslim atau non muslim. Sebagai seorang muslim dibolehkan mendoakan kesembuhan seorang non muslim yang sedang sakit. Yang tidak dibolehkan adalah mendoakan seseorang  non muslim yang sudah meninggal agar Allah mengampuni dosa dan menerima amalalan orang tersebut. Tapi kita diperkenankan untuk mengucapkan kalimat yang dapat menguatkan, menyabarkan ahli waris dari yang meninggal. Contoh: Semoga anda dikuatkan, sabar, tabah dalam menghadapi cobaan.  </p>
<p>Bila mendengar muslim atau non muslim meninggal dapat mengucapkan Innalillahi Wa Innaillaihi Rojiun yang artinya sesungguhnya kita semua milik Allah dan kita kembali kepada Allah.  <br />
Termasuk hak-hak sesama manusia sbb:<br />
a.  melayat orang sakit<br />
b.  apabila bertemu mengucapkan salam<br />
c.  apabila diundang, dapat menghadiri sebaiknya hadir<br />
d.  apabila bersin dan yang bersin mengucapkan Alhamdulillah, maka kita yang mendengar wajib menjawab Yaharmukallah yang artinya semoga Allah merahmati mu.<br />
e.  Mengantar jenazah baik itu jenazah muslim atau non muslim. Yang tidak boleh dilakukan adalah mengikuti ritual agama lain saat mengantarkan jenazah ke pemakaman.  </p>
<p><strong>2. Hak-hak mayat:</strong>  <br />
<strong>2.1. Dimandikan</strong><br />
Hampir sama dengan mandi wajib (mandi setelah nifas, junub). Tujuan memandikan mayat yang paling utama adalah untuk membersihkan seluruh anggota badan dan tersentuh dengan air.Menghilangkan semua hadast besar dan kecil. Sunah-sunah memandikan mayat:<br />
a.  mewudhukan mayat<br />
b.  mendahulukan bagian kanan<br />
c.  jumlah mewudhukan sebanyak witir, satu, tiga, lima, sembilan kali atau Mahzab Hambali:sebanyak-banyaknya sampai kotoran bersih.<br />
d.  saat membersihkan najis menggunakan tangan kiri </p>
<p><strong>Tujuan memandikan mayat:</strong> untuk kebersihan dan mayat tidak cepat bau</p>
<p><strong>Cara memandikan mayat:</strong><br />
* Salah seorang merangkul leher mayat,kemudian mayat bersandar di tangan orang yang memandikan.Bila memungkinkan dua orang bertugas memandikan mayat agar memudahkan untuk menopang mayat saat bagian punggung kanan dan kiri dibersihkan.<br />
* Cara megeluarkan najis dari perut mayat adalah dengan mengurut dan menekan perut mayat perlahan tapi terarah agar kotoran/najis keluar. Mengurut perut ke bawah, ke kanan, ke kiri, dari arah tengah ke bawah.<br />
* Apabila mayat sudah bersih, mayat dimandikan dengan secarik kain (kaos tangan, handuk kecil atau semisalnya) dimulai dari bagian tubuh sebelah kanan atau bagian anggota badan saat berwudhu.<br />
* Mayat dapat dimandikan dengan daun bidara atau daun sirih atau sabun. Pada siraman terakhir, air dapat dicampurkan sesuatu yang wangi contohnya kamfer/kapur barus.<br />
* Mayat dikeringkan dengan handuk dan siap untuk dikafankan.<br />
<strong>Penjelasan tambahan;</strong><br />
* Batasan aurat bagi mayat laki-laki adalah dari pusar hingga lutut. Batasan aurat bagi mayat wanita adalah dari bagian dada, pusar, hingga lutut. Saat dimandikan, menggunakan kain penutup untuk menutup aurat.<br />
* Tidak ada batasan aurat bagi anak mayat laki-laki atau perempuan di bawah usia 7 tahun karena belum akil baligh menurut Jumhur Ulama.<br />
* Mayat laki-laki dimandikan oleh kaum laki-laki dan mayat wanita dimandikan oleh kaum wanita. Bila tidak ada kaum yang sejenis atau mahramnya yang memandikan, maka mayat ditayamumkan.<br />
* Tidak ada batasan aurat bagi suami dan juga mahramnya untuk memandikan mayat istrinya atau sebaliknya menurut Imam Hambali.<br />
* Makruh hukumnya bila seorang suami memandikan mayat istrinya atau sebaliknya menurut Imam Syafii.<br />
* Yang berhak memandikan adalah kerabat si mayat. Mayat laki-laki dimandikan oleh kerabat laki-laki dan mayat wanita dimandikan oleh kerabat wanita. Contoh lain: Apabila seorang bapak meninggal dan anak perempuan yang memandikan harus menggunakan kain penutup karena ada batasan aurat antara seorang bapak dengan anak perempuannya. Untuk itu, urusan memandikan dapat diserahkan kepada paman.<br />
* Tidak ada bacaan khusus saat memandikan mayat.<br />
* Bagi yang memandikan mayat diwajibkan untuk wudhu terlebih dahulu dan disunahkan untuk mandi setelah memandikan mayat.<br />
* Bagi wanita yang memandikan mayat kondisinya harus suci atau tidak dalam masa menstruasi.<br />
* Bagi wanita yang memandikan mayat dituntut suci karena dalam pandangan Islam mayat itu suci, mulia dan selayaknya dihormati. Tetapi bila tidak ada orang lain yang dapat memandikan mayat, wanita yang dalam masa menstruasi boleh memandikan mayat ( hukumnya tidak haram).<br />
* Bagian tubuh yang dipotong setelah dimandikan contoh kuku atau rambut (dipotong karena pajang dan kotor) dimasukkan atau diselipkan saat mayat dikafani karena merupakan bagian tubuhnya setelah menjadi mayat dan yang menjadi saksi selama hidupnya.<br />
* Menyegerakan memandikan mayat apabila sudah diketahui bahwa seseorang itu benar-benar meninggal. Mayat yang lebih dari 6 jam kondisinya akan berubah, contoh menjadi kaku dan tidak lentur saat dimandikan.</p>
<p><strong>2.2. Dikafani:</strong><br />
<strong>Bahan:</strong><br />
* Kain kafan untuk laki-laki tidak boleh dari bahan sutera.<br />
* Menurut Imam Hanafi, Maliki, dan Syafii, makruh hukumnya untuk kaum wanita menggunakan kain kafan dari sutera.<br />
* Untuk kaum wanita dibolehkan menggunakan bahan sutera bila tidak ada bahan lain selain sutera menurut imam Syafii.<br />
* Warna kain kafan boleh selain warna putih, tapi yang terbaik adalah warna putih. Tujuannya adalah, bila ada kotoran pada kain kafan berwarna putih akan terlihat.<br />
* Kain kafan tidak tembus pandang atau transparan.<br />
<strong>Tujuan mengkafani mayat:</strong><br />
Menutup seluruh tubuh mayat sehingga menghalangi bau yang keluar dari mayat. Penggunaan kapas adalah untuk penyempurnaan dalam mengkafani jenazah. Kapas digunakan untuk menutup lubang hidung, telinga, kemaluan depan dan belakang sehingga menghalangi bau yang keluar dari mayat.<br />
<strong>Jumlah helai kain kafan:</strong><br />
* Kain kafan untuk mayat laki-laki minimal 3 helai.<br />
* Kain kafan untuk kaum wanita minimal 5 helai maksimim 7 helai. Berdasarkan kodratnya, mayat wanita lebih bau dibandingkan mayat laki-laki sehingga jumlah helai kain kafan wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Islam menghormati kodrat wanita (dalam hal: aurat). Untuk itu helai kain kafan yang digunakan sebagai penutup mayat wanita lebih banyak dibanding mayat laki-laki.Perbedaan antara wanita dan laki-laki dapat pula dilihat dari cara membersihlkan najis (air kencing di saat bayi). Seperti yang diuraian dalam hadist di bawah ini:</p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kencing bayi laki-laki itu cukup dengan memercikkanya saja. Sedangkan kencing bayi wanita harus dicuci”. Qatadah berkata,”Dan ini bila belum makan apa-apa, tapi bila sudah makan makanan, maka harus dicuci”. (HR. Tirmizi dan beliau menshahihkannya). (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmizy dan Ahmad).</p>
<p><strong>Cara melipat kain kafan:</strong><br />
* Kain kafan dibentangkan dan tiap lapisan diberi wewangian (melati, kapur barus, atau kopi).<br />
* Lapisan pertama dilipat dengan cara melipat sisi kanan kemudian kiri dan dilanjutkan pada lapisan berikutnya.<br />
* Mayat yang telah dikafani diikat tiga, dibagian kepala, pinggang dan kaki. Tujuan mayat yang telah dikafani diikat adalah agar bau dari mayat terhalang atau tidak mudah keluar sampai mayat dikuburkan.</p>
<p><strong>Penjelasan tambahan:</strong><br />
* Panjang dan lebar dari tiap helai kain kafan ukurannya boleh sama.<br />
* Dalam fiqih lama kain kafan ada yang berbentuk baju, lipatan ataupun bentuk sarung.<br />
* Kain kafan dipotong sesuai tinggi dan besar mayat.<br />
* Untuk mayat wanita, bagian kain kafan boleh dibentuk selendang untuk menutupi sekeliling wajah.<br />
* Menurut imam Hambali, kain kafan yang terbaik adalah kain yang sudah digunkan si mayat saat hidup dan sudah dicuci.<br />
* Bila tidak mampu dalam penyediaan kain kafan, maka cukup menggunakan satu helai saja.<br />
* Pengeluaran biaya kain kafan diambil dari harta mayat yang belum dipotong hutang, waris. Atau dari orang yang wajib menafkahi, contoh: suami bila yang meninggal adalah istrinya.<br />
* Dalam hal mengkafani sebaiknya mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulallah: sederhana, tidak mubazir dan tidak dipersulit.<br />
* Bahan yang sudah terjahit boleh digunakan sebagai kain kafan untuk mayat laki-laki atau mayat perempuan.<br />
* Laki-laki yang meninggal saat berhaji tidak boleh menggunakan kain kafan yang terjahit.<br />
* Boleh menggunakan kain kafan yang pernah digunakan saat ihram.</p>
<p><strong>2.3. Disholatkan</strong>Shalat Jenazah merupakan shalat yang tidak perlu ruku’ dan sujud. Yang kita lakukan hanyalah berdiri, takbir sebanyak empat kali dengan diselingi bacaan dan doa tertentu lalu salam.</p>
<p><strong>Rukun Shalat Jenazah</strong><br />
Shalat jenazah itu terdiri dari 8 rukun.<br />
<strong>2.3.1. Niat<br />
</strong>Shalat jenazah sebagaimana shalat dan ibadah lainnya tidak dianggap sah kalau tidak diniatkan. Dan niatnya adalah untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. <em>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.</em>(<strong>QS. Al-Bayyinah 98 ayat 5</strong>). Rasulullah SAW pun telah bersabda dalam haditsnya yang masyhur :<br />
Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,<em>“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang mendapatkan sesuai niatnya.”</em>(HR. Muttafaq Alaihi). <strong>Niat itu adanya di dalam hati </strong>dan intinya adalah tekad serta menyengaja di dalam hati bahwa kita akan melakukan shalat tertentu saat ini. * Contoh lafazh niat shalat jenazah laki-laki: U-shalii &#8216;Alaa haadzal-mayyiti arba&#8217;a takbiiraatin fardhal kifaayati (ma&#8217;muuman/Imaaman) lillaahita&#8217;aalaa Artinya: saya berniat menyolati laki-laki ini dengan empat takbir fardhu kifayah, dengan makmum karena Allah Ta&#8217;ala  <br />
<strong>2.3.2. Berdiri Bila Mampu<br />
</strong>Shalat jenazah tidak sah bila dilakukan sambil duduk atau di atas kendaraan (hewan tunggangan) selama seseorang mampu untuk berdiri dan tidak ada uzurnya.<br />
<strong>2.3.3. Takbir 4 kali<br />
</strong>Aturan ini didapat dari hadits Jabir yang menceritakan bagaimana bentuk shalat Nabi ketika menyolatkan jenazah.<br />
<em>Dari Jabi ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan jenazah Raja Najasyi (shalat ghaib) dan beliau takbir 4 kali.</em> (HR. Bukhari : 1245, Muslim 952 dan Ahmad 3:355)<br />
<strong>2.3.4. Membaca Surat Al-Fatihah<br />
2.3.5. </strong><strong>Membaca Shalawat kepada Rasulullah SAW<br />
2.3.6. Doa Untuk Jenazah<br />
</strong>Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :<em>Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa untuknya. </em>(HR. Abu Daud : 3199 dan Ibnu Majah : 1947). Diantara lafaznya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain : Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi. Atau:<br />
Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu.<br />
<strong>2.3.7. Doa Setelah Takbir Keempat<br />
</strong>Misalnya doa yang berbunyi : Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu<br />
<strong>2.3.8. Salam</strong>  <strong>Sholat jenazah secara berurut adalah sebagai berikut :</strong> 1. Takbiratul Ihram<br />
**Membaca Al-Fatihah, setelah Al Fatihah tidak dibaca surah pendek lainnya. Sementara ada pendapat lain yanng menganjurkan membaca Surah setelah membaca Al Fatihah dalam sholat jenazah.<br />
2. Takbir<br />
** Membaca Shalawat kepada Nabi SAW<br />
3. Takbir<br />
** Membaca Doa : Allahummaghfir lahu war-hamhu wa&#8217;aafihi wa&#8217;fu &#8216;anhu Artinya: Ya Allah, ampunilah dia, berilah dia rahmat, kesejahteraan, dan maafkanlah dia.<br />
4. Takbir<br />
** Membaca Doa : Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu Artinya: Ya Allah, janganlah engkau menghalangi pahalanya(sampai) kepada kita, janganlah Engkau menimpakan fitnah kepada kami sepeninggalnya, dan ampunilah dosa kami dan dosanya. Keterangan tambahan:   <strong>Posisi Iman, makmum, dan jenazah</strong>: * Bila jenazah yang disholatkan laki-laki, posisi iman mengarah ke bagian kepala atau bagian tengah jenazah dan menghadap ke arah kiblat. * Bila jenazah yang disholatkan wanita, posisi iman mengarah ke bagian tengah jenazah dan menghadap ke arah kiblat. * Jumlah shaf dianjurkan tiga ke belakang.</p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
* Bila jenazah yang disholatkan wanita maka bacaan Lahu berubah menjadi Laha. Bila jenazahnya banyak bacaan Lahu berubah menjadi Lahum.<br />
* Fitnah yang dimaksud dalam doa setelah takbir keempat adalah fitnah dari harta warisan yang di tinggalkan oleh orang yang meninggal.</p>
<p><strong>4. Dikuburkan</strong><br />
Saat jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat, mayat dihadapkan ke arah kiblat. Ikatan pada kain kafan dibuka dengan tujuan agar proses pembusukan mayat lebih cepat.</p>
<p>Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai Takziyah,Ziarah Kubur, dan Mati Syahid dapat dilihat pada rangkuman Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah DVD Al -Markaz</p>
<p><strong>Tanya-Jawab:</strong><br />
<strong>* Tanya:</strong> Apakah yang sebaiknya dilakukan bila jenazah mempunyai gigi palsu atau tato?<br />
<strong>Jawab:</strong> Bila gigi palsu tesebut dapat dilepaskan dan tidak menyakitkan si mayat sebaiknya dilepaskan. Apabila gigi palsu tersebut sudah menyatu dengan tubuh si mayat dan sukar dilepaskan maka tidak perlu dilepaskan. Tato yang sudah menempel pada kulit mayat dan tidak bisa dihilangkan akan menjadi saksi di hari akhir nanti. Seperti yang dijelaskan pada firman Allah SWT dalam<strong> Q.S.Yaasiin:36 ayat 65:</strong><br />
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berbicaralah kepada Kami tangan-tangannya dan bersaksi kaki-kakinya dengan apa-apa yang mereka perbuat.</p>
<p><strong>* Tanya: </strong>Apakah boleh menyerahkan pengurusan jenazah pada yayasan yang bergerak di bidang jasa pengurusan jenazah?<br />
<strong>Jawab: </strong>Boleh.</p>
<p><strong>* Tanya:</strong> Apakah dalam Islam diperbolehkan untuk mendonorkan/pencangkokan organ tubuh?<br />
<strong>* Jawab: </strong>Boleh, tetapi harus diperhatikan tujuan dari donor organ tubuh tersebut bukan untuk tujuan komersil atau diperjual belikan tapi untuk kebaikan, manfaat, kemashlahatan. Mengenai pencakokan organ tubuh dan penjelasannya  dapat dibuka link yang ditulis oleh Dr. Yusuf Qardhawi dari Gema Insani Press http://otodidakilmu.blogspot.com/2007/12/penncangkokan-organ-tubuh.html</p>
<p>Wallahualam bisshowab</p>
<p align="center">Hari Minggu, 23 November 2008</p>
<p align="center">Tempat : Kanzleistrasse 24, 8405 Winterthur</p>
<p align="center">Penyampai Materi : Bpk Desrial Anwar</p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_10'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_10' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_10' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|10';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/05/12/percikan-iman-23112008-tata-cara-penyelenggaraan-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percikan Iman, 24 Agustus 2008 (Iman, Islam, Ihsan)</title>
		<link>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/04/05/percikan-iman-24-agustus-2008-iman-islam-ihsan/</link>
		<comments>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/04/05/percikan-iman-24-agustus-2008-iman-islam-ihsan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 00:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/04/05/percikan-iman-24-agustus-2008-iman-islam-ihsan/</guid>
		<description><![CDATA[Hari / tanggal : Minggu / 24 Agustus 2008
W a k t u : Pk. 11:30 – 17:00
T e m p a t : FZA Kanzleistrasse, Kanzleistrasse 24, 8405 Winterthur
T e m a :    Iman, Islam, Ihsan
Penyampai Materi : Desrial Anwar (bang Aal)
&#160;
Tiga hal mendasar yang harus dipahami sebaik mungkin adalah Iman, Islam, Ikhsan (tiga-i). Arti peribahasa, benar-benar mengerti dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Hadist [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari / tanggal : Minggu / 24 Agustus 2008<br />
W a k t u : Pk. 11:30 – 17:00<br />
T e m p a t : FZA Kanzleistrasse, Kanzleistrasse 24, 8405 Winterthur<br />
T e m a :    Iman, Islam, Ihsan<br />
Penyampai Materi : Desrial Anwar (bang Aal)</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Tiga hal mendasar yang harus dipahami sebaik mungkin adalah Iman, Islam, Ikhsan (tiga-i). Arti peribahasa, benar-benar mengerti dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Hadist mengenai Iman, Islam, Ikhsan turun salah satunya karena pada masa sahabat nabi enggan bertanya pada Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tentang urusan agama. </font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Sebelumnya para sahabat sering bertanya hingga ke hal-hal kecil. Hingga Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan, ”Kamu (para sahabat) lebih tahu urusan duniamu, urusan dunia tidak perlu bertanya kepada Rasul”.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Setelah sekian lama para sahabat tidak bertanya kepada Rasul, Allah mengutus malaikat Jibril dalam suatu majelis. Jibril bertanya tentang iman, islam, ikhsan kepada Rasul. Rasul menjawab dan kemudian Jibril membenarkan pernyataan Rasul. </font></p>
<p><span></span></p>
<p><span><strong><font size="2"><font face="Arial">Apakah Iman itu?</font></font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">1.<span>  </span>Iman terangkum dalam rukun iman, yaitu: Rukun Iman ada enam (6) perkara :</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">(1) Beriman kepada ALLAH subhanahu wa ta’ala</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">(2) Beriman kepada Malaikat-malaikat</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">(3) Beriman kepada Kitab-kitab</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">(4) Beriman kepada Rasul-rasul</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">(5) Beriman kepada Hari Kiamat</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">(6) Beriman kepada Qada dan Qadar</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">2. Islam<span>  </span>Rukun Islam ada lima (5) perkara :</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">(1) Mengucap dua kalimah syahadat<br />
</font><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">(2) Sholat lima waktu<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">(3) Berpuasa sebulan dalam bulan Ramadhan<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">(4) Menunaikan haji ke Baitullah (Mekah)<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">(5) Menunaikan zakat</font></font></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><span lang="EN-GB"></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">3. Ikhsan arti dalam Bahasa Indoneseia adalah perbuatan baik. Hendaknya engkau berbuat sesuatu seakan-akan engkau melihat Allah. Bila tidak bisa, yakinlah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melihat mu.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Pembahasan Iman</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Kebanyakan orang menilai, apakah seseorang beriman, hanya dari ibadah ritual atau perbuatan baik yang dikerjakannya. Makna dari Iman: percaya kepada Allah, bila perbuatan baik tidak didasari bahwa semua hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang akan memberkan ganjaran pahala otomatis, maka semua perbuatan baik tersebut akan sia-sia dimata Allah subhanahu wa ta’ala.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">1. Beriman kepada Allah </font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Artinya seseorang betul-betul yakin bahwa Allah Ar-Rahmaan dan<span>  </span>Ar-Rahiim. Selain itu, ia yakin bahwa Allah Al-Aziiz (Maha Perkasa) dan Al Jabbaar (kehendakNya tidak dapat diingkari) sehingga seseorang tidak menggampangkan Allah dan ia yakin bila melakukan perbuatan salah dan tidak bertobat maka akan ada perhitungan di hari akhir. Kondisi sengsara penduduk neraka: saat mereka meminta belas kasihan kepada Allah“. Ya Allah, panjangkanlah umur kami,kembalikan kami ke dunia, kami akan melakukan yang terbaik.“. Allah menjawab,“karena dulu Kami memberi kesempatan untuk hidup, kamu melupakan ayat-ayat Kami, pesan-pesan Kami, ajaran-ajaran Kami, maka hari ini kamu dilupakan“.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Salah satu cara untuk menambah keimanan kita adalah dengan mengenal Allah. Ini dapat dilakukan dengan cara memahami sifat-sifat Allah (Asmaul Husna). Contoh: Ar-Raafi’ artinya Maha Meninggikan, Al Khafiidh artinya Maha Merendahkan.</font></font></span></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span><span><strong><font size="2"><font face="Arial">2. Beriman kepada malaikat</font></font></strong></span></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Dalam Islam, Iman kepada malaikat adalah salah satu rukun Iman. Iman kepada malaikat adalah percaya dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa malaikat Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar ada. Keberadaan malaikat bersifat gaib, artinya tidak dapat dilihat oleh mata tetapi keberadaannya dapat diketahui dan dipahami, seperti adanya wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul. Para nabi dan rasul<span>  </span>menerima wahyu melalui perantara malaikat Allah subhanahu wa ta’ala.</font></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Jumlah malaikat sangat banyak, tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, ada 10 malaikat yang wajib diimani oleh kita sebagai muslim. Sepuluh malaikat tersebut mempunyai<span>  </span>beserta tugasnya adalah sebagai berikut:<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Jibril<span>     </span>Menyampaikan wahyu kepada para rasul dan nabi<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Mikail<span>   </span>Membagi rezeki kepada semua makhluk, termasuk memberi makan, minum, dan menurunkan hujan<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Izrail<span>     </span>Mencabut roh atau nyawa semua makhluk apabila sudah tiba saatnya.<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Israfil<span>    </span>Meniup sangkakala (terompet) jika telah sampai saatnya hari kiamat.<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Raqib<span>    </span>Mencatat setiap kebaikan dan amal baik manusia<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Atid<span>      </span>Mencatat setiap kejahatan dan amal buruk manusia<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Munkar dan Nakir<span>          </span>Memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada orang yang ada dalam kubur<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Malik<span>    </span>Menjaga pintu neraka<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ridwan<span> </span>Menjaga pintu syurga</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Malaikat penjaga neraka terdapat dalam Q.S At- Tahrim ayat<span>  </span>6:</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah subhanahu wa ta’ala terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“. </font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">3. Beriman kepada kitab</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Kita mengimani bahwa Taurat, Zabur, Injil adalah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Qur’an. Percaya kepada Kitab-Kitab Allah<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">1.<span>      </span>Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s,<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">2.<span>      </span>Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s,<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">3.<span>      </span>Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s,<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">4.<span>      </span>Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk lebih tahu mengenai isi Al Quran. Tidak hanya membaca, tetapi mengetahui isinya dan mengamalkannya. Salah satu contoh berapa besar keimanan kita adalah dengan menjalankan ibadah puasa lebih dari 14 jam. Allah subhanahu wa ta’ala sudah memberikan solusi sejak Al Quran diturunkan mengenai pelaksanaan puasa dalam Q.S:2. Al Baqarah ayat 184:</font></font></span></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan</span><sup><span lang="EN-GB">[114]</span></sup><span lang="EN-GB">, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2"><font face="Arial"><sup><span>[114]</span></sup> Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.</font></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p><font size="2" face="Arial">Ada beberapa kondisi yang mempengaruhi seseorang ketika menjalankan puasa. Kondisi umum yaitu puasa. Kondisi individu (badan) contoh: hamil, menyusui, bepergian, manula mendapatkan keringanan saat puasa. Kondisi global: tidak mampu berpuasa dalam waktu lama (lebih dari 14 jam, kondisi secara umum membuat seseorang tidak mampu berpuasa). Membayar fidyah sebanyak hari tidak mampu puasa dan mengganti puasa di hari lain.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Barang siapa melebihkan ibadahnya, hendaklah puasa itu lebih baik bagimu. Hikmah hitungan puasa tidak mengacu pada bulan tertentu adalah: kita dapat merasakan betapa besar rahmat Allah subhanahu wa ta’ala bila berpuasa di bulan Januari (contoh: di benua Eropa). Disisi lain menyadari bahwa orang miskin yang menahan lapar dan haus tidak hanya di musim dingin tapi ada juga di musim panas. Orang beriman benar-benar menyadari bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang terbaik untuknya tanpa mengurangi haknya. Jadikanlah Allah subhanahu wa ta’ala sebagai teman tempat mencari solusi, mencari inspirasi berdasarkan keimanan kita. Sebesar iman kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebesar itu pula solusi yang kita dapatkan sesuai kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.</font></p>
<p><span><strong><font size="2"><font face="Arial">4. Beriman kepada Nabi</font></font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Nabi adalah seorang manusia biasa yang mendapat keistimewaan, yakni menerima wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Diantara para nabi ada yang diamanatkan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada umat manusia. Nabi yang demikian disebut Rasul.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Semua nabi dan rasul biasanya diperlengkapi dengan mukjizat, yaitu perbuatan luar biasa yang dapat dilakukan para nabi dan rasul. Biasanya digunakan untuk membuktikan diri mereka sebagai nabi atau rasul. Semua rasul adalah nabi tapi tidak semua nabi adalah rasul. Ada 25 nabi dan rasul yang wajib kita ketahui sebagai umat Muslim. Nama-nama 25 nabi dan rasul tsb tertera dalam Al-Quran. Berikut adalah nama-nama mereka:</font></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">1.<span>         </span>Adam AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">2.<span>         </span>Idris As<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">3.<span>         </span>Nuh AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">4.<span>         </span>Hud AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">5.<span>         </span>Shaleh AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">6.<span>         </span>Ibrahim AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">7.<span>         </span>Ismail AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">8.<span>         </span>Luth AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">9.<span>         </span>Ishaq AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">10.<span>       </span>Ya&#8217;qub AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">11.<span>       </span>Yusuf AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">12.<span>       </span>Ayyub AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">13.<span>       </span>Zulkifli AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">14.<span>       </span>Syu&#8217;aib AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">15.<span>       </span>Musa AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">16.<span>       </span>Harun AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">17.<span>       </span>Daud AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">18.<span>       </span>Sulaiman AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">19.<span>       </span>Ilyas AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">20.<span>       </span>Ilyasa AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">21.<span>       </span>Yunus AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">22.<span>       </span>Zakaria AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">23.<span>       </span>Yahya AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">24.<span>       </span>Isa AS<br />
</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">25.<span>       </span>Muhammad SAW</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak hanya mengetahui nama-nama nabi dan rasul tapi berusaha mengetahui, mendalami secara detil sejarah para nabi dan rasul sehingga dapat mengambil intisari kisah nabi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.</font></font></span></span><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span><span><strong><font size="2"><font face="Arial">5. Beriman kepada hari akhir </font></font></strong></span></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Semua agama mengenal konteks ganjaran dosa dan pahala. Beriman kepada hari akhir yakni beriman kepada adanya kebangkitan dan dihimpunkannya manusia. Beriman dengan hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal). Allah subhanahu wa ta’ala menghitung amal setiap manusaia berdasarkan amal yang mereka lakukan di dunia. Barang siapa termasuk ahli tauhid dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta rasulNya, ia akan mendapatkan perhitungan yang mudah dan ringan. Sebaliknya siapa termasuk ahli syirik dan maksiat akan mendapati hisab yang sulit dan berat. Bila seseorang yakin akan hari akhir maka ia tidak akan menyakiti hamba Allah lainnya.</font></p>
<p><span></span></p>
<p><span><strong><font size="2"><font face="Arial">6. Beriman kepada takdir</font></font></strong></span></p>
<p><font size="2"><font face="Arial">Takdir terbagi atas qadar (rumusan Allah subhanahu wa ta’ala) dan qodlo (ada usaha manusia). Apakah seseorang yang masuk surga atau neraka sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala? Jawabannya adalah sudah. Allah subhanahu wa ta’ala sudah mentakdirkan rumusan bahwa mereka yang berbuat baik akan masuk surga dan mereka yang berbuat jahat akan masuk neraka. Masuknya seseorang ke dalam surga atau neraka sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah memberikan kepada manusia dua pilihan/jalan yaitu baik dan buruk. Bila Allah subhanahu wa ta’ala memaksa seseorang berbuat baik artinya Allah subhanahu wa ta’ala tidak adil. <span lang="EN-GB">Contoh, apabila seseorang berbuat satu kesalahan maka akan timbul satu bisul. Bila melakukan banyak kesalahan akan tumbuh banyak bisul artinya Allah subhanahu wa ta’ala memaksa hambanya untuk berbuat baik dan tidak sesuai dengan sifat Allah subhanahu wa ta’ala<span>  </span>yang Maha Adil.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Dalam suatu pengajian pernah ada pertanyaan, Allah Maha Segalanya, kenapa Allah subhanahu wa ta’ala tidak membasmi habis setan dan iblis? Allah berjanji kepada iblis yang ingkar kepada Allah dan tidak mau sujud kepada Adam.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Allah tidak menghancurkan iblis begitu saja. Bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menilai kita dari usaha yang kita lakukan? tidak ada jihad.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Sebuah hadist, Rasul bertanya kepada sahabat,” Siapa yang ingin masuk surga?” Sahabat menjawab, “mau.” Nabi menjawab,” Semua umatku masuk surga kecuali yang enggan masuk. Bagi mereka yang mematuhi ajaran yang aku bawa, dia akan masuk surga tapi yang tidak mematuhi ajaranku (enggan masuk surga).”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ciri orang beriman terdapat dalam Q.S(8). Al Anfaal ayat 2: </font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></span><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman</span><sup><span lang="EN-GB">[594]</span></sup><span lang="EN-GB"> ialah mereka yang bila disebut nama Allah</span><sup><span lang="EN-GB">[595]</span></sup><span lang="EN-GB"> gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[594]</span></sup><span lang="EN-GB"> <span> </span>Maksudnya: orang yang sempurna imannya.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[595]</span></sup><span lang="EN-GB"> dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ciri orang beriman yang tingkatnya lebih tinggi terdapat dalam Q.S(2) Al Baqarah ayat 2 -5:<br />
</font></font></span><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">1. Alif laam miin</span><sup><span lang="EN-GB">[10]</span></sup><span lang="EN-GB">.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">2. Kitab</span><sup><span lang="EN-GB">[11]</span></sup><span lang="EN-GB"> (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa</span><sup><span lang="EN-GB">[12]</span></sup><span lang="EN-GB">,<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">3. (yaitu) mereka yang beriman</span><sup><span lang="EN-GB">[13]</span></sup><span lang="EN-GB"> kepada yang ghaib</span><sup><span lang="EN-GB">[14]</span></sup><span lang="EN-GB">, yang mendirikan shalat</span><sup><span lang="EN-GB">[15]</span></sup><span lang="EN-GB">, dan menafkahkan sebahagian rezki</span><sup><span lang="EN-GB">[16]</span></sup><span lang="EN-GB"> yang Kami anugerahkan kepada mereka.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu</span><sup><span lang="EN-GB">[17]</span></sup><span lang="EN-GB">, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat</span><sup><span lang="EN-GB">[18]</span></sup><span lang="EN-GB">.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung</span><sup><span lang="EN-GB">[19]</span></sup><span lang="EN-GB">.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[10]</span></sup><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB">Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.<br />
</span><span lang="EN-GB"></span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[11]</span></sup><span lang="EN-GB"> Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[12]</span></sup><span lang="EN-GB"> Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[13]</span></sup><span lang="EN-GB"> Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[14]</span></sup><span lang="EN-GB"> Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. percaya kepada yang ghjaib yaitu, mengi&#8217;tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[15]</span></sup><span lang="EN-GB"> Shalat menurut bahasa &#8216;Arab: doa. Menurut istilah syara&#8217; ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu&#8217;, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[16]</span></sup><span lang="EN-GB"> Rezeki: segala yang dapat diambil manfaatnya. menafkahkan sebagian rezeki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzekikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari&#8217;atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[17]</span></sup><span lang="EN-GB"> Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada p</span></font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">ara rasul. Allah menurunkan kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada rasul.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[18]</span></sup><span lang="EN-GB"> Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. akhirat lawan dunia. kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.<br />
</span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><sup><span lang="EN-GB">[19]</span></sup><span lang="EN-GB"> Ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah mengusahakannya.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">ISLAM:</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Menjadi orang Islam, orang harus bersyahadat dulu. Islam terangkum dalam rukun islam yaitu:</font></font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">1. Mengucap dua kalimat syahadat</font></font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">2. Sholat <city w:st="on"></city>lima waktu: perwujudan dengan mendirikan sholat lima waktu dalam hal ini wajib. Bila seseorang tidak melakukan sholat, otomatis sudah tidak dikatakan Islam secara hukum. </font></font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">3. Berpuasa sebulan dalam bulan Ramadhan</font></font></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">4. Menunaikan zakat: mampu, berkecukupan 2,5% setiap tahun</font></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">5. Menunaikan haji ke Baitullah (Mekah).</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Haji dalam sisi hukum menurut Imam Syafi’i adalah kewajiban segera mengingat kita tidak mengetahui sampai dimana usia kita. Mampu dalam hal materi dan kesiapan mental. Alangkah sempurnanya orang pergi haji bila syahadatnya kuat, artinya semua urusan kembali kepada Allah.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><strong><font size="2"><font face="Arial">IHSAN</font></font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">oleh Alm. Ustadz Rahmat Abdullah</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">http://happyaisyah.multiply.com/reviews/item/7</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">dakwatuna.com &#8211; Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril —yang menyamar sebagai seorang manusia— mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah swt. memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">“Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS. An-Nahl: 90)</font></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Pengertian Ihsan</font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah swt. berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (Al-Isra’: 7)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">“Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (QS. Al-Qashash: 77)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah swt.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Landasan Syar’i Ihsan</font></p>
<p><span lang="EN-GB"></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Pertama, Al-Qur`anul Karim</font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">“Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS An-Nahl: 90)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">“… serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….” (QS. Al-Baqarah: 83)</font></p>
<p><font size="2"><font face="Arial">“Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu….” <span lang="EN-GB">(QS. An-Nisaa`: 36)</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Kedua, As-Sunnah</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"></span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan —ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.” (HR. Muslim)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Tiga Aspek Pokok dalam Ihsan</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. </span>Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.</font></font></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">1. Ibadah</font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. </span>Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”</font></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.</font></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Tingkatan Ibadah dan Derajatnya</font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Berdasarkan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang pada setiap tingkatan derajatnya masing-masing seorang hamba tidak dapat mengukurnya. Karena itulah, kita berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat, ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, ia menempati Jannatul Firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak, para penghuni surga tingkat bawah akan saling memandang dengan penghuni surga tingkat tertinggi, laksana penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang menandakan jauhnya jarak antara mereka.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">1. Tingkat at-Takwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajat yang berbeda-beda.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">2. Tingkat al-Bir, yaitu tingkatan menengah dengan derajat yang berbeda-beda.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">3. Tingkat al-Ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dengan derajat yang berbeda-beda pula.</font></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Pertama, Tingkat Takwa</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Tingkat takwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Muttaqun, sesuai dengan derajat ketakwaan masing-masing.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Takwa akan menjadi sempurna dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah dapat mengakibatkan sanksi dan melakukan salah satu larangannya adalah dosa. Dengan demikian, puncak takwa adalah melakukan seluruh perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.</font></p>
<p><font size="2"><font face="Arial">Namun, ada satu hal yang harus kita pahami dengan baik, yaitu bahwa Allah swt. Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang memiliki berbagai kelemahan, yang dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. <span lang="EN-GB">Oleh karena itu, Allah membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara tobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut, Allah swt. akan mengampuni hamba-Nya yang berdosa karena kelalaiannya dari menunaikan hak-hak takwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik pada peringkat puncak takwa, boleh jadi ia akan naik pada peringkat bir atau ihsan.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Peringkat ini disebut martabat takwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang menjaga dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar yang diterima oleh Allah swt.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Kedua, Tingkat al-Bir</font></strong></span></p>
<p><font size="2"><font face="Arial">Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Abrar. <span lang="EN-GB">Hal ini sesuai dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah swt. hal ini dilakukan setelah mereka menunaikan segala yang wajib, atau yang ada pada peringkat sebelumnya, yaitu peringkat takwa.</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Peringkat ini disebut martabat al-Bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuatu sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang diharamkan-Nya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala di dalamnya.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Akantetapi, mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam kelompok al-bir, kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama, yaitu peringkat takwa. Karena, melakukan hal pertama merupakan syarat mutlak untuk naik pada peringkat selanjutnya.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Dengan demikian, barangsiapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang dia tidak mengimani unsur-unsur kaidah iman dalam Islam, serta tidak terhindar dari siksaan neraka, maka ia tidak dapat masuk dalam peringkat ini (al-bir). Mengenai hal ini, Allah swt. berfirman dalam kitab-Nya, “Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaikan itu adalah takwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. l-Baqarah: 189)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 193)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Ketiga, Tingkatan Ihsan</font></strong></span></p>
<p><font size="2"><font face="Arial">Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. <span lang="EN-GB">Mereka adalah orang-orang yang telah melalui peringkat pertama dan yang kedua (peringkat takwa dan al-bir).</span></font></font><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna —seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya– maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, selama hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk melakukannya.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Untuk dapat naik ke martabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah, serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah swt.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">2. Muamalah</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Allah swt. menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumr lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 23-24)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ayat di atas mengatakan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar dengan ibadah kepada Allah.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. bersabda, “Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan keislaman.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Kedua, Ihsan kepada kerabat karib</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah swt. menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak di muka bumi. Allah berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan hubunganku dengannya.” (HR. Turmudzi)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni dan Abu Dawud)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Diriwayatkan oleh Turmudzi, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa —dari Kaum Muslimin— yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim; sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya, “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang tidak beriman, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Syaikhani)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. Ath-Thabrani)</font></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya</font></strong></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2"><font face="Arial"><span lang="EN-GB">Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” </span>(HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)</font></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya, Rasulullah?” Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya membuat makanan untuk salah seorang di antara kamu, kemudian ia datang membawa makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu mempersilakannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka hendaklah kamu memberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan Abi Daud)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pribadinya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Pada akhir pembahasan mengenai bab muamalah ini, Allah swt. menutupnya firman-Nya yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj: 38)</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><font size="2" face="Arial">Ayat di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah swt.</font></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Masih riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “Ucapan yang baik adalah sedekah.”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Inilah sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">Beberapa contoh ihsan dalam hal muamalah</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw., yaitu Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya. Kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw. berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akantetapi, Rasulullah malah berkata, “Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya perempuannya, “Kipasilah aku sampai aku tertidur.” Lalu, hambanya pun mengipasinya sampai Umar tertidur. Karena sangat mengantuk, sang hamba pun tertidur. Ketika Umar bangun, beliau mengambil kipas tadi dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba sahaya itu terbangun, maka ia pun berteriak menyaksikan tuannya melakukan hal tersebut. Umar kemudian berkata, “Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini kepadamu, sebagaimana engkau melakukannya padaku.”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 6pt 0cm" class="0subjudul"><span lang="EN-GB"><strong><font size="2" face="Arial">3. Akhlak</font></strong></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”</font></font></span><span lang="EN-GB"><font size="2" face="Arial"> </font></span></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt. mengambil ruh ini dari kita. </font></font></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><span lang="EN-GB"><font size="2"></font></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt" class="MsoBodyText"><span lang="EN-GB"><font size="2"><font face="Arial">Wallahu a’lam bish-shawwab.</font></font></span></p>
<div class="photosmash_gallery"><div class='bwbps_gallery_div' id='bwbps_galcont_11'>
			<table><tr><td><ul id='bwbps_stdgal_11' class='bwbps_gallery'><li class='psgal_11' style='height: 115px; margin: 15px 0;'><img alt='' 	src='http://www.pengajian-indonesia.ch/wp-content/plugins/photosmash-galleries/images/ps_blank.gif' width='1' height='100' /></li></ul>
				</td></tr></table>
				</div>
				</div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|11';
			</script>
		]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pengajian-indonesia.ch/2009/04/05/percikan-iman-24-agustus-2008-iman-islam-ihsan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

